Banjir dan Longsor di Sumut

9.729 Penyintas Banjir Tapteng Kena ISPA akibat Sulit Dapat Air Bersih dan Tempat Pengungsian Padat

Plt Dinas Kesehatan Tapteng mengatakan penyakit terbanyak pasca bencana yang dialami penyintas banjir dan longsor adalah ISPA.

|
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN
PENYINTAS BANJIR - Kondisi suasana posko tempat pengungsian penyintas banjir di Simpang Kelurahan Sipange-Hutanabolon, Tukka, Tapteng Minggu (14/12/2025). Saat ini sebanyak 9729 jiwa di Tapteng mengalami penyakit ISPA. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Pelaksana tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah Lisna Panjaitan mengatakan penyakit terbanyak pasca bencana yang dialami penyintas banjir dan longsor adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa). 

Dikatakannya, berdasarkan Data Dinkes Tapteng per Rabu (7/1/2025) pukul 13.00 WIB, jumlah kasus Ispa mencapai 9729 pasien. 

Menurutnya, beberapa diantara penyebabnya adalah, padatnya tempat di pengungsian dan sulitnya mendapatkan air bersih pasca bencana banjir dan longsor. 

"Berdasarkan data yang saya berikan itu adalah Ispa yang terbanyak. Namun, kategorinya masih ringan, tidak ada yang sampai sesak nafas," jelasnya saat dikonfirmasi Tribun Medan, Rabu (7/1/2026).

Dikatakannya, Ispa satu diantara penyakit yang selalu terjadi pada saat pasca bencana banjir dan longsor. 

"Karena lingkungan kita pada saat banjir atau sanitasinya sudah tidak normal dalam kebersihannya, begitupun pengaruh air, sulitnya mendapat air bersih. Serta padatnya tempat pengungsian ketika awal bencana kala itu," jelasnya.

Namun hingga saat ini, lanjutnya, posko pengungsian di Tapteng sudah sesuai standar dan lebih layak. 

"Walaupun kita juga sudah bekerjasama dengan DLH maupun tim sanitari, tetap saja tidak sepenuhnya berjalan normal pasca bencana,"tuturnya.

Menurutnya, kecamatan terbanyak penyintas mengalami penyakit Ispa adalah Tukka sebanyak 3362 kasus. Hutabalang 1408 kasus dan, Kalangan 1127 kasus. 

"Upaya kita adalah melakukan penanganan kesehatan di seluruh Posko setiap hari. Kemudian menyediakan sanitasi seperti tempat cuci tangan ataupun Disenfektan. Untuk meminimalisir penyakit ispa," jelasnya.

Ia mengimbau, agar penyintas banjir, tetap menjaga kebersihannya di lingkungan sekitar tenda pengungsian.

"Minimal meminimalkan penyakit lain timbul dengan menjaga kebersihan sampah yang ada di sekitar kita. Dan mengikuti arahan-arahan dari setiap tim medis yang ada di posko," jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data Dinkes Tapteng yang Tribun Medan dapatkan, selain Ispa penyakit kedua terbanyak pasca bencana adalah penyakit kulit, hipertensi dan Diare akut, Influenza Lika Illnes (ILI) dan suspek demam tifoid.

Untuk penyakit Kulit ditemukan sebanyak 4164 kasus, hipertensi sebanyak 1625 kasus diare akut sebanyak 1139 kasus, ILI sebanyak 128 kasus dan suspek demam tifoid sebanyak 102 kasus.
 
Untuk penyakit Diare, Ispa dan penyakit kulit didominasi oleh Kecamatan Tukka, sementara untuk penyakit ILI didominasi oleh Kecamatan Aek Raisan dan untuk suspek demam tifoid didominasi oleh Kecamatan Sibabangun. 

Diketahui, Kabupaten Tapteng mengalami bencana banjir dan longsor pada 25 November 2025 lalu. Akibatnya sejumlah kecamatan mengalami kerusakan parah dan banyak memakan korban jiwa.  

Berdasarkan data BPBD Sumut pukul 08.00 WIB, Rabu (7/1/2026), jumlah korban meninggal di Tapteng capai 129 orang dan hilang 35 orang. Jumlah ini terbanyak dibanding Kabupaten/kota di Sumut lainnya.

(Cr5/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved