Berita Medan

BRIN dan DPR RI Dorong Pengolahan Sampah di Medan, Latih Warga Ubah Jadi Energi

Menurutnya, volume tersebut dapat melonjak hingga lebih dari 6.000 ton per hari pada kondisi tertentu seperti saat bencana banjir.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
PENGOLAHAN SAMPAH- Penyerahan cenderamata dalam pembukaan pelatihan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Medan, Jumat (10/4/2026). Kegiatan ini bertujuan mendorong masyarakat mengolah sampah menjadi energi alternatif bernilai ekonomi. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menggelar pelatihan pemanfaatan sampah menjadi sumber energi di Medan, Jumat (10/4/2026). 

Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengolah sampah menjadi energi alternatif sekaligus menjawab persoalan tingginya volume sampah di Kota Medan.

Pelatihan dibuka Anggota DPR RI, Sofyan Tan, yang menyoroti besarnya produksi sampah di Indonesia, termasuk di Medan.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara penghasil sampah terbesar kedua di dunia setelah China.

“Di Medan saja, produksi sampah pada 2023 mencapai sekitar 2.000 ton per hari, dengan 41 persen merupakan sampah organik,” ujarnya.

Menurutnya, volume tersebut dapat melonjak hingga lebih dari 6.000 ton per hari pada kondisi tertentu seperti saat bencana banjir.

Hal ini menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik.

Sofyan Tan menegaskan bahwa sampah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan. 

Dengan teknologi yang tepat, sampah dapat diolah menjadi energi seperti listrik dan gas, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Ia juga menyinggung keberhasilan pengelolaan sampah di Surabaya pada masa kepemimpinan Tri Rismaharini yang mampu mengubah sampah menjadi energi.

“Pengolahan sampah memang membutuhkan investasi besar, sehingga peran pemerintah daerah sangat penting. Ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi beban TPA,” katanya.

Selain energi, pengolahan sampah juga dapat menghasilkan kompos untuk pertanian dan mendukung produksi pangan organik. Jika diterapkan secara kolektif di tingkat permukiman, pengelolaan sampah dinilai mampu menekan pengeluaran rumah tangga.

Sementara itu, narasumber dari BRIN, Fahruddin Joko Ernanda, memaparkan kondisi persampahan nasional yang masih memprihatinkan. 

Ia menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 35 juta ton sampah per tahun, dengan komposisi sekitar 39 persen sampah organik dan hampir 20 persen berupa plastik.

“Kebanyakan sampah di Indonesia belum terkelola dengan baik. Sejak 2018, beberapa daerah bahkan sudah mengalami darurat sampah. Dampaknya bukan hanya pencemaran lingkungan, tetapi juga gangguan kesehatan dan banjir,” jelasnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved