Medan Terkini

Perjuangan Salwa dari Batang Toru ke UGM, Lolos SNBP di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Dari sebuah desa di Kecamatan Batang Toru, langkah kecil Salwa Ermina Siregar kini membawanya menuju kampus impian, Universitas Gadjah Mada.

|
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
SISWA BERPRESTASI - Salwa Ermina Siregar menunjukkan trofi juara 2 tingkat nasional yang diraihnya pada ajang Sobat Competition 2025, prestasi yang turut mengantarkannya lolos SNBP 2026 ke Universitas Gadjah Mada (UGM). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Dari sebuah desa di Kecamatan Batang Toru, langkah kecil Salwa Ermina Siregar kini membawanya menuju kampus impian, Universitas Gadjah Mada.

Di balik kelulusan melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) 2026, tersimpan kisah perjuangan, keraguan, hingga keberanian seorang anak desa yang tak ingin menyerah pada keadaan.

Salwa, siswi MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, lahir di Sianggunan, 31 Desember 2007. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, di mana kondisi ekonomi sempat menjadi penghalang terbesar untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah.

“Awalnya saya tidak boleh kuliah jauh-jauh,” ujar Salwa, Senin (6/4/2026).

Keinginannya merantau ke Pulau Jawa sempat ditolak orang tua. Namun tekadnya lebih kuat dari rasa ragu.

Dengan keberanian yang ia sebut sebagai “modal nekat”, Salwa tetap mendaftar ke UGM.

Tak disangka, hasil SNBP justru menjadi titik balik. Ia dinyatakan lulus tanpa tes, sekaligus mengubah keraguan orang tuanya menjadi dukungan penuh.

Di balik keberhasilannya, ada perjalanan panjang yang ditempa dari berbagai prestasi. Salwa pernah meraih juara 2 tingkat nasional dalam ajang Sobat Competition 2025 yang digelar oleh United Tractors.

Bersama rekannya, ia tidak hanya membawa pulang trofi dan penghargaan, tetapi juga pengalaman magang yang membuka wawasannya tentang dunia industri.

“Magang di United Tractors jadi pengalaman berharga buat saya,” katanya.

Prestasi demi prestasi itu menjadi bekal penting, tetapi Salwa menyadari jalan menuju pendidikan tinggi tetap tidak mudah. Di tengah kebahagiaan diterima di UGM, ia masih dihantui kekhawatiran soal biaya kuliah.

Harapan itu kemudian ia gantungkan pada Beasiswa Martabe dari PT Agincourt Resources. Beasiswa yang telah berjalan sejak 2017 itu menjadi penyelamat bagi banyak pelajar berprestasi di Tapanuli Selatan dan Padangsidimpuan, termasuk Salwa sejak bangku SMA.

Kini, ia kembali berharap bisa melanjutkan dukungan tersebut saat kuliah nanti.

“Harapan saya bisa tetap mendapatkan beasiswa selama di UGM,” ucapnya.

Bagi Salwa, pendidikan bukan hanya soal mengubah nasib pribadi, tetapi juga tentang kembali memberi. Ia berkomitmen suatu hari nanti bisa berkontribusi bagi daerahnya dan pihak yang telah membantunya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved