Bully di SMAN 1 Stabat

Pelaku Bullying Tak Dikeluarkan dari SMAN 1 Stabat, Orang Tua Pelaku Beri Bantuan Psikolog ke Korban

Kepala SMAN 1 Stabat mempertemukan keluarga korban dan pelaku pascaviralnnya aksi bullying terhadap seorang siswi berinisial A di sekolah tersebut.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN MEDAN/HO
Foto korban ketika jilbabnya ditarik oleh terduga pelaku di dalam ruang kelas SMA N 1 Stabat, Langkat, Sumatera Utara, Minggu (15/10/2023). 

TRIBUN-MEDAN.com, LANGKAT - Kepala SMAN 1 Stabat mempertemukan keluarga korban dan pelaku pascaviralnnya aksi bullying atau perundungan terhadap seorang siswi berinisial A di sekolah tersebut.

Pertemuan ini berlangsung di ruangan Perpustakaan SMAN 1 Stabat pada Senin (16/10/2023).

Baca juga: Viral Mahasiswi di UIN Jadi Korban Bullying, Pihak Kampus Langsung Bertindak Cepat pada Pelaku

Amatan wartawan dalam pertemuan itu, selain orang tua korban dan pelaku, tampak hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Binjai-Langkat, Syaiful Bahri.

Pertemuan itu pun berjalan dengan alot. Bahkan orangtua satu pelaku berinisial FDM yang disebut seorang anggota Polri yang bertugas di Polres Langkat juga hadir di dalam pertemuan tersebut.

Pihak SMAN 1 Stabat menggelar pertemuan antara orang tua korban dan pelaku pascaviral aksi bullying atau perundungan yang dialami seorang siswi SMA N 1 Stabat berinisial A, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (16/10/2023). 
 
Pihak SMAN 1 Stabat menggelar pertemuan antara orang tua korban dan pelaku pascaviral aksi bullying atau perundungan yang dialami seorang siswi SMA N 1 Stabat berinisial A, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (16/10/2023).    (Tribun Medan/Muhammad Anil Rasyid)

Bahkan, ketiga pelaku yang melakukan aksi bullying terhadap korban juga dihadirkan di dalam pertemuan dan meminta maaf kepada keluarga korban.

"Korban dan pelaku duduk di kelas XII IPS 1," ujar Kepala SMAN 1 Stabat, Nano Prihatin.

Kata Nano, pihak sekolah akan terus memantau kondisi korban dan terus memberikan sosialisasi kepada siswa-siswi lainnya tentang bahayanya bullying atau perundungan.

"Karena itu menyangkut harkat martabat teman-temannya siswa. Kita terus melakukan sosialisasi baik itu kepada guru-guru pada saat masuk ke sekolah, dan kita ada tim anti bullying yang sekarang sedang berlangsung di ruangan kelas, untuk mengantisipasi bullying agar tidak terjadi lagi di sekolah kita," ujar Nano.

"Kita tadi sudah sepakat mengambil keputusan, kita adakan dulu kekuatan mental ke korban, kita panggil psikolog untuk pendampingan korban," sambungnya.

Namun Nano tak bisa memastikan kapan korban mendapatkan pendampingan psikolog.

Baca juga: Polisi Mintai Keterangan Saksi Terkait Meninggalnya Siswa Kelas II SD Diduga Jadi Korban Bullying

"Paling tidak dalam waktu dekat sudah datang psikolognya, kita antar ke rumah korban," ujar Nano.

Sedangkan itu, ketiga pelaku akan tetap bersekolah di SMA N 1 Stabat. Meski keluarga dan orangtua korban meminta ketiganya dikeluarkan dari sekolah.

"Kita sudah mengambil keputusan, pelaku tetap disekolah, toh dia punya cita-cita. Jadi orangtua sepakat, pelaku tetap sekolah di sini, yang penting korban diberikan pendampingan psikolog untuk memperbaiki mental," ujar Nano.

Harapan Keluarga Korban Pupus

Harapan keluarga dan orang tua siswi sekaligus korban bullying yang terjadi di SMAN 1 Stabat agar dikeluarkan dari sekolah sebagai bentuk hukuman tegas akhirnya pupus.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved