Hadirkan Ruang bagi Perempuan,  Teman Tuli dan Teman Dengar Ikuti Pelatihan Video Dokumenter  

Ia lahir dari kegelisahan atas minimnya ruang bagi perempuan terutama perempuan muda dan penyandang disabilitas

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
VIDEO DOKUMENTER - Peserta workshop video dokumenter jurnalistik program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga berfoto bersama usai pelatihan di Rumah Difabel Sharaswaty, Medan. Kegiatan yang diinisiasi Womandocumentary ini melibatkan remaja perempuan, termasuk teman tuli, untuk memproduksi karya video berbasis budaya keluarga secara inklusif. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Komunitas Womandocumentary menghadirkan ruang baru bagi remaja perempuan untuk bersuara melalui karya visual. 

Lewat program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga, mereka mendorong lahirnya narasi budaya dari dalam keluarga yang selama ini jarang terdokumentasi.

Workshop yang digelar beberapa waktu lalu melibatkan 20 peserta, terdiri dari 10 teman tuli dan 10 teman dengar. Para peserta mengikuti pelatihan video dokumenter berbasis inklusi hingga kini memasuki tahap produksi karya.

Program ini tidak sekadar pelatihan teknis. Ia lahir dari kegelisahan atas minimnya ruang bagi perempuan terutama perempuan muda dan penyandang disabilitas dalam dunia produksi media dokumenter yang masih didominasi laki-laki. 

Selain itu, kesenjangan generasi dalam keluarga juga menjadi latar belakang kuat dibentuknya komunitas ini.  
Founder Womandocumentary Fadilla menyampaikan, komunitas ini dibentuk sebagai ruang alternatif bagi perempuan untuk tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pencipta narasi.

Baca juga: DAAI TV Hadirkan Film Dokumenter Borobudur Jejak Spiritual & Harmoni Dunia

“Selama ini, suara perempuan dalam cerita budaya keluarga masih sangat minim. Kami ingin mereka punya ruang untuk merekam, memahami, dan menyampaikan ulang pengalaman budayanya sendiri,” ujarnya.

Melalui pendekatan video jurnalistik partisipatif, peserta diajak mengeksplorasi hubungan lintas generasi dalam keluarga mulai dari nilai, tradisi, hingga cara pandang hidup lalu menerjemahkannya dalam bentuk video dokumenter pendek.

Proses produksi yang berlangsung sekitar satu bulan ini menghasilkan sejumlah karya yang mengangkat dinamika budaya keluarga. Meski menghadapi tantangan komunikasi antara teman tuli dan teman dengar, kolaborasi tetap berjalan.

Pendekatan inklusif yang digunakan, termasuk penggunaan juru bahasa isyarat dan metode pelatihan adaptif, memungkinkan seluruh peserta terlibat aktif dalam setiap tahapan produksi.  

Tak hanya menghasilkan karya, program ini juga menargetkan dampak jangka panjang. Womandocumentary mendorong terbentuknya komunitas dokumenter perempuan inklusif sebagai ruang berkelanjutan bagi para peserta untuk terus berkarya dan berjejaring.

“Ke depan, karya-karya yang telah dihasilkan akan melalui tahap kurasi sebelum diputar dalam forum publik yang melibatkan keluarga peserta, komunitas budaya, hingga pemangku kebijakan,” jelasnya.

Dialog Lintas Generasi 

Womandocumentary tidak hanya menciptakan karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog lintas generasi dalam keluarga sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai pelaku aktif dalam pelestarian budaya.

“Keresahan mereka terhadap kebiasaan yang muncul di tengah keluarga dituangkan dalam bentuk visual. Selain menuangkan isi pikiran di sisi lain para peserta juga terlihat sangat antusias dalam belajar memproduksi video,” ungkap Founder Womandocumentary Fadilla 

Founder Khadijah Sharaswaty Indonesia, Dewi Natadiningrat, yang turut terlibat dalam program ini menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia menilai, antusiasme peserta difabel, khususnya teman tuli, sangat tinggi dalam mengikuti proses pelatihan hingga produksi video.

“Ini pengalaman pertama bagi mereka. Belajarnya bersama dengan teman dengar, mendapat ilmu baru dalam memproduksi video, dan mereka sangat antusias. Kami berterima kasih kepada tim yang sudah melibatkan teman-teman difabel dalam kegiatan kreatif ini,” ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved