Legenda PSMS Medan Meninggal

Saddam Bangga Miliki Ayah Legenda PSMS Medan, Nama Ainus Abadi di Sepak Bola

Ainus meninggalkan seorang istri tercinta, dua orang putri, satu orang putra, satu cucu, serta satu menantu.

|
Penulis: Aprianto Tambunan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Aprianto Tambunan
Putra Ainus, Saddam WSU memegang foto ayahnya ketika diwawancarai Tribun Medan di TPU Jalan Brigjen Katamso, Kota Medan, Rabu (17/12/2025). Saddam mengenang sosok ayahnya sebagai legenda PSMS Medan.  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN– Kepergian legenda PSMS Medan, Ainus, tak hanya meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola Sumatera Utara, tetapi juga menyisakan luka yang begitu dalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Di balik sosok besar yang dikenal publik sebagai winger legendaris Ayam Kinantan, Ainus adalah seorang ayah sederhana, penuh perhatian, dan sarat nilai kehidupan bagi anak-anaknya.

Ainus meninggalkan seorang istri tercinta, dua orang putri, satu orang putra, satu cucu, serta satu menantu.

Bagi sang putra, Saddam WSU, kepergian ayahnya menjadi kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Kenangan tentang sosok Ainus sebagai ayah kini terpatri kuat dan sulit terhapus oleh waktu.

Saddam mengenang ayahnya sebagai pribadi yang jarang marah. Kalaupun marah, itu bukanlah luapan emosi, melainkan bentuk nasihat dan pengingat agar anak-anaknya tetap berada di jalan yang benar.

“Bapak itu jarang marah. Kalaupun marah, paling cuma sebentar, hari itu saja. Marahnya pun cuma mengingatkan, bukan marah yang keras,” ujar Saddam lirih saat ditemui Tribun Medan.

Menurut Saddam, ayahnya adalah sosok yang tidak pernah mengajarkan kebencian.

Sebaliknya, Ainus selalu menanamkan nilai berbagi dan kepedulian terhadap sesama sejak dini.

“Ayah itu tidak pelit dengan siapa pun. Dia sering berbagi dengan orang. Dan ayah selalu mengingatkan saya untuk jadi orang yang berguna buat orang lain,” ungkapnya.

Sebagai legenda sepak bola, Ainus sangat mencintai dunia si kulit bundar. Kecintaan itu pula yang diwariskan kepada Saddam sejak kecil. Ia masih mengingat jelas bagaimana ayahnya selalu hadir di setiap proses awal dirinya mengenal sepak bola.

“Kenangan paling saya ingat, waktu saya masih SSB di Kebun Bunga. Bapak selalu jemput saya di sela-sela waktu main bola,” kenang Saddam.

Tak hanya sekadar menemani, Ainus juga menjadi pendukung utama kebutuhan sang anak di dunia sepak bola. Semua perlengkapan latihan hingga kebutuhan bermain bola dipenuhi tanpa keluhan.

“Dia yang beli semua peralatan saya. Semua kemauan saya soal bola selalu diturutin,” ujarnya.

Dukungan penuh itu membuat Saddam sempat mengikuti berbagai turnamen sepak bola usia dini.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved