Sumut Terkini
Bank Sumut, Rasa Aman dan Kepercayaan di Ujung Jari
Meski telah menjadi nasabah sejak 2014, ia baru benar-benar akrab dengan mobile banking dalam beberapa tahun terakhir.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Wajah perbankan hari ini sudah berubah. Bukan lagi semata soal cepatnya transfer atau mudahnya membayar tagihan.
Di balik semua itu, ada satu hal yang kini paling menentukan, yakni rasa aman.
Di tengah maraknya penipuan online dan ancaman kebocoran data, kepercayaan nasabah tak lagi bertumpu pada gedung tinggi atau loket pelayanan, melainkan pada seberapa sungguh-sungguh bank melindungi uang dan data mereka.
Perubahan ini berjalan seiring dengan ledakan konektivitas. Pada awal 2024, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai sekitar 221,56 juta jiwa, atau 79,5 persen dari populasi.
Hampir delapan dari sepuluh orang kini terhubung ke ruang digital. Di saat yang sama, melaporkan nilai transaksi digital banking sepanjang 2023 menembus Rp58.478 triliun, tumbuh 13,48 persen dibanding tahun sebelumnya. Aktivitas keuangan pelan-pelan berpindah ke layar ponsel, menjadi bagian dari keseharian.
Eko Setiawan, seorang guru di Medan, merasakan pergeseran itu secara langsung. Ia telah menjadi nasabah sejak 2014, tetapi baru benar-benar akrab dengan mobile banking dalam beberapa tahun terakhir.
Awalnya sederhana, ia ingin praktis. Namun seiring waktu, yang membuatnya bertahan bukan lagi sekadar kemudahan, melainkan keyakinan bahwa uang dan data pribadinya berada di tangan yang aman.
Dulu, kepercayaan dibangun lewat tatap muka, dari senyum petugas hingga suasana kantor cabang yang hangat.
Kini semuanya berbeda. Kepercayaan lahir dari hal-hal yang tak kasatmata serta ketangguhan sistem aplikasi, edukasi yang konsisten, serta keseriusan bank menghadapi ancaman digital.
Saat pertama kali mengaktifkan layanan digital, Eko tak hanya diajari cara menekan tombol. Ia juga diingatkan untuk menjaga PIN, menyembunyikan kode OTP, dan curiga pada tautan asing. Dari situ ia paham, teknologi hanyalah alat. Tanpa kesadaran pengguna, secanggih apa pun sistem akan selalu punya celah.
Kesadaran ini menjadi makin penting karena pertumbuhan transaksi digital ternyata berjalan beriringan dengan meningkatnya risiko.
Sejak Indonesia Anti-Scam Centre beroperasi pada akhir 2024, mencatat 432.637 pengaduan penipuan digital hingga Januari 2026, dengan nilai kerugian sekitar Rp9,1 triliun.
Di sisi lain, kepolisian mengungkap penindakan 8.831 kasus kejahatan siber sepanjang 2022, melonjak tajam dibanding 612 kasus pada 2021. Modusnya pun makin beragam: phishing, OTP palsu, hingga aplikasi tiruan.
Di sinilah tantangan terbesar perbankan digital berada. Menghadirkan fitur baru memang penting, tetapi membangun literasi keamanan nasabah jauh lebih krusial.
Tanpa pemahaman yang baik, sistem secanggih apa pun akan selalu menyisakan ruang bagi kejahatan.
Bank Sumut
| Pemko Siantar Galakkan Operasi Pekat ke Losmen dan Indekos, Seser Penyakit Sosial Masyarakat |
|
|---|
| 8 Saksi Dihadirkan dalam Kasus Korupsi Penjualan Aset PTPN ke Ciputra Land |
|
|---|
| 252 SPPG di Sumut Dihentikan Sementara, Belum Kantongi SLHS dan IPAL |
|
|---|
| Gebuki Istri dan Tante Usai Mabuk Miras, Pria di Tapteng Dijebloskan ke Penjara |
|
|---|
| DAFTAR 252 SPPG di Sumut yang Ditutup, Berikut Rincian dan Lokasinya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/BANK-SUMUT-Ilustrasi-penggunaan-layanan-mobile.jpg)