Terlilit Utang China, Australia Meradang Pengaruhnya Mulai Diambil Alih di Timor Leste
Namun, tampaknya hubungan Australia mulai renggang dari Timor Leste, karena mereka belakangan lebih memilih untuk meminta bantuan ke China.
Ekonomi Timor Leste yang sebelumnya sudah rentan, kini berada dalam risiko yang lebih besar.
Mengingat sektor pendapatan minyak berkontribusi terhadap sekitar delapan puluh persen dari pengeluaran pemerintah.
Selain itu, kebuntuan politik membuat pemerintah belum menyetujui APBN 2020, yang berarti negara tersebut harus beroperasi di bawah sistem duo-desimal.
• 9 Penyebab Kenapa Rasa Haus Tak Kunjung Hilang, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini?
Sistem yang sama ini pernah digunakan dan disalahkan atas kontraksi ekonomi Timor Leste pada 2017 dan 2018.
Media setempat, The Oekui Post mengatakan, laporan trimestral dari Banco Central Timor Leste (BCTL), baru-baru ini mengumumkan bahwa, jumlah dana perminyakan Timor Lester yang tersimpan di Bank New York sebesar 18,4 miliar dolar AS (Rp 273 triliun)
Mulai tahun 2021, Pemerintah Timor Leste akan menggunakan uang simpanan itu sebagai kebutuhan belanja negaranya sebesar 1,4 miliyar dolar AS atau Rp 20,77 triliun.
Sehubungan dengan hal itu, banyak orang yang mulai berfikir dan prihatin terhadap keberlanjutan kondisi keuangan Timor Leste.
Ke depan, Pemerintah Timor Leste juga menghabiskan sejumlah besar sumber daya untuk proyek Tasi Mane, yang bertujuan untuk membangun fasilitas pengembangan minyak di darat di Timor Leste.
Pendanaan yang dibutuhkan untuk proyek semacam itu sangat besar, dengan perkiraan biaya mulai dari 10 miliar Australia (Rp. 105 triliun) hingga 20 miliar Austalia (Rp. 210 triliun).
Namun, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada investor swasta yang bersedia bergabung dengan proyek tersebut.
Bagi Australia, proyek itu mengkhawatirkan, mengingat China menyatakan minatnya dalam proyek yang digelar pemerintah Timor Leste.
Pertemuan baru-baru ini antara Menteri Luar Negeri Timor Leste dan mitranya dari China juga membuat kedua belah pihak membahas kerja sama yang lebih dekat dalam Belt and Road Initiative.
Hal itu berpotensi memperkuat posisi China sebagai investor untuk Tasi Mane.
Setelah selesai, proyek tersebut akan bertanggung jawab untuk menyediakan sebagian besar kekayaan orang Timor Leste, dan termasuk pembangunan pelabuhan, pembuatan kapal dan fasilitas perbaikan kapal yang terletak sekitar 700 km dari Pelabuhan Darwin.
Proyek itu nantinya akan dikelola oleh sebuah perusahaan China di bawah Sewa 99 tahun.
Dari kerentanan tersebut, masuknya Pemerintah China ke Papua Nugini dan Timor-Leste semakin diperkuat.
Sementara Pemerintah Australia baru-baru ini meminjamkan Rp 1,4 miliar kepada Papua Nugini untuk membantu membiayai kekurangan anggaran.
Australia tidak dalam posisi yang kuat secara finansial untuk membantu lebih jauh terhadap Ekonomi negara itu.
Selain itu, memiliki hubungan perdagangan buruk dengan China, Pemerintah Australia mungkin akan ditekan untuk tidak bertindak ‘ringan tangan’ dalam berurusan dengan tetangga dekatnya.
(*)
Artikel ini sudah tayang di Fotokita dengan judul : Terlilit Utang China, Australia Meradang Pengaruhnya Mulai Diambil Alih di Timor Leste, Tapi Enggan Bantu Rakyat Bumi Lorosae
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/201410101817255_b.jpg)