Sketsa
Siapa Bisa Jauhkan Presiden dari Mikropon?
"Alamak, masuk akal juga, ya," sahut Riki Rikardo. "Udah banyak kali memang blunder-blundernya. Sekali pidato bisa bikin dua-tiga kali blunder.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
SKETSA
Kocokan gitar Leman Dogol yang ditingkahi ketukan koin lima ratusan pada permukaan meja oleh Riki Rikardo untuk mengiringi nyanyian Idam Marley seketika terhenti. Tidak ada lagi lagu tentang Veronika. Dari balik steling, Ocik Nensi berteriak, meminta ketenangan, lantaran ia ingin mendengarkan pidato Presiden Prabowo. Persisnya, rekaman pidato Presiden Prabowo, lewat YouTube.
"Alah, udah bolak-balik Ocik tonton video itu. Kemaren-kemaren nengok di TikTok, di IG, sekarang di Yutup pulak. Untuk apa lagi, Cik? Kek gitu jugak yang dibilangnya, gak akan berubah," seru Leman.
"Cumak mo pastikan aja, Man. Siapa tahu aku yang salah dengar."
"Salah dengar cemana, Cik?" tanya Idam pula.
"Agak-agak bengak aja kurasa. Keknya gak mungkin, lah, presiden ngomong gitu," ucap Ocik Nensi seraya meninggikan volume suara ponselnya.
"Kita dengarlah sama-sama, ya. Mana tahu memang salah dengar semua kita."
'Entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dolar begini. Rakyat di desa gak pakai dolar kok. Pangan aman. Energi aman. Banyak negara panik Indonesia masih oke.'
Ocik Nensi menghempas napas. "Oijang, betul ternyata, ya. Gak salah dengar," ucapnya.
Nun dari ujung meja, Jontra Polta yang sedang menonton drama china tertawa terbahak.
"Kok kayak sedih gitu suara Ocik? Apa yang Ocik harap rupanya? Mo Bapak itu ngomong kek Habibie?"
Ucok Morning yang duduk di sebelahnya ikut tertawa.
"Bah, Habibie? Serius sikit, lah, kau, Jon. Carik yang gak jauh-jauh kali perbandingannya gitu. Kalok dengan Habibie, ya, gak apa itu istilahnya? Apple to apple? Ini ibarat Lewis Hamilton sama sopir angkot."
"Alamak, kayak langit sama dasar sumur bor!"
"Palung Mariana!"
Tawa meletup berderai-derai di kedai Tok Awang. Ocik Nensi tersungut, bangkit dari duduknya, lalu melangkah kembali ke balik steling.
"Tapi sebetulnya gak salah-salah kali jugak, lah, yang dibilangnya itu," ujar Ucok Morning setelah tawanya reda.
"Gak salah kali cemana maksud, Ketua?" sergah Idam Marley.
"Iya, memang gak ada ngaruh dolar kalok di desa."
"Ah, udah lari jugak ketua ini keknya. Ngaruh jugak, lah, Ketua. Ngaruh kali pun. Kan di desa-desa ada jual beli jugak. Ada perputaran duit. Yang bertani, yang berkebun berladang, kan, harus belik bibit, belik pupuk. Kalok dolar naik, harga pupuk sama bibit ikut naik, kan? Belum lagi transportasi. Kereta, mobil, pikap, traktor, semua pakek minyak. Cemana pulak ceritanya gak ada pengaruh?"
Ucok Morning mengangkat kedua tangannya. "Sabar, sabar, Dam. Atur napas kau dulu. Tiba-tiba putus bisa gawat kita. Sepengetahuan awak ini, ya, di desa itu, maksudnya orang-orang desa, gak perlu pakek duit kalok mau dapat barang. Mereka tukaran. Beras tukar jagung, jagung tukar ubi, ubi tukar ayam, ayam tukar beras, gitu terus. Kalok pun ada alat bayarnya, memang gak pakek duit kertas. Mereka pakek tempurung kelapa. Trus, yang bersawah, berladang berkebon, bibitnya ya diproduksi sendiri. Pupuknya pupuk kandang. Transportasi? Mana pulak perlu minyak. Ke mana-mana orang tu naek kerbo, atau kuda, atau gajah. Kadang-kadang naik elang."
"Alamak!"
"Kalau halu jangan, lah, kelewatan kali, Ketuaku," kata Riki Rikardo menimpali.
Ucok Morning tertawa. "Siapa pulak yang halu, Ki. Aku tengok sendiri dengan mata kepalaku."
"Di mana?" tanya Idam Marley, Leman Dogol, dan Riki Rikardo nyaris bersamaan.
"Di tivi. Film Angling Darma."
Jontra Polta tergelak. "Taik, lah, Ketua! Udah nggak enak memang dari tadi perasaanku. Ujung-ujungnya pasti tak beres!"
"Kelen pulaknya serius kali. Pakek mo banding-bandingkan pulak sama Habibie. Ya, memang jauh kali, lah. Habibie, ingat kelen, pas krisis moneter taon 98, apa aja yang dia bikin? Ada proyek kebanggaannya, bikin pesawat, dia stop itu. Nah Bapak ini, udah tahu dolar melejit, suku bunga turun, proyek-proyeknya yang gak beguna, EmBeGe, koperasi-koperasian, jalan terus. Malah mo mintak dibikinkan mobil kaca pulak. Gak sekalian sama sepatunya biar kayak Cinderella."
"Tapi memang harus serius dibahas ini, Cok," seru Ocik Nensi. "Apa-apa mahal sekarang. Gula mahal. Kopi mahal. Susu kental manis ikut-ikutan naik. Mo awak naikkan harga lari pulak kelen ke kede sebelah."
Leman Dogol, sembari merambas-rambas senar gitar, menyeletuk. "Kalok ini Ocik tenang saja. Kami gak bakal geser ke sebelah. Di sana gak bisa ngutang."
"Tapi bay de we, aku kok ya justru lebih resah sama Bapak itu," lanjut Leman. "Sama pidato-pidatonya. Jangan-jangan, ada hubungannya antara pidato dia sama dolar ini. Tiap kali dia selesai pidato, naik juga barang itu."
"Alamak, masuk akal juga, ya," sahut Riki Rikardo. "Udah banyak kali memang blunder-blundernya. Sekali pidato bisa bikin dua-tiga kali blunder. Pernah dia bilang, koruptor kalok kembalikan uang hasil jarahan bisa dipertimbangkan untuk dimaafkan. Cemana lah itu cobak. Apa dia gak sadar kalok yang disarankannya itu melanggar hukum. Kaco kali, ah."
"Jadi cemana, lah, ini solusinya, ya?" tanya Jontra Polta. "Ada usul, Ketua?"
Ucok Morning mengangkat bahu. Leman Dogol, Riki Rikardo, Idam Marley, saling berpandangan, lalu mengangkat bahu.
Dari balik steling, Ocik Nensi menyeletuk.
"Jangan kasih Bapak itu mikropon lagi. Jangan kasih pidato lagi. Kerna bukan cumak harga dolar yang naek. Konon tiap belio pidato, hari kiamat maju satu hari."
Tawa meletup berderai-derai lagi. (t agus khaidir)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SKETSA-Siapa-Bisa-Jauhkan-Presiden-dari-Mikropon-_.jpg)