Glenn Bakri Jaga Ritme Latihan di Ramadan, Fokus Pada Teknik dan Penguatan Ibadah

Bagi Glenn Bakri, atlet panjat tebing andalan Sumatera Utara, Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga.

TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
PANJAT TEBING - Pemanjat tebing Sumut, Glenn Bakrie (kanan) saat tampil di Kejuaraan International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Cup yang berlangsung di Bali, 2-4 Mei 2025 lalu. Glenn finis di peringkat ke-44 dari 66 kontestan, dengan catatan waktu 57,26 detik di kategori Speed World Record. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan nuansa yang berbeda bagi setiap umat Muslim. Bagi Glenn Bakri, atlet panjat tebing andalan Sumatera Utara, Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk menata ulang ritme kehidupan, menyelaraskan ibadah, kedekatan dengan keluarga, serta tanggung jawab sebagai atlet prestasi.

Memasuki Ramadan, Glenn mengakui hari pertama puasa masih menjadi masa adaptasi. Ia menjelaskan bahwa timnya memang masih diberi waktu libur pada awal puasa, namun bukan berarti tanpa aktivitas sama sekali.

“Kalau misalnya dari saya sebagai atlet panjat tebing mungkin di hari pertama ini kami masih libur tapi mungkin ada latihan mandiri lah menjaga kondisi fisik kayak push up, pull up, sit up, squat itu dilakukan untuk menjaga kebugaran saja,” ujar Glenn kepada Tribun Medan, Kamis (19/2).

Menurutnya, latihan ringan tersebut penting untuk menjaga kebugaran dasar agar tubuh tidak terlalu kaget saat kembali menjalani sesi reguler. Ia dan rekan-rekannya berupaya mempertahankan kekuatan otot inti dan daya tahan tubuh, meski dalam intensitas minimal.

Sementara,pada hari kedua dan seterusnya, program latihan kembali berjalan, namun dengan penyesuaian. Glenn menuturkan bahwa skema latihan selama Ramadan difokuskan pada satu sesi saja. “Di hari kedua nanti dan seterusnya sudah mulai latihan seperti biasa mungkin intensitasnya yang akan diturunkan. Biasanya kan di luar bulan puasa ada latihan pagi dan sore, tapi untuk bulan puasa ini kami fokusnya itu di latihan sore,” jelasnya.

Keputusan memusatkan latihan di sore hari diambil dengan mempertimbangkan kondisi energi atlet yang berpuasa. Selain itu, belum adanya agenda kejuaraan besar dalam waktu dekat membuat tim pelatih memilih pendekatan yang lebih konservatif, dengan penekanan pada pematangan teknik dibandingkan peningkatan fisik secara intens. “Jadi mungkin intensitasnya rendah dan jumlah sesinya pun mungkin cuma Senin sampai Sabtu, tapi teknik semua, nggak ada fisik,” tambahnya.

Baca juga: Atlet NPC Sumut Tetap Gelar Latihan Selama Ramadan

Bagi Glenn, Ramadan bukan hanya soal penyesuaian jadwal latihan, tetapi juga momentum memperbaiki pola hidup. Ia mengakui bahwa dalam periode tanpa target pertandingan setelah PON, pola makan dan aktivitas di luar latihan sempat kurang terkontrol. Ramadan menjadi kesempatan untuk kembali membangun disiplin, terutama dalam menjaga berat badan dan komposisi tubuh.

“Kalau semisalnya menjalani puasa hari pertama ini sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita juga menunggu kan bulan ini karena satu sisi di bulan puasa ini kan kita juga secara tidak langsung bisa menurunkan berat badan,” katanya.

Ia menilai asupan makanan yang lebih teratur saat sahur dan berbuka membantu mengontrol berat badan, terutama ketika belum memasuki fase kompetisi. Meski demikian, adaptasi tetap terasa di awal-awal puasa. “Tapi mungkin di hari-hari pertama ini agak terasa lah untuk adaptasinya,” ungkap Glenn.

Ia juga membandingkan Ramadan tahun ini dengan pengalaman tahun sebelumnya. Pada 2025, latihan tim cenderung tidak rutin karena tidak ada target kompetisi setelah PON. Kondisi tersebut membuat beban latihan selama bulan puasa relatif lebih ringan.

“Puasa tahun 2025 itu bisa dibilang puasa pertama kami yang latihannya tidak rutin. Karena setelah PON tidak ada lagi target dan pertandingannya juga sudah selesai, jadi mungkin puasa tahun lalu tidak terlalu berat karena latihan di bulan puasa itu mungkin tiga kali seminggu,” jelasnya.

Berbeda dengan tahun ini, Glenn dan tim kembali menjalani PPI secara konsisten sebagai bagian dari upaya mengejar ketertinggalan performa yang sempat terhenti.

Di balik disiplin sebagai atlet, Glenn tetaplah seorang anak yang menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Hari pertama puasa ia sambut dengan sederhana di rumah bersama kedua orang tuanya di Medan. Kakak dan abangnya yang berada di Jakarta tidak pulang, sehingga suasana Ramadan kali ini terasa lebih hening, namun tetap hangat.

“Puasa pertama ini saya sambut di rumah bersama keluarga. Hari pertama itu pasti harus bersama orang tua, karena di Medan tinggal berdua sama orang tua, kakak sama abang di Jakarta tidak pulang. Jadi ya berdoa dulu bersama orang tua saja,” tuturnya. (cr29/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved