Delegasi Sumut Sambangi Tiongkok

Melihat Islam dari Xinjiang: Harmoni Kehidupan, Budaya dan Jejak Peradaban

Islam di Xinjiang bukan sekadar agama, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat itu sendiri.

Tayang:
Editor: iin sholihin
ISTIMEWA
FOTO BERSAMA - Wakil Rektor II UIN Sumatera Utara Dr Abrar M Dawud Faza SFil MA berfoto bersama Rektor UIN Sumatera Utara Prof Dr Nurhayati di depan The Xinjiang Museum. 

Oleh: Dr Abrar M Dawud Faza SFil MA
Wakil Rektor II UIN Sumatera Utara
 
XINJIANG adalah cermin unik dari sebuah wilayah yang menyatukan beragam budaya, etnis, dan keyakinan dalam satu ruang geokultural yang strategis. Letaknya yang berbatasan langsung dengan negara-negara Asia Tengah menjadikannya bukan hanya sebagai jalur perdagangan penting, tetapi juga sebagai simpul pertukaran peradaban.

Dalam realitas keseharian masyarakatnya, Islam hadir sebagai elemen hidup yang tidak berdiri sendiri, melainkan berbaur dan menyatu dalam denyut budaya dan sosial masyarakat lokal.

Islam di Xinjiang bukan sekadar agama, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat itu sendiri.

Baca juga: Rektor UINSU Prof Nurhayati: Muslim Hui di Zhengzhou Tiongkok Luar Biasa

Baca juga: Senyum Muslim Hui dan Pesona Masjid Berusia 700 Tahun di Zhengzhou 

Sejarah mencatat bahwa Islam telah masuk ke wilayah Xinjiang sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, atau sekitar masa kekhalifahan Umayyah dan Abbāsiyah. 

Para pedagang muslim dari Asia Tengah dan Timur Tengah yang melintasi Jalur Sutra memainkan peran penting dalam proses Islamisasi wilayah ini. Dalam catatan sejarah Tiongkok, Islam bahkan sudah dikenal sejak zaman Dinasti Tang, bersamaan dengan masuknya para utusan dari Timur Tengah ke ibu kota Chang'an.

Umat Islam ketika itu tidak hanya berdakwah, tetapi juga berdagang, menetap, dan berbaur dengan masyarakat lokal.

Perkembangan Islam mencapai puncaknya di Xinjiang pada masa kekuasaan Dinasti Kara-Khanid (abad ke-10 hingga ke-13 M), sebuah kerajaan Turki Muslim yang menjadikan Islam sebagai agama resmi.

Dinasti ini tidak hanya memperluas wilayah kekuasaan mereka di Asia Tengah, tetapi juga membangun sistem pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam. 

Bukti sejarah menunjukkan bahwa pada masa itu, umat Islam tidak hanya mampu menjaga identitas agamanya, tetapi juga membangun struktur masyarakat yang maju dan seimbang. Bahkan di museum sejarah Xinjiang, Islam mendapat tempat istimewa sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah panjang wilayah itu.

Sebelum masuknya Islam, masyarakat Xinjiang mengenal ajaran Taoisme dan kemudian Buddhisme. Namun, ketika Islam berkembang, tidak terjadi penolakan atau konflik terbuka.

Sebaliknya, terjadi proses akulturasi dan koeksistensi yang harmonis antara umat Islam dengan penganut agama-agama lain. Islam hadir bukan sebagai kekuatan hegemonik yang meniadakan yang lain, tetapi justru membentuk satu pola kehidupan masyarakat yang inklusif.

Inilah keunikan Xinjiang: sebuah wilayah yang mampu menyatukan berbagai sistem keyakinan dalam satu ruang sosial yang damai.

Museum Xinjiang menjadi saksi bisu perjalanan panjang ini. Di dalamnya, sejarah masyarakat Xinjiang disajikan lengkap, mulai dari zaman batu, logam, hingga era modern.

Islam mendapat tempat penting dalam narasi sejarah ini. Ia tidak ditempatkan sebagai elemen yang datang untuk merusak, melainkan justru membangun. Islam di Xinjiang tidak hadir untuk merusak tatanan lama, melainkan memperkaya dan memperhalusnya.

Dalam sistem pemerintahan, Islam memperkenalkan administrasi modern seperti sistem identifikasi penduduk (semacam paspor), pengaturan perjalanan, serta sistem pertanian terorganisir yang diwajibkan oleh negara.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved