Berita Medan

Saat Tubuh Harus Berjuang, Tari Artika Pilih Menata Hidup Lewat Usaha Rumahan

Sedikit demi sedikit, ia mencoba menata ulang hidupnya melalui usaha rumahan yang kini menjadi ruang bertahan sekaligus tempatnya memulihkan semangat.

Tayang:
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
Tari Artika Tarigan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Tidak pernah terbayang dalam hidup Tari Artika Tarigan bahwa dirinya harus menjalani hari-hari sebagai penyintas penyakit autoimun dan lupus.

Perempuan yang akrab disapa Tata itu dulunya memiliki banyak rencana sederhana tentang masa depan, terutama keinginan untuk mandiri secara finansial demi keluarga kecilnya.

Namun hidup membawanya ke jalan yang berbeda. Di tengah kondisi tubuh yang terus berjuang melawan penyakit, Tata memilih untuk tidak menyerah.

Sedikit demi sedikit, ia mencoba menata ulang hidupnya melalui usaha rumahan yang kini menjadi ruang bertahan sekaligus tempatnya memulihkan semangat.

Tata lahir di Kuala, 22 Agustus 1992. Ia merupakan lulusan STAI Al Washliyah Binjai dan dikenal sebagai sosok yang mudah berteman dengan siapa saja. Ia juga memiliki hobi memasak, sesuatu yang tanpa disadari kemudian menjadi jalan baru dalam hidupnya.

Kini, selain menjadi ibu rumah tangga dengan satu anak, Tata juga menjalankan usaha rumahan melalui sosial media @kedai.ammi.wawa. Berbagai makanan dijualnya secara online, mulai dari dimsum, tahu balek, aneka es hingga teri.

“Aku sekarang ibu rumah tangga, anak satu. Kegiatan sehari-hari sambilan jualan online,” ujarnya.

Mengubah Hobi Memasak Menjadi Sumber Penghasilan dan Ruang Pemulihan Diri

Sebelum sakit, Tata sempat bekerja sebagai staf di Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas. Saat itu, ia memiliki mimpi untuk memiliki penghasilan sendiri dan menabung demi masa depan anaknya.

Namun pada Oktober 2022, hidupnya berubah setelah didiagnosis menderita autoimun anemia aplastik.

Diagnosis itu menjadi pukulan berat bagi Tata. Ia mengaku sempat merasa dunianya gelap dan tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup.

“Pertama kali dengar vonis, rasanya dunia ini gelap. Aku duduk depan rumah sakit sambil diam, tapi pikiran aku cuma, ‘kok bisa? Kok harus aku? Terus gimana aku ke depannya?’,” katanya.

Karena kondisi mental yang saat itu terguncang, Tata akhirnya memutuskan resign dari pekerjaannya.

“Waktu itu lebih mikirin mental yang lagi kacau karena diagnosis sakit. Padahal rencana saat itu pengen mandiri secara materi, biar bisa nabung sedikit-sedikit buat masa depan anak dari hasil kerja sendiri. Tapi ya harus dikubur dulu rencananya,” ujarnya.

Di tengah rasa putus asa itu, ada satu momen yang membuat Tata memilih bangkit.

Saat pulang dari rumah sakit, anaknya yang saat itu masih berusia tiga tahun berlari menyambut sambil memeluknya erat.

“Dia bilang ‘Ammi’ sambil lari peluk aku. Saat itu aku kayak kena sambar petir. Aku mikir, kalau aku nyerah, anak ini bakal kehilangan dunianya,” katanya.

Sejak saat itu, anak menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan menjalani pengobatan dan menghadapi kondisi tubuhnya yang berubah.

“Kalau aku lemah, dia gimana? Ayahnya jauh, jadi aku harus terus belajar kuat dan bertahan,” ujarnya.

Perjalanan Tata ternyata belum selesai. Setelah perlahan mencoba menerima kenyataan hidup dengan autoimun anemia aplastik, cobaan lain kembali datang.

Pada November 2025, ia kembali didiagnosis menderita lupus. Kondisinya semakin berat karena disertai pengeroposan tulang hingga membuatnya sempat kesulitan berjalan.

“Pas aku udah mulai menerima keadaan, aku harus kena kenyataan lagi kalau positif lupus. Ditambah lagi aku mengalami keropos tulang dan obat-obatnya enggak semua di-cover BPJS,” katanya.

Vonis lupus membuat Tata kembali jatuh secara mental. Bahkan menurutnya, fase itu terasa lebih berat dibanding saat pertama kali divonis autoimun anemia aplastik.

“Karena waktu itu kondisi kaki susah jalan. Jadi rasanya balik lagi ke awal pertama divonis, bahkan lebih enggak menerima,” ujarnya.

Selain menghadapi kondisi tubuh yang terus naik turun, Tata juga harus berhadapan dengan proses administrasi pengobatan yang melelahkan.

“Tantangannya ya administrasi BPJS yang harus ke sana ke sini dulu, terus harus ninggalin anak dengan tangisannya,” katanya.

Di tengah kondisi kesehatan yang tidak stabil, Tata berusaha mencari cara agar tetap produktif. Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan atau merasa kehilangan arah hidup.

Dari hobi memasak yang selama ini ia sukai, Tata mulai mencoba berjualan dari rumah. Awalnya ia hanya iseng mencoba, tetapi ternyata dagangannya mendapat respons baik dari pelanggan.

“Awalnya cuma mikir biar ada pemasukan. Karena dari dulu punya uang sendiri, jadi pas enggak kerja dan cuma menerima uang dari suami rasanya hampa,” katanya sambil tertawa kecil.

“Terus iseng coba jualan, eh ternyata malah laris. Jadi makin semangat,” lanjutnya.

Usaha rumahan itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih berarti bagi Tata. Bukan sekadar sambilan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga semangat hidupnya.

“Sekarang mikirnya gimana usaha ini bisa makin melebar, makin banyak pembeli. Jadi belajar juga gimana caranya bikin orang tertarik beli dagangan aku,” katanya.

Karena dijalankan dari rumah, usaha tersebut memberinya fleksibilitas untuk menyesuaikan waktu bekerja dengan kondisi kesehatan.

“Kapan aku mau jualan ya share. Kapan kondisi lagi enggak baik ya tutup dulu,” ujarnya.

Meski begitu, menjalankan usaha sambil hidup dengan penyakit autoimun dan lupus tentu bukan hal mudah.

Ada hari-hari ketika Tata sedang semangat menerima banyak pesanan, tetapi tubuhnya justru mulai melemah dan memaksanya berhenti.

“Kadang pas lagi semangat-semangatnya, eh jadwal transfusi datang. Lagi banyak orderan malah harus rem biar enggak terlalu capek karena kondisi mulai drop,” katanya.

Meski dijalankan dari rumah dengan sederhana, usaha itu perlahan menjadi tempat Tata membangun kembali rasa percaya dirinya setelah sempat kehilangan arah akibat penyakit yang dideritanya.

Pentingnya Menjaga Mental dan Mengelola Stres bagi Pasien Autoimun

Selain menjalankan usaha rumahan, Tata juga aktif membagikan pengalamannya sebagai penyintas anemia aplastik melalui media sosial. Baginya, penyakit tersebut masih cukup asing dan dianggap langka oleh banyak orang.

Melalui media sosial, Tata kerap berbagi cerita tentang obat-obatan yang dikonsumsinya, proses transfusi darah, hingga bagaimana menghadapi gejala-gejala yang muncul akibat penyakit autoimun.

Ia berharap pengalaman pribadinya dapat membantu penyintas lain yang mungkin sedang merasa sendirian menghadapi penyakit serupa.

Bagi Tata, menjaga kondisi mental juga menjadi bagian penting dalam proses pengobatan pasien autoimun. Sebab, stres dan pikiran yang tidak tenang bisa memengaruhi kondisi tubuh.

“Kalau kami stres atau terlalu capek, biasanya badan langsung drop,” ujarnya.

Karena itu, ia kini mulai belajar lebih mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi terlalu memaksakan keadaan.

Jika dulu ia terlalu memikirkan perasaan orang lain, kini ia mulai belajar memberi ruang untuk dirinya sendiri.

“Dulu aku paling enggak bisa nolak permintaan orang lain walaupun sebenarnya hampir enggak mampu. Sekarang aku lebih peduli sama perasaan aku. Bukan egois, tapi lagi belajar menghargai diri sendiri,” katanya.

Tata mengatakan, menerima penyakit bukan berarti menyerah. Justru dengan menerima kondisi tersebut, ia merasa hidup menjadi lebih ringan untuk dijalani.

“Awal diagnosis itu perjuangan paling berat. Pertanyaan ‘kenapa harus aku ya Allah?’ sering muncul,” katanya.

“Tapi jawabannya cuma satu, karena kita kuat makanya Allah pilih kita,” lanjut Tata.

Di balik segala perjuangan itu, Tata mengaku bersyukur memiliki keluarga yang selalu hadir membantunya.

Saat kontrol ke rumah sakit, orang tuanya siap menjaga anaknya. Jika orang tua berhalangan, kakak iparnya akan menggantikan. Ketika harus rawat inap, adik-adiknya juga selalu datang membantu menyiapkan kebutuhan.

“Pas aku butuh, mereka selalu ada,” katanya.

Dukungan juga datang dari sang suami yang meski tidak selalu bisa hadir secara fisik, tetap berusaha memenuhi kebutuhan Tata selama menjalani pengobatan.

“Suami juga selalu dukung. Walaupun dia jauh, apa pun yang aku perlu dia siap kasih,” ujarnya.

Pentingnya Periksa Kesehatan Sejak Dini

Di balik perjalanan panjang menghadapi autoimun dan lupus, Tata juga ingin menyampaikan satu hal penting kepada masyarakat, jangan takut memeriksakan kesehatan sejak dini.

Menurutnya, masih banyak orang yang menghindari pemeriksaan kesehatan karena takut mengetahui penyakit yang diderita. Padahal, semakin cepat suatu penyakit terdeteksi, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

“Stop bilang takut periksa kesehatan karena takut ketahuan sakitnya. Cepat ketahuan, cepat ditindak, cepat dikasih obat yang tepat,” ujarnya.

Ia menilai deteksi dini sangat membantu dokter dalam menangani pasien secara maksimal, terutama untuk penyakit autoimun yang sering kali gejalanya tidak disadari sejak awal.

Selain itu, Tata juga berharap masyarakat dapat lebih memahami kondisi para penyintas autoimun. Sebab, tidak semua penyakit terlihat secara fisik.

“Orang sering sepele pas lihat aku segar. Dipikir sakit main-main karena enggak kelihatan sakit,” katanya.

Padahal, lanjut Tata, di dalam tubuh penyintas autoimun terjadi “perang” yang tidak terlihat oleh orang lain.

“Autoimmune itu penyakit yang akan terus ada selama kami hidup. Ada yang kelihatan secara fisik, ada juga yang enggak kelihatan sama sekali kayak aku. Tapi di dalam tubuh, autoimmune terus menyerang,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat tidak mudah menghakimi penyintas penyakit kronis sebagai orang yang berlebihan saat mengeluhkan rasa lelah.

“Kami bilang badan capek, orang lain bilang lebay. Padahal memang capek,” katanya.

Selain stigma soal kondisi fisik, Tata juga pernah menerima komentar yang cukup melukai hatinya terkait kondisi kesehatannya yang membuat dokter melarangnya hamil lagi.

“Itulah dulu dibilang punya anak rapat-rapat aja malah nunda-nunda,” ucap Tata menirukan komentar seseorang yang masih diingatnya sampai sekarang.

Bagi Tata, kalimat itu sangat menyakitkan karena tidak ada seorang pun yang pernah tahu bahwa pada 2022 dirinya akan didiagnosis sakit dan kemungkinan tidak bisa memiliki anak lagi.

Kini, harapan Tata sederhana. Ia berharap kondisi kesehatannya semakin stabil, frekuensi transfusi berkurang, dosis obat bisa dikurangi, dan hidupnya tidak terus dipenuhi jadwal bertemu dokter spesialis.

“Harapannya enggak muluk-muluk. Minimal transfusi bisa enam bulan sekali aja, dosis obat dikurangi, dan enggak ada lagi banyak dokter spesialis di hidup aku,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Di atas semua itu, ada satu hal yang paling ia syukuri sampai hari ini.

“Aku masih bisa bangun setiap pagi, masih lihat anak aku tumbuh, dan aku masih jadi dunianya,” katanya.

Untuk para perempuan lain yang mungkin sedang berjuang menghadapi penyakit kronis atau masalah hidup lainnya, Tata punya pesan sederhana namun hangat.

“Sayang sama diri sendiri. Kalau capek istirahat, kalau enggak mampu bilang. Jangan sok kuat, dan harus bahagia,” tuturnya.

(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved