Berita Viral

Pakar ITB Sebut Tiga Faktor Utama Penyebab Banjir Bandang di Sumut, Sumbar, dan Aceh

Banjir bandang di Sumatera pada akhir November 2025 merupakan hasil dari kombinasi faktor alam dan keserakahan manusia.

Editor: AbdiTumanggor
TANGAKAPAN LAYAR KOMPAS.COM/ANTARA FOTO/YUDI MANAR
Warga mengamati sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). Sampah kayu gelondongan tersebut menumpuk di pemukiman warga dan sungai pasca banjir bandang pada Selasa (25/11/2025). (TANGAKAPAN LAYAR KOMPAS.COM/ANTARA FOTO/YUDI MANAR) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Banjir bandang di Sumatera pada akhir November 2025 merupakan hasil dari kombinasi faktor alam dan keserakahan manusia.

Para pakar dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan bahwa bencana ini merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor atmosfer, kondisi geospasial, dan kapasitas tampung wilayah.

Kondisi atmosfer yang ekstrem, fenomena siklon tropis, serta perubahan penggunaan lahan yang mengurangi kapasitas serapan air menjadi penyebab utama bencana ini.

Upaya mitigasi yang efektif harus melibatkan pendekatan multidisipliner, termasuk pengelolaan lingkungan, perencanaan tata ruang, dan teknologi peringatan dini.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan risiko bencana banjir bandang dapat diminimalkan dan dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi secara signifikan.

Dr. Muhammad Rais Abdillah, S.Si., M.Sc., ahli dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, menjelaskan bahwa wilayah Sumatera bagian utara sedang berada pada puncak musim hujan.

Wilayah ini memiliki pola hujan sepanjang tahun dengan kemungkinan dua puncak musim hujan dalam satu tahun.

Saat ini, wilayah Tapanuli sedang mengalami puncak musim hujan tersebut.

BMKG mencatat curah hujan ekstrem di wilayah tersebut, dengan intensitas lebih dari 300 milimeter dalam satu hari.

Sebagai perbandingan, curah hujan ekstrem di Jakarta saat banjir besar pada Januari 2020 mencapai sekitar 370 milimeter dalam satu hari.

Warga mengamati sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga
Warga mengamati sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). Sampah kayu gelondongan tersebut menumpuk di pemukiman warga dan sungai pasca banjir bandang pada Selasa (25/11/2025). (TANGAKAPAN LAYAR KOMPAS.COM/ANTARA FOTO/YUDI MANAR)

Fenomena Siklon Tropis Senyar dan Vortex

Pada tanggal 24 November, mulai terlihat sistem berputar (vortex) dari Semenanjung Malaysia yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di sekitar Selat Malaka.

Siklon ini bergerak ke arah barat dan meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, serta memperluas cakupan presipitasi di Sumatera bagian utara.

Dr. Rais juga mengungkapkan adanya pengaruh fenomena atmosfer skala meso dan sinoptik, seperti vortex siklonik dan cold surge vortex, yang membawa angin kuat dari utara dengan massa udara lembap.

Kondisi ini memperbesar intensitas hujan dan risiko banjir di wilayah tersebut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved