Viral Medsos

DINAS KESEHATAN Temukan 87 Siswa Sayat Tangan di Sekolah: Terpengaruh Konten-konten di Media Sosial

Dinas Kesehatan (Dinkes) Telah Menemukan 87 Siswa Melakukan Coretan Luka atau Sayatan Tangan di Sekolah: Ternyata Terpengaruh Konten-konten di medsos

|
Editor: AbdiTumanggor
HO
FENOMENA SISWA SAYATI TANGAN: Dinas Kesehatan Temukan Puluhan Siswa Sayat Tangan di Sekolah: Terpengaruh Konten-konten di Media Sosial (HO) 

Dinas Pendidikan juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kata dia.

Pihaknya berharap ada penanganan dari sisi psikologis kepada siswa supaya tidak melakukannya kembali.

Sementara, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Situbondo Imam Darmaji menyatakan, pihaknya kini sedang menangani anak-anak yang melukai tangannya sendiri. Namun penanganan tersebut masih ditahap menggali keterangan. "Kami sudah ke sekolah (SDN 2 Dawuhan) untuk meminta keterangan," katanya.

Dia menyatakan pihak DP3A Situbondo akan melakukan penanganan psikologis siswa jika pihak sekolah dan wali murid bersedia. Pihaknya akan mendatangkan psikolog secara khusus.

"Jika mereka bersedia nanti maka kami akan panggil psikolog untuk menangani 11 siswa tersebut," terangnya.

DPRD Minta Pemkab Panggil Semua Kepsek

Di sisi lain, Ketua Komisi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Situbondo, Hadi Prianto meminta Dinas Pendidikan Situbondo memanggil semua kepala sekolah di wilayahnya. Hal tersebut menyusul belasan siswa Sekolah Dasar yang menyayat tangan dengan silet karena terpengaruh konten TikTok. "Saya menginginkan dinas pendidikan dan wali murid di semua sekolah Kabupaten Situbondo untuk memberikan arahan penggunaan media sosial kepada anak-anak," katanya ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (3/10/2023).

Pihak sekolah diminta berkomunikasi dengan wali murid tentang pengawasan dalam penggunaan media sosial. Sehingga para murid bisa membedakan konten yang baik dan tidak. "Kedua yakni tentang alat-alat ketika berada di dalam kelas, tidak boleh ada benda-benda seperti silet dan handphone," katanya.

Hadi mendukung Dinas Pendidikan memaksimalkan kegiatan ekstrakulikuler seperti muatan lokal. Sehingga siswa memiliki aktivitas yang positif. "Peristiwa ini bisa saja mengarah kepada kenalakalan remaja, maka pembinaan spiritual dari semua elemen dari dinas dan sekolah bisa memberikan edukasi kekerasan karena penting untuk pembinaan mental," katanya.

"Saya harap DP3A Kabupaten Situbondo turun ke semua sekolah, saya bahkan salut langkah yang dilakukan Polres Situbondo sebelum kejadian ini sudah turun ke sekolah-sekolah untuk edukasi tentang bahaya narkoba dan kenakalan remaja," terangnya.

Kasus Serupa, 52 Siswi SMP di Bengkulu Lukai Tangan Pakai Silet

Sebelumnya juga, sebanyak 52 siswi SMP Negeri di Kabupaten Bengkulu Utara melakukan aksi melukai diri dengan cara meyayat tangan menggunakan silet. Aksi para siswi ini diketahui oleh salah satu guru pada Rabu (8/3/2023) lalu. Saat itu, sang guru melihat beberapa siswi memiliki luka yang sama. Setelah diperiksa, diketahui ada 52 siswi yang memiliki luka yang sama.

Kapolres Bengkulu Utara AKBP Andy Pramudya Wardana mengatakan, pihak kepolisian dan dinas terkait sudah turun langsung memeriksa kasus ini. Dari pemeriksaan yang dilakukan ditemukan hasil bahwa para siswi ini diduga mengikuti tren kekinian di media sosial. Hal itu disebut sebagai tanda, seolah-olah ada gangster di sekolah.

"Kepala sekolah sudah menghubungi pihak kepolisian dan pihak kita sudah turun memberikan pendampingan," kata dia dikutip dari Tribunnews.com.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Provinsi Bengkulu, Ainul Mardiati S.Psi, MH mengatakan, perbuatan melukai diri ini kemungkinan dilakukan oleh siswi yang memiliki masalah dan menginginkan perhatian. Hanya saja, di kasus siswi SMP Bengkulu Utara ini, siswi bemasalah yang menginginkan perhatian ini hanya satu atau dua orang saja.

"Sementara, siswi lain hanya ikut-ikutan, meniru media sosial," kata Ainul yang juga ketua Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) wilayah Bengkulu ini.

Untuk para siswi ini, diperlukan konseling khusus untuk mengetahui motif yang membuat anak-anak tersebut melakukan tren tidak biasa. Perbuatan menyakiti diri sendiri tidak dilakukan spontan karena adanya rasa kecewa dan protes kepada orang-orang tertentu. "Makanya perlu pendekatan dan penggalian persoalan yang sebenarnya terjadi, apakah ada luka batin yang butuh penanganan yang baik," kata dia. Sejauh ini, pendampingan kepada siswi akan dilakukan oleh PPA Bengkulu Utara. Namun, PPA Provinsi Bengkulu akan melakukan pemantauan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved