Dari Halalbihalal, Wujudkan Semangat Persatuan melalui Hymne Tanah Melayu 

Komposisi ini telah melintasi batas-batas administratif, menjadi lagu yang lazim dikumandangkan dalam berbagai forum kebudayaan Melayu

Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN
Tengku Ryo Rizqan saat menerima Sijil Penghargaan Pencipta Lagu Semangat Persatuan Bangsa Melayu. 

TRIBUN–MEDAN.com, MEDAN - Perhelatan Halalbihalal Masyarakat Melayu Indonesia yang diselenggarakan di Hotel Grand Mercure Medan berlangsung dengan khidmat, menjadi momentum penguatan kohesi sosial di tengah keberagaman bangsa.

Acara yang diinisiasi oleh kolaborasi tiga pilar organisasi Melayu, yakni Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI), Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI), dan Gerakan Angkatan Muda Melayu Indonesia (GAMI), meneguhkan komitmen persaudaraan melalui tema ‘Melalui Semangat Idulfitri Kita Rajut Persaudaraan Indonesia Dalam Bingkai Keberagaman’.

Prosesi seremonial diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian disusul dengan pengumandangan lagu Hymne Tanah Melayu. Komposisi ini telah melintasi batas-batas administratif, menjadi lagu yang lazim dikumandangkan dalam berbagai forum kebudayaan Melayu, baik di tingkat regional mau pun mancanegara.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi intelektual dan kultural, pihak penyelenggara menyerahkan Sijil Penghargaan Pencipta Lagu Semangat Persatuan Bangsa Melayu kepada Tengku Ryo Rizqan, B Mus Ed, MSn, yang juga merupakan pemegang gelar Tengku Merdangga Diraja Kesultanan Serdang.

Penghargaan ini ditandatangani secara kolektif oleh ketiga pemimpin organisasi Nizhamul (ISMI), Prof OK Saidin (MABMI), dan H Muhammad Subandi (GAMI).

Baca juga: Dorong Inovasi Pelestarian Budaya Melayu, Pemko Libatkan Generasi Muda hingga Ruang Publik

Secara teoritis dan praktis, Hymne Tanah Melayu yang dirilis sejak tahun 2003 ini merupakan manifestasi dari identitas kolektif puak Melayu.

Dalam pernyataannya, Tengku Ryo menegaskan bahwa karya ini telah diwakafkan secara luas kepada masyarakat Melayu global sebagai instrumen pemersatu, dengan catatan penggunaan yang tetap menjunjung tinggi nilai adab dan kesantunan tradisi.

Lirik dalam lagu tersebut secara naratif merefleksikan kedalaman keterikatan batin antara individu dengan tanah leluhur, di mana larik-larik seperti "Adat budaya serta bahasa / Marwah terjaga sepanjang masa" serta "Walau pun jauh badan berada / Tak kan lah hilang resam di jiwa" berfungsi sebagai pengingat akan ketahanan jati diri di tengah arus globalisasi.

Secara filosofis, komposisi ini bukan sekadar rangkaian nada, melainkan sebuah diskursus mengenai pelestarian kedaulatan sumber daya alam, manusia, dan kekayaan seni budaya.

Hal ini sejalan dengan laporan Ketua Panitia, H Milhan Yusuf, yang menekankan pentingnya kehadiran ratusan tokoh masyarakat Melayu dalam forum ini sebagai representasi dari kekuatan kultural di Sumatera Utara.

Kehadiran para tokoh penting seperti Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Sultan Serdang IX DYMM Tuanku Achmad Thala’a Syariful Alamsyah, Ketua Dewan Pembina ISMI Tun Rahmat Syah, Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya, Bupati Langkat H Syah Afandin, serta tokoh adat, tokoh budaya, akademisi lainnya, mempertegas urgensi posisi strategis masyarakat Melayu dalam pembangunan sosial-politik Indonesia yang inklusif.

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved