Akses Mudah Melalui Gawai, Transaksi Pasar Modal Alami Kenaikan Selama Pandemi
Pada kuartal I ke kuartal II 2020, transaksi dan volume di pasar modal itu mengalami kenaikan dengan angka yang juga lumayan bagus.
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terjadi peningkatan volume dan transaksi perdagangan saham di bursa selama pandemi. Hal itu diindikasikan akibat mudahnya mengakses informasi dan membuka rekening saham hanya dengan gawai atau gadget.
"Ini kalau kita bicara rate nya ada penambahan. Saya menduga, ini akibat saat orang di rumah, mudah mengakses segala informasi lewat gadget. Selain itu akses-akses membuka rekening saham juga mudah dan bisa digunakan melalui gadget," kata Direktur Statistik dan Informasi Pasar Modal OJK, Muhammad Touriq saat menjadi pembicara dalam Webinar Giatkan Literasi Investasi, Bangkitkan Ekonomi Negeri, Sabtu (17/10/2020).
Touriq mengatakan terlihat pada kuartal I ke kuartal II 2020, transaksi dan volume di pasar modal itu mengalami kenaikan dengan angka yang juga lumayan bagus.
"Dari sisi transaksi pada kuartal I terjadi 27 juta kali perdagangan, sedangkan di kuartal II terjadi 34 juta kali perdagangan. Jadi ada kenaikan hampir 20 persen," katanya.
Sedangkan berdasarkan volumenya terjadi peningkatan dari sekitar 429 miliar saham pada 2016 menjadi 493 miliar saham pada 2020. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sekitar 13 persen.
Baca juga: Ekonomi Sumut Terdampak Covid-19, Gubernur Edy Harapkan Sinergi dengan OJK Terus Terjaga
"Sedangkan dari sisi literasi dan inklusi keuangan di Indonesia, kita sudah dua kali mengadakan survei yakni pada 2016 dan 2019, Alhamdulillah hasilnya mengalami kenaikan. Tingkat inklusi atau orang yang menggunakan jasa keuangan sebesar 76,19 persen pada 2019 naik walaupun tidak terlalu signifikan dari 67 persen pada 2016," ujarnya.
Ia mengatakan, walaupun sudah menggunakan produk jasa keuangan tapi ternyata tingkat literasi masyarakat pada 2019 masih mencapai 38 persen saja. Angka ini mengalami peningkatan dari 29 persen di 2016.
"Jadi dia sudah pakai jasa keuangan tapi literasinya masih minim. Ini menjadi tugas kita bersama agar masyarakat tidak hanya menggunakan tapi juga paham dan terliterasi. Kenapa inklusinya tinggi tapi literasinya rendah? Karena kita tahu misalnya sekarang hampir semua orang punya rekening di bank. Inilah yang menyebabkan inklusi nya menjadi tinggi," katanya.
Dikatakannya, dari 34 provinsi di Indonesia, hanya ada 13 provinsi di Indonesia yang punya tingkat literasi di atas rata-rata nasional. Sedangkan di pasar modal pada tahun 2019, tingkat literasi tidak sampai 5 persen.
"Angkanya hanya 4,92 persen. Artinya kalau kita ambil 100 orang yang mengetahui tentang pasar modal itu hanya sekitar lima orang dari 100 orang. Sedangkan inklusi nya di pasar modal baru 1,55 persen. Jadi kalau kita kumpulkan 100 orang, enggak sampai dua orang yang sudah melakukan investasi," katanya.
Sementara itu Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman dalam seminar serupa mengatakan pandemi Covid-19 harusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan investasi.
Baca juga: Pemblokiran Sepihak, Nasabah Bakal Adukan Bank Permata ke OJK
"Saat ini kita sedang mengalami pandemi Covid-19, ini seharusnya menjadi wake up call, harus menyadarkan kita semua bahwa ternyata, manusia boleh berencana, tapi ada hal lain yang bisa membuat rencana kita itu tidak bisa dijalankan. Artinya kita harus menyiapkan segalanya, salah satunya dengan investasi," katanya.
Ia mengatakan dalam masa pandemi ini, kesadaran untuk berinvestasi harusnya bertambah. Melalui Webinar ini pihaknya ingin menyadarkan bahwa investasi itu harus dilakukan sedini mungkin khususnya dalam kondisi pandemi ini.
"Kami juga di pemerintah juga menerbitkan salah satu instrumen investasi yang disebut obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN). SBN ini ada yang ditujukan untuk institusi, tapi kita juga punya produk yang ditujukan untuk investor individu yaitu SBN retail," katanya.
"Tapi satu hal yang pasti, keunggulan SBN retail ini adalah hasil SBN retail ini digunakan untuk ikut membangun negeri, membiayai APBN. Jadi insya Allah sudah dapat return dan aman tapi juga inilah bentuk partisipasi dari investor untuk ikut membiayai APBN termasuk menangani pandemi," pungkasnya. (sep/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/akses-gawai-ojk.jpg)