Makanan Tradisional Rotan Muda, Sensasi Pahit yang Dirindukan saat Ramadan
pakkat justru dipercaya mampu meningkatkan selera makan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Memasuki bulan suci Ramadan, kepulan asap dari pembakaran pakkat kembali terlihat di sejumlah sudut Kota Medan, khususnya di sepanjang Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Letda Sujono.
Aroma khas pucuk rotan muda bakar ini menjadi penanda hadirnya salah satu kuliner tradisional yang selalu dirindukan warga saat berbuka puasa.
Pakkat merupakan makanan khas Mandailing yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tapanuli Selatan, terutama bagi para perantau di Kota Medan.
Meski memiliki cita rasa pahit dan sedikit kelat, pakkat justru dipercaya mampu meningkatkan selera makan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Kuliner ini memiliki sejarah panjang yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, pakkat pertama kali dikonsumsi para pekerja rodi pada masa kolonial Belanda saat mereka kesulitan mendapatkan bahan pangan di pedalaman hutan. Dari situlah pucuk rotan muda mulai diolah dengan cara dibakar dan terus dilestarikan hingga kini.
Nur (45), pedagang pakkat bakar di Jalan Letda Sujono menyampaikan, proses pembuatannya tergolong unik. Pucuk rotan sepanjang sekitar satu meter dibakar di atas bara api kayu atau batok kelapa selama 15 hingga 20 menit hingga kulit luarnya menghitam. Setelah itu, bagian luar dikupas dan menyisakan inti berwarna putih yang siap disantap.
Baca juga: Berburu Takjil di Jalan Amaliun Medan, Ramai, Harum, dan Bikin Lupa Macet
“Pakkat ini sudah jadi tradisi. Kalau puasa, masyarakat dari berbagai suku, mulai dari Mandailing, Jawa sampai Melayu pasti mencarinya untuk lalapan berbuka,” ujar Nur kepada Tribun Medan, Jumat (20/2/2026).
Nur telah berjualan selama sembilan tahun terakhir. Ia mengaku Ramadan menjadi momen paling ramai bagi penjual pakkat.
“Kalau bulan puasa permintaan meningkat. Dalam sehari bisa terjual sekitar 500 batang bahkan lebih,” ungkapnya.
Nur menjual pakkat seharga Rp 10.000 per batang. Sementara sambal cabai sebagai pelengkap dijual Rp 3.000 per porsi. Menurutnya, banyak pelanggan membeli dalam jumlah banyak untuk disantap bersama keluarga saat berbuka.
Ia menambahkan, pembeli tidak hanya berasal dari masyarakat Mandailing, tetapi juga berbagai suku lain yang sudah akrab dengan cita rasa unik pakkat.
Selain dipercaya menambah nafsu makan, sebagian masyarakat juga meyakini pakkat memiliki manfaat kesehatan seperti membantu meredakan maag dan menghangatkan tubuh.
Biasanya, pakkat disantap bersama sambal tuktuk yang dicampur ikan teri dan andaliman, lengkap dengan nasi hangat serta gulai ikan mas.
Perpaduan rasa pahit, pedas, dan gurih inilah yang membuat pakkat tetap bertahan sebagai menu favorit Ramadan dari generasi ke generasi.
Pedagang pakkat musiman umumnya mulai berjualan sejak pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa.
| Direktur Distribusi PLN Pastikan Kelistrikan Sumut Andal di Penghujung Ramadan dan Idulfitri 1447 H |
|
|---|
| Imigrasi Sumatera Utara Pastikan Amanah 22.500 Paket Ramadan Menteri Imipas Tepat Sasaran |
|
|---|
| PLN Pastikan Kesiapsiagaan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara Selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 H |
|
|---|
| Perjalanan Jarak Jauh di Bulan Ramadhan, Berikut Strategi cari aman Jelang Waktu Berbuka |
|
|---|
| BERKAH di AHASS, Warnai Ramadan dengan Promo Servis Spesial di Sumut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/PAKKAT-BAKAR-Pedagang-menyiapkan-pakkat-bakar.jpg)