Ngopi Sore
Tuhan Lain Bernama Maradona
Dalam perjalanan waktu, orang akan berkata, dalam sepak bola, Maradona adalah dia, yang dalam puisi adalah Rimbaud dan dalam musik adalah Mozart
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Peter Shilton, kiper Inggris, mencoba menutup ruang gerak Maradona. Mempersempit ruang tembak. Namun Maradona ternyata belum sampai pada puncak keajaiban. Sekali lagi ia meliukkan badan sebelum dengan kaki kiri menyontekkan bola ke sudut kiri gawang.
Goal of The Century! Satu di antara gol yang tetap akan dianggap paling indah sampai kapan pun. Gol yang abadi. Menyusul keabadian lain yang ia torehkan empat menit sebelumnya. Keabadian yang barangkali saja tidak akan pernah tercipta apabila teknologi Video Assistance Referee (VAR) sudah ada.
Namun tahun 1986, di lapangan Stadion Azteca itu, belum ada VAR. Hanya wasit Ali bin Nasser yang berkebangsaan Tunisia, dan dia tidak melihat kelebatan tangan Maradona yang begitu cepat mendahului tangan Peter Shilton saat melompat menyundul bola.
"Itu memang sebuah gol," kata Maradona di tengah wartawan yang mengerumuninya setelah pertandingan. "Gol yang tercipta karena sedikit sentuhan kepala, dan sedikit bantuan tangan Tuhan."
Setelah 10 November 2001, Diego Maradona masih meretas sejarahnya. Tak terkecuali di jalan politik. Maradona dekat dengan pentolan nasionalis kanan, Carlos Menem, tapi ia juga bersahabat karib dengan Fidel Castro dan memiliki tato bergambar wajah Che Guevara di lengannya. Adapun wajah Castro terukir di kaki kirinya. Kakinya yang terkuat.
Tahun 2005, Maradona secara terbuka menyatakan sikap menentang proposal Free Trade Area of America (FTAA) atau kawasan perdagangan bebas yang digawangi Amerika Serikat. Ketika Presiden Bush berkunjung ke Argentina, Maradona tampil dalam satu panggung protes bersama dua penentang terkeras dari Amerika Selatan, Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Presiden Bolivia Evo Morales.
Di atas panggung itu, Maradona berpidato. "Argentina sangat layak menendang Bush keluar."
Walau tidak sampai benar-benar berada dalam sistem, sepak terjang politik Maradona boleh dibilang lumayan membekas. Namun sejarah lain yang retasnya hampir semuanya berujung pada kegagalan. Termasuk saat kembali ke lapangan sepak bola dan mencoba peruntungan sebagai pelatih. Ia gagal mengulang sukses, baik di level klub maupun tim nasional.
Ia juga gagal dalam berbagai bisnis. Gagal dalam berumah tangga dan hubungan-hubungan asmara. Gagal dalam membentengi diri dari obat-obatan terlarang dan minuman keras. Maradona nyaris secara terus-menerus mengalami kegemukan, menderita depresi dan halusinasi akut hingga berulangkali pula harus menjalani rehabilitasi. Sembuh sebentar kambuh lagi. Sehat sebentar sakit lagi. Kekayaannya yang berlimpah sedikit demi sedikit tergerus, terutama karena ia juga kerap dituding terlibat dalam upaya pengemplangan pajak. Termasuk pajak pendapatan tatkala ia masih bermain untuk Napoli di Liga Italia.
Meski demikian ada satu hal yang tak tergerus dari Maradona. Hal yang bahkan sudah sampai pada tingkatan keniscayaan. Nama besarnya. Bagi Argentina dia tetap 'Dios'. Tetap "Tuhan" yang dipuja sepenuh hati sekali pun sekarang mereka sudah punya Lionel Messi. Bagi dunia, dia legenda terbesar sepak bola. Maradona adalah sepak bola itu sendiri, seperti musik dan Mozart, dan Rimbaud pada puisi.
Dan 25 November 2020 kiranya juga akan menjadi tanggal yang dikenang dari Maradona. Tanggal di mana sejarahnya benar-benar berakhir. Setelah sempat menjalani operasi subdural hematoma atau pembekuan darah di otak, yang diklaim dokter berhasil tanpa meninggalkan jejak kerusakan pada syaraf, ia yang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan alkohol mendadak mengalami gagal jantung dan mengembuskan nafas penghabisan di rumahnya di Tigre, Buenos Aires.
Usianya 60. Diego Armando Maradona pergi ke haribaan Tuhan untuk mengembalikan tangan yang ia pinjam.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/maradona1_oke.jpg)