TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, menyampaikan tantang perindustrian Indonesia di tengah kekhawatiran perang dunia.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan mahasiswa Universitas Al Washliyah, di Medan, Rabu (11/2/2026).
Perang Rusia dan Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah sebutnya, sangat mempengaruhi rantai pasok industri secara global termasuk di sektor pangan di Indonesia.
Oleh karena itu, presiden sebutnya mencanangkan swasembada pangan.
"Perang masih berlangsung, bahkan belakangan, sebulan terakhir, pemerintah Belanda menginstruksikan kepada seluruh warganya, seluruh warga negara Belanda, untuk mulai menabung, untuk mulai menyimpan bahan makanan dalam waktu yang lama.
Mereka khawatir perang akan meluas bahkan ke Eropa. Pertemuan pemimpin-pemimpin dunia di Davos, beberapa minggu yang lalu, semua sedang membicarakan kemungkinan perang dunia ketiga," kata Faisol.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, pemerintah Indonesia sebut Faisol, tengah menggalakkan program hilirisasi untuk menguatkan industri Indonesia.
Dalam hal ini, pemerintah fokus pada pengelolaan hasil pertanian menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah untuk membantu perekonomian.
Ada beberapa jenis komoditas pangan yang ingin dikembangkan, mulai sawit, kakao ubi, tebu, kentang, komoditi yang banyak didapati Sumut.
"Sekarang sudah mulai banyak perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan dasar rumput laut menjadi bahan baku untuk kebutuhan industri. Begitupun sawit.
Di Medan, termasuk di Sumatra Utara, termasuk kantong dari produksi CPO nasional, karena banyak sekali kebun sawit di Sumatra Utara ini, dan menyumbang banyak sekali perekonomian nasional kita.
Begitu kayanya tanah Sumatra Utara ini, tanah di Medan ini, sehingga mampu menyumbang perekonomian nasional," kata Faisol.
Meski memiliki bahan baku, Indonesia memiliki tantangan menjadikan produk bernilai tinggi.
Salah satunya masalah adalah ketersediaan tenaga ahli dan berbagai riset untuk mendorong industri nasional.
Sejauh ini, hasil produksi pertanian Indonesia hanya 4,8 persen yang dikelola menjadi bahan turunan yang bernilai tinggi.
Faisol menceritakan bagaimana Belanda yang menjajah Indonesia pernah menjadi kekuatan besar ekonomi dunia lewat pengolahan hasil bumi.
"Belanda menjadi negara dengan perekonomian yang besar, terbesar di dunia, negara paling kaya di dunia. Kenapa begitu? Karena Belanda memiliki sumber dari produk pangan yang melimpah, yang bernama Hindia Belanda.
300 tahun lebih Belanda menjadi negara paling kaya di dunia saat itu, dan kita, Hindia Belanda, hanya menjadi bagian kecil yang mensupport dan menjadi bagian yang men-support Belanda sebagai negara terkaya di dunia," kata Faisol.
"Apa kuncinya Belanda menjadi negara pengekspor produk makanan terbesar? Kuncinya adalah research and development Research and development.
Siapa yang melakukan research, sapa yang melakukan development, Kampus-kampus yang ada di Belanda. Kampus-kampus yang ada di Belanda adalah tulang punggung industri pangan Belanda," kata Faisol.
Inovasi dalam togak industri nasional sebut Faisol harus terus dikerjakan, termasuk riset tentang industri pangan.
"Hari ini, pemerintah masih menyaksikan ada sekat yang membatasi kolaborasi yang kita punya. Pemerintah, kampus sebagai lembaga riset, kemudian industri sebagai end-user, belum bisa sepenuhnya menyatu.
Pemerintah sebagai pembuat kebijakan membutuhkan dukungan dari kampus, yang terus menerus melakukan riset, tanpa itu, industri pangan kita di masa yang akan datang tidak siap," ujarnya.