Viral Medsos

DINAS KESEHATAN Temukan 87 Siswa Sayat Tangan di Sekolah: Terpengaruh Konten-konten di Media Sosial

Dinas Kesehatan (Dinkes) Telah Menemukan 87 Siswa Melakukan Coretan Luka atau Sayatan Tangan di Sekolah: Ternyata Terpengaruh Konten-konten di medsos

|
Editor: AbdiTumanggor
HO
FENOMENA SISWA SAYATI TANGAN: Dinas Kesehatan Temukan Puluhan Siswa Sayat Tangan di Sekolah: Terpengaruh Konten-konten di Media Sosial (HO) 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkulu Utara, Fahruddin saat ini pihaknya telah memanggil sejumlah siswa, orangtua siswa, kepala sekolah, untuk mengetahui latar belakang kejadian. "Kami telah mendalami lagi latar belakang bersama pihak terkait mengapa anak-anak melakukan hal tersebut. Namun dugaan sementara terpengaruh konten atau tren saja," jelas dia.

Ada juga para siswa melakukan coret-coretan (goresan) dengan melukai tangan itu menganggapnya seperti tato. Padahal sangat berbeda.

Minta take down konten-konten yang mempengaruhi anak-anak ke hal negatif

Akibat fenomena ini, berharap pemerintah take down konten-konten video yang mempengaruhi anak-anak ke hal negatif. Tidak sedikit konten-konten menceritakan atau menampilkan konten yang seakan-akan nyata padahal halusinasi semata. Anak-anak akhirnya tertarik mendengarkannya dan salah menangkapnya karena belum bisa mengkaji mana yang benar dan mana yang tidak benar. Ade Rusliana (31), sangat khawatir atas fenomena ini. Dua anaknya kini tengah duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

"Dibilang takut, ya takut mereka ikut-ikutan. Apalagi, memang lagi ramai di TikTok dan yang sehari-harinya mereka tonton,” kata Ade kepada Kompas.com, Kamis (5/10/2023).

Saat ditanya apakah dia mengetahui fenomena anak sekolah sayat tangan, Ade tidak menampiknya. Bahkan, dia sudah tidak lagi terkejut. "Sebenarnya sudah enggak kaget lagi, karena zaman dulu memang sudah ada. Ya bedanya kan sekarang ada media sosial yang disebarkan secara luas tanpa memandang usia,” tutur Ade.

Sementara itu, salah satu orangtua murid bernama Lusy Tania (31) menganggap tren tersebut merupakan hal yang sangat negatif dan merugikan tumbuh kembang anak.

"Enggak ada bagus-bagusnya dan keren-kerennya buat jadi tren. Terus kan itu ramai di TikTok ya, kalau bisa dari TikTok-nya, kalau ada video-video kayak gitu, harus di-take down sih biar enggak pengaruhi anak," kata Lusy.

Keresahan sebagai orangtua murid juga dirasakan Christina Indah Paramita (38). Anak pertamanya kini tengah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). "Tahu, kan itu yang lagi ramai di Situbondo. Ya gara-gara viral gitu, saya khawatir anak saya malah liat konten-konten kayak gitu. Bukannya belajar, tapi mencelakakan diri," ucap Indah.

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta sekolah, termasuk di DKI Jakarta, untuk membatasi akses siswa terhadap media sosial buntut dari fenomena sayat tangan itu.

"Kami merekomendasikan sekolah perlu membatasi atau melarang, anak anak mengakses media sosial. Saya pikir perlu. Khususnya di jam belajar," ujar Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (7/10/2023).

Satriwan mengatakan, pembatasan media sosial untuk meminimalisasi potensi siswa meniru konten negatif yang ada di media sosial. "Kemudian yang kedua sekolah harus memiliki sistem pendeteksi dini terkait perilaku menyimpang dan potensi kekerasan," kata Satriwan.

Satriwan sebelumnya menyebut semua dinas pendidikan (Disdik), termasuk DKI Jakarta mendorong guru untuk memperhatikan perilaku anak didik di sekolah. Satriwan menambahkan, pencegahan juga bisa dilakukan pihak sekolah dengan cara melarang mengakses media sosial, khususnya pada saat jam belajar.

"Berdasarkan masalah itu, kami merekomendasikan pertama rasanya sekolah perlu melarang, anak anak mengakses media sosial. Saya pikir perlu. Khususnya di jam belajar," ucap Satriwan.

Orangtua yang lain bernama Indah, memiliki cara tersendiri untuk mencegah konten berbahaya di media sosial terhadap anaknya. Ia dan suaminya bersepakat selalu mengecek handphone anaknya secara berkala. "Bisanya saya cek handphone anak secara berkala sekaligus cek kegiatan dia," ungkap Indah.

Berbeda dengan Indah, Lusy Tania (31) justru memilih membatasi pergaulan anaknya yang kini masih duduk di bangku kelas 2 SD.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved