Rayakan Hari Kesehatan Seksual 2025, PERMAMPU Tekankan Pentingnya Pemahaman tentang Perubahan Iklim
Tahun ini tema dari lembaga internasional dalam perayaan Hari Kesehatan Seksual (HKS) adalah “Keadilan Seksual: Apa yang Dapat Kita Lakukan?”.
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Konsorsium PERMAMPU menyambut dan merayakan Hari Kesehatan Seksual Sedunia (HKS) yang diperingati setiap tanggal 4 September melalui sebuah perayaan yang dilaksanakan secara hybrid bersama anggota lembaga dan calon mitra PERMAMPU, Rabu (3/9/2025). Tahun ini tema dari lembaga internasional dalam perayaan HKS adalah “Keadilan Seksual: Apa yang Dapat Kita Lakukan?”.
Tema ini diterjemahkan oleh PERMAMPU dengan melihat situasi nyata yang diamati di wilayah dampingan dan memilih judul penyambutan HKS menjadi: “Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Seksual Perempuan Marginal”, yang mana akibat dari perubahan iklim berdampak berbeda terhadap perempuan dan laki-laki, khususnya secara seksual dan hak-hak seksual perempuan marginal di perdesaan, perempuan miskin, perempuan lansia, perempuan muda, perempuan minoritas dan lainnya.
PERMAMPU secara khusus melihat berbagai bentuk pelanggaran hak seksual (ketubuhan) perempuan yang tidak terpisah dari pikiran dan perasaannya sebagai perempuan dengan berbagai perannya mulai dari keluarga sampai ke ranah publik.
Koordinator Konsorsum PERMAMPU, Dina Lumbantobing mengatakan, anggota lembaga dan calon mitra PERMAMPU tersebar di Pulau Sumatera yaitu: Flower Aceh, PESADA-Sumatera Utara, PPSW Riau, LP2M-Sumatera Barat, Aliansi Perempuan Mandiri/APM – Jambi, Cahaya Perempuan WCC-Bengkulu, WCC Palembang-Sumatera Selatan. Serta calon mitra yakni Yayasan Embun Pelangi/YEP - Kepulauan Riau, serta Sang Puan Indonesia/SPI - Bangka Belitung.
“Kegiatan dilakukan offline di Palembang dan hybrid di delapan provinsi di Pulau Sumatera,” ujar Dina Lumbantobing dalam keterangan persnya yang diterima Tribun-Medan.com. Rabu (3/9/2025).
Perayaan tahun ini melibatkan 152 perempuan akar rumput dan 11 laki-laki pemangku kepentingan yang terdiri dari 34 pengurus Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput.FKPAR, 26 perwakilan Forum Permepuan Muda/ FPM, 36 Pengurus Credit Union/CU, 15 Forum Multi Stakeholder/FMS, 14 Femokrat/Perempuan Birokrat aliansi PEREMPUAN, 26 perwakilan Keluarga Pembaharu, 7 Kader OSS&L/Pusat layanan & Pembelajaran HKSR Perempuan, 3 lansia, 2 perempuan disabilitas dari 27 Kabupaten dampingan PERMAMPU di Pulau Sumatera.
Baca juga: Perayaan Hari Keluarga Nasional, PERMAMPU Dorong Pembaharuan Nilai Menuju Kesetaraan dalam Keluarga
Dalam paparan pengantar yang disampaikan Dina Lumbantobing, PERMAMPU menekankan pentingnya pemahaman bersama mengenai apa itu perubahan iklim sebagaimana yang telah dialami dalam keseharian maupun mendengar di media. Serta apa saja yang dialami oleh perempuan sebagai akibatnya, baik kepada kesehatan tubuh dan mental perempuan, kondisi keluarga, ekonomi dan penghidupan perempuan, beban kerja dan pikiran perempuan, serta kepada berbagai masalah yang mungkin tidak disadari sebagai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perempuan.
Terkait hal itu, PERMAMPU dengan dibantu oleh ahli perubahan iklim, Dr. Dian Afrianie, seorang peneliti dan praktisi sekaligus co-founder LOKAHITA yang telah berpengalaman selama 20 tahun dalam upaya pengurangan resiko perubahan bencana, perubahan iklim dan perencanaan Pembangunanupaya mitigasi bencana.
Dian menyampaikan, bahwa dampak dari perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, cuaca ekstrim dan kelangkaan sumber pangan, surutnya air laut ataupun naiknya permukaan air laut sangat berdampak pada perempuan marginal yang selama ini belum terpenuhi hak-haknya. Lalu kemudian diperparah oleh terjadinya perubahan iklim. “Sementara perempuan yang terkena dampak dari perubahan iklim tidak dilibatkan dalam solusi perubahan iklim,” kata Dr. Dian.
Dian juga memberi contoh bagaimana banjir akibat dari perubahan iklim, berdampak ke perempuan dan anak-anak dengan beban rumahtangga berlapis, baik pekerjaan-pekerjaan perawatan seperti membersihkan rumah dari lumpur yang masuk. Selanjutnya, anak-anak (khususnya anak perempuan) harus mencari air bersih ke tempat yang jauh karena tidak adanya akses air bersih di dekat tempat tinggal yang sangat berisiko untuk mengalami kekerasan seksual maupun kesehatan fisiknya.
“Dampak dari perubahan iklim yang dirasakan oleh kelompok marginal sangatlah kompleks. Karena hanya karena kekurangan air bersih potensial menimbulkan akan efek domino ke berbagai bentuk masalah kesehatan seksual dan reproduksi perempuan,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Dian memberi contoh pelaksanaan adaptasi terhadap terjadinya perubahan iklim antara lain: (1) pelatihan keterampilan untuk diversifikasi pendapatan yang relatif tidak tergantung kepada iklim, (2) pendampingan untuk pengolahaan pangan lokal dan/atau produk herbal bagi kesehatan seksual dan reproduksi, (3) pertanian cerdas iklim antara lain: teknik tumpang sari, pertanian organik, perpaduan di antaranya untuk pertanian dan peternakan, (4) pengelolaan sampah atau bank sampah, dan (5) penguatan kapasitas perempuan untuk mengakses modal, pasar dan teknologi pengelolaan pangan yang tepat guna.
Secara khusus Dr. Dian juga mendorong seluruh peserta untuk hidup cerdas iklim di rumah dengan hemat air, hemat listrik, belanja produk lokal, pengomposan, menggunakan resep makanan lokal, mengurangi limbah pangan dari dapur, berkebun sayur dan memelihara ikan.
Baca juga: Permampu Rayakan Hari Kartini, Momen Refleksikan Perjuangan Kartini dan Peningkatan Kapasitas FKPAR
Masukan ini direspons dengan antusias dalam acara tanya jawab, seperti respons perwakilan perempuan disabilitas dari PPSW Riau menyampaikan dampak perubahan iklim dan pembakaran hutan yang sering terjadi di wilayahnya. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi tersebut menimbulkan dampak serius, termasuk meningkatnya kasus anak-anak yang lahir dengan disabilitas intelektual dan mental pada ibu hamil yang terdampak. Juga respons dari wilayah lain yang telah memulai bank sampah dan pembuatan embung.
Dalam diskusi per wilayah untuk pendalaman perwakilan peserta menyampaikan berbagai hal: (1) kekeringan akibat cuaca ekstrem menyebabkan keterbatasan air bersih untuk kebutuhan sanitasi, yang berdampak langsung pada kebersihan organ reproduksi perempuan, (2) perubahan iklim mempengaruhi kualitas dan kuantitas panen pertanian maupun peternakan yang menimbulkan menurunnya pendapatan dan secara tidak langsung mempengaruhi ketegangan yang mengarah ke KDRT, (3) kemarau berkepanjangan juga memicu stres yang memengaruhi kesehatan mental sekaligus siklus menstruasi perempuan, dan (4) anak-anak perempuan perempuan emaja turut merasakan beban ganda karena dipaksa mencari air bersih yang sulit dijangkau, sehingga meningkatkan risiko terpapar KDRT maupun kerentanan atas kekerasan lainnya.
| Peringatan IWD, PERMAMPU Desak Komitmen Pemerintah dalam Penanganan Dampak dan Penyebab Bencana |
|
|---|
| PESADA-PERMAMPU-LSM Sumut Dukung Upaya Rehabilitasi dan Rekonstruksi Dampak Bencana Ekologis |
|
|---|
| Catatan Akhir Tahun 2025 PERMAMPU, Resiliensi Perempuan dan Kelompok Rentan Jadi Kunci Pemulihan |
|
|---|
| Perayaan Hari Anti KTP, PERMAMPU Soroti Kekerasan Digital dan Kerentanan Perempuan saat Bencana |
|
|---|
| Perempuan dan Kelompok Rentan Tanggung Beban Terberat di Tengah Bencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Permampu-Kari-Kesehatan-Seksual.jpg)