Ngopi Sore

Tuhan Lain Bernama Maradona

Dalam perjalanan waktu, orang akan berkata, dalam sepak bola, Maradona adalah dia, yang dalam puisi adalah Rimbaud dan dalam musik adalah Mozart

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
CBSNews/dok
DIEGO Maradona mengangkat tropi Piala Dunia usai memimpin tim nasional Argentina mengalahkan Jerman Barat 3-2 di final Piala Dunia Meksiko 1986 

Ada dua tanggal yang akan selalu dikenang tiap kali menyebut nama Diego Armando Maradona. Pertama, 10 November 2001. Ini adalah hari ketika ia pergi dari lapangan sepak bola, sebagai pemain. Hari itu, di Buenos Aires, di La Bombonera, stadion milik Boca Juniors, Maradona memainkan laga terakhirnya dengan kostum tim nasional Argentina. Namun di balik kostum bercorak liris putih-biru bernomor punggung 10, Maradona mengenakan kostum lain. Kostum yang didominasi warna kuning dan biru. Kostum Boca Juniors, klub yang dicintainya dengan sepenuh hati.

Maradona mencetak dua gol di laga yang berkesudahan 6-3 itu, dan tak kurang 50 ribu orang di La Bombonera, juga ribuan bahkan jutaan lainnya yang menonton pertandingan melalui siaran televisi di kedai-kedai kopi dan bar di sudut-sudut Kota Buenos Aires dan kota dan pelosok-pelosok kampung di Argentina, meneteskan air mata.

Hari itu memang hari yang sedih dan Maradona pergi dari lapangan dengan cara yang tak kalah menyedihkan. Dia berusia 41, penuh lemak, dan tengah berupaya untuk lepas dari ketergantungan alkohol dan narkotika. Dokter juga telah melakukan operasi bypass terhadap jantungnya. Ia kesulitan bernafas karena kegemukan.

Namun, betapa pun menyedihkannya, Diego Maradona tetap Diego Maradona. Seorang reporter mewawancarai Eric Cantona, satu di antara bintang yang diundang Pemerintah Argentina bersama-sama FIFA untuk bermain di laga perpisahan itu.

Cantona bukanlah orang yang terbiasa untuk bermanis-manis kata. Sebaliknya ia terlanjur sohor sebagai lelaki Perancis yang berangasan, arogan, dan hampir-hampir tidak pernah menunjukkan minat untuk sedikit berendah hati. Entah apa yang ada di pikiran reporter itu hingga dari sekian bintang yang bermain dia memilih Cantona. Apakah dia berharap Cantona menunjukkan ketengikan dan mengeluarkan pernyataan kontroversial

Jika ini, maka harapannya meleset, sebab dari mulut Cantona yang menjengkelkan justru lahir salah satu kalimat paling manis dalam mendefinisikan Maradona.

"Dalam perjalanan waktu, orang akan berkata, dalam sepak bola, Maradona adalah dia, yang dalam puisi adalah Rimbaud dan dalam musik adalah Mozart."

Iya, Maradona adalah bola dan sepak bola itu sendiri, sebagaimana nafas Jean Nicolas Arthur Rimbaud dalam larik puisi dan degup jantung Wolfgang Amadeus Mozart pada rangkaian not yang menjelmakan musik.

Sungguh satu pendefenisian yang canggih dan tinggi. Namun itu belum apa-apa dibanding bagaimana orang-orang Argentina memandang Maradona. Sebagian mereka (mungkin sebagian besar) menyebutnya 'Dios' –berangkat dari "kode" nomor punggung Maradona, 'D10S'. Dios bermakna Tuhan.

Di Argentina, ada satu gereja yang diberi nama Iglesia Maradoniana. Gereja pemujaan untuk Maradona yang didirikan pada 30 Oktober 1998, bertepatan dengan ulang tahunnya ke-38. Di gereja ini, ritus-ritus pemujaan untuk Maradona dijalankan berdasarkan 'Sepuluh Perintah Tuhan' yang dimodifikasi. Termasuk di antaranya kewajiban untuk memberi nama depan 'Diego' pada tiap anak lelaki mereka.

Lilin dinyalakan di sisi lukisan Diego Maradona di gereja pemujaan untuk dirinya di Kota Buenos Aires, Argentina.
LILIN dinyalakan di sisi lukisan Diego Maradona di gereja pemujaan untuk dirinya di Kota Buenos Aires, Argentina. (capture youtube)

Ada lagi? Iya, para pengikut Maradona ini bahkan punya Doa Padre Neustro, Doa Bapa Kami, sendiri. Bunyinya begini:

Diego kami yang ada di bumi
dimuliakanlah tangan kirimu
Datanglah keajaibanmu
Biarlah golmu dikenang,
di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami kegembiraan pada hari ini

Apakah Iglesia Maradoniana dan peritusan yang digelar adalah gereja dan agama sungguhan? Barangkali tidak. Iglesia Maradoniana juga disebut Diegorian Brother, dan dari kurang lebih 200 ribu pengikutnya di seluruh penjuru Argentina, lebih dari separuhnya beragama Katolik Roma. Sebagian lainnya Protestan, Evangelikalisme, Agnostik, dan agama-agama lainnya. Mereka mengaku tetap beribadah dan bertuhankan yang ilahiah, tetapi meyakini bahwa memuja Maradona juga akan memberikan kegairahan dalam hati dan ketentraman jiwa.

Gila? Mungkin demikian, dan semua kegilaan ini bermula di Meksiko 1986. Bukan pada 29 Juni. Bukan pada laga puncak itu, melainkan enam hari sebelumnya di fase perempat final. Argentina bertemu Inggris dan Maradona mencatatkan diri sebagai pemain yang mencetak sekaligus gol terbaik dan terburuk sepanjang masa dalam satu pertandingan.

Menit 54, Maradona yang menerima sodoran umpan pendek membelokkan arah bola mengikuti perputaran gerak tubuhnya. Sentuhan ringan ujung sepatu membuat seorang pemain Inggris segera tercecer terpedaya. Maradona lepas dari kawalan dan selanjutnya adalah pertunjukan yang tak mungkin dilupakan. Dua pemain dilewati, pemain ketiga mengira cukup mempertahankan posisi tapi malah kehilangan momentum dan kalah lari. Pemain keempat bernafsu menerkam kaki. Maradona meliuk secara ajaib, memapasnya, juga pemain kelima, lantas dengan kecepatan mengagumkan berlari memasuki kotak penalti.

Peter Shilton, kiper Inggris, mencoba menutup ruang gerak Maradona. Mempersempit ruang tembak. Namun Maradona ternyata belum sampai pada puncak keajaiban. Sekali lagi ia meliukkan badan sebelum dengan kaki kiri menyontekkan bola ke sudut kiri gawang.

Goal of The Century! Satu di antara gol yang tetap akan dianggap paling indah sampai kapan pun. Gol yang abadi. Menyusul keabadian lain yang ia torehkan empat menit sebelumnya. Keabadian yang barangkali saja tidak akan pernah tercipta apabila teknologi Video Assistance Referee (VAR) sudah ada.

Namun tahun 1986, di lapangan Stadion Azteca itu, belum ada VAR. Hanya wasit Ali bin Nasser yang berkebangsaan Tunisia, dan dia tidak melihat kelebatan tangan Maradona yang begitu cepat mendahului tangan Peter Shilton saat melompat menyundul bola.

"Itu memang sebuah gol," kata Maradona di tengah wartawan yang mengerumuninya setelah pertandingan. "Gol yang tercipta karena sedikit sentuhan kepala, dan sedikit bantuan tangan Tuhan."

DIEGO Maradona (kiri) melompat untuk mencetak gol kontroversial ke gawang Inggris pada babak perempat final Piala Dunia Meksiko 1986
DIEGO Maradona (kiri) melompat untuk mencetak gol kontroversial ke gawang Inggris pada babak perempat final Piala Dunia Meksiko 1986 (CBSNews/dok)

Setelah 10 November 2001, Diego Maradona masih meretas sejarahnya. Tak terkecuali di jalan politik. Maradona dekat dengan pentolan nasionalis kanan, Carlos Menem, tapi ia juga bersahabat karib dengan Fidel Castro dan memiliki tato bergambar wajah Che Guevara di lengannya. Adapun wajah Castro terukir di kaki kirinya. Kakinya yang terkuat.

Tahun 2005, Maradona secara terbuka menyatakan sikap menentang proposal Free Trade Area of America (FTAA) atau kawasan perdagangan bebas yang digawangi Amerika Serikat. Ketika Presiden Bush berkunjung ke Argentina, Maradona tampil dalam satu panggung protes bersama dua penentang terkeras dari Amerika Selatan, Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Presiden Bolivia Evo Morales.

Di atas panggung itu, Maradona berpidato. "Argentina sangat layak menendang Bush keluar."

Walau tidak sampai benar-benar berada dalam sistem, sepak terjang politik Maradona boleh dibilang lumayan membekas. Namun sejarah lain yang retasnya hampir semuanya berujung pada kegagalan. Termasuk saat kembali ke lapangan sepak bola dan mencoba peruntungan sebagai pelatih. Ia gagal mengulang sukses, baik di level klub maupun tim nasional.

Ia juga gagal dalam berbagai bisnis. Gagal dalam berumah tangga dan hubungan-hubungan asmara. Gagal dalam membentengi diri dari obat-obatan terlarang dan minuman keras. Maradona nyaris secara terus-menerus mengalami kegemukan, menderita depresi dan halusinasi akut hingga berulangkali pula harus menjalani rehabilitasi. Sembuh sebentar kambuh lagi. Sehat sebentar sakit lagi. Kekayaannya yang berlimpah sedikit demi sedikit tergerus, terutama karena ia juga kerap dituding terlibat dalam upaya pengemplangan pajak. Termasuk pajak pendapatan tatkala ia masih bermain untuk Napoli di Liga Italia.

Meski demikian ada satu hal yang tak tergerus dari Maradona. Hal yang bahkan sudah sampai pada tingkatan keniscayaan. Nama besarnya. Bagi Argentina dia tetap 'Dios'. Tetap "Tuhan" yang dipuja sepenuh hati sekali pun sekarang mereka sudah punya Lionel Messi. Bagi dunia, dia legenda terbesar sepak bola. Maradona adalah sepak bola itu sendiri, seperti musik dan Mozart, dan Rimbaud pada puisi.

Dan 25 November 2020 kiranya juga akan menjadi tanggal yang dikenang dari Maradona. Tanggal di mana sejarahnya benar-benar berakhir. Setelah sempat menjalani operasi subdural hematoma atau pembekuan darah di otak, yang diklaim dokter berhasil tanpa meninggalkan jejak kerusakan pada syaraf, ia yang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan alkohol mendadak mengalami gagal jantung dan mengembuskan nafas penghabisan di rumahnya di Tigre, Buenos Aires.

Usianya 60. Diego Armando Maradona pergi ke haribaan Tuhan untuk mengembalikan tangan yang ia pinjam.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved