Sumut Terkini

Mendobrak Dinding Keraguan Imunisasi di Pelosok Mandailing Natal

Hingga kini, dari total 80 balita di Desa Siobon Julu, hampir semuanya telah menerima vaksin polio.

|
TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA
PELOSOK NEGERI: Potret saat petugas kesehatan melakukan imunisasi di Desa Siobon Julu. Rendahnya angka imunisasi di pelosok Mandailing Natal tidak hanya pengaruh geografis tetapi juga dipengaruhi pola pikir masyarakat yang menolak imunisasi dasar untuk anaknya. (TRIBUN MEDAN/TENAGA KESEHATAN MADINA) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dengan jalan setapak dan tanpa sinyal telepon, Masrona berjuang meyakinkan warganya satu per satu akan pentingnya kekebalan tubuh anak.

Langkah ramping Bidan Masrona (32) tampak lincah saat menuruni lembah dan kembali mendaki perbukitan kecil di Desa Siobon Julu pada Rabu (16/7/2025) itu.

Tubuhnya yang mungil seolah menyimpan energi tak terbatas. Dari satu rumah panggung ke rumah lainnya, ia tak lelah menyapa dan mengajak para ibu untuk membawa anak-anak mereka ke pos kesehatan pada hari Jumat nanti. Sebuah misi penting menantinya: imunisasi.

PELOSOK NEGERI: Bidan Masrona (32) saat mendatangi rumah warga di Desa Siobon Julu pada Rabu (16/7/2025). Ia mendatangi rumah ke rumah untuk memberikan informasi imunisasi. (TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA)
PELOSOK NEGERI: Bidan Masrona (32) saat mendatangi rumah warga di Desa Siobon Julu pada Rabu (16/7/2025). Ia mendatangi rumah ke rumah untuk memberikan informasi imunisasi. (TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA) (TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA)

Perjuangannya bukan tanpa alasan. Meskipun secara administratif berada di Kecamatan Panyabungan, pusat Kabupaten Mandailing Natal, Desa Siobon Julu adalah dunia yang seolah terpisah.

Terletak hanya 9 kilometer dari ibu kota kabupaten, desa ini terisolasi di antara gugusan Bukit Barisan. Tak ada transportasi umum yang menjangkau, hanya jalanan tanah terjal yang menantang. Sinyal telepon seluler adalah kemewahan yang tidak ada, sekalipun listrik telah lama menerangi malam-malam di desa.

Di tengah keterbatasan itu, denyut layanan kesehatan bagi 700 jiwa penduduknya berpusat di sebuah bangunan sederhana: rumah Masrona sendiri. Di sanalah ia menerima pasien, memberikan pertolongan, dan menjalankan program-program kesehatan, termasuk memastikan anak-anak Siobon Julu terlindung dari penyakit menular.

INFO GRAFIS IMUNISASI: Data statistik penyebab anak di Mandailing Natal tidak mendapatkan imunisasi. Angka tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Mandailing Natal tahun 2025 di Tingkat Kelurahan Penyabungan II.
INFO GRAFIS IMUNISASI: Data statistik penyebab anak di Mandailing Natal tidak mendapatkan imunisasi. Angka tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Mandailing Natal tahun 2025 di Tingkat Kelurahan Penyabungan II. (TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA)

Tantangan geografis tak berhenti di situ. Permukiman warga tersebar mengikuti kontur perbukitan, dengan dua anak desa (banjar) Aek Ranjo dan Surabot terletak lebih jauh dan lebih tinggi lagi, berjarak 2 hingga 3 kilometer melalui jalan setapak yang hanya muat untuk satu sepeda motor.

Untuk menjangkau mereka, Masrona punya strategi jitu: hari pasar. Setiap hari Kamis, warga dari banjar-banjar yang jauh akan turun ke pusat desa. Pasar di sini bukanlah bangunan permanen, melainkan halaman rumah atau tanah lapang yang seketika ramai. Di sinilah warga bertransaksi, bersosialisasi, dan bertukar informasi.

"Kepada ibu-ibu, kita kan sudah saling mengenal, tahu mana yang mempunyai bayi. Di waktu pekan (pasar) itu kita ajak mereka, membawa anaknya untuk imunisasi besoknya," cerita Masrona.

INFO GRAFIS IMUNISASI: Data statistik penyebab anak di Mandailing Natal tidak mendapatkan imunisasi. Angka tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Mandailing Natal tahun 2025 di Tingkat Kelurahan Penyabungan II.
INFO GRAFIS IMUNISASI: Data statistik penyebab anak di Mandailing Natal tidak mendapatkan imunisasi. Angka tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Mandailing Natal tahun 2025 di Tingkat Kelurahan Penyabungan II. (TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA)

Dalam misinya, Masrona tidak sendiri. Sang suami, Mulla (39), menjadi rekan seperjuangan. Sambil berdagang di hari pasar, Mulla turut meyakinkan para pelanggannya.

"Anak kami juga kan masih kecil, kami beri tahu kalau imunisasi itu baik-baik saja. Kalaupun demam, itu proses pembentukan kekebalan tubuhnya," terang Mulla, yang diiyakan oleh Masrona.

Namun, jalan tidak selamanya mulus. Rintangan terbesar justru datang dari keraguan warga. Efek demam pasca-imunisasi masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. 

Tak jarang, seorang ibu sudah bersedia, namun tak mendapat izin dari suaminya. Masrona paham betul kekhawatiran itu. 

Untuk menenangkannya, setiap selesai memberikan vaksin, ia selalu membekali para ibu dengan vitamin dan obat penurun panas. Ia meyakinkan bahwa demam itu hanya sementara dan merupakan reaksi wajar.

Hingga kini, dari total 80 balita di Desa Siobon Julu, hampir semuanya telah menerima vaksin polio. Namun, perjuangan untuk imunisasi dasar lengkap masih panjang, karena baru sekitar 30 anak yang telah menuntaskannya. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved