News Video
Serabi Khas Minangkabau Made In Kampung Baru, Takjil Favorit dan Terbaik Menemani Berbuka Puasa
Di kawasan tersebut ada sekitar 15 sampai 20 tenant pedagang serabi khas Minangkabau dengan menggunakan gerobak sorong.
Serabi tersebut acap kali ramai dengan pembeli, sekitar pukul 16.00 WIB.
"Memang banyak yang beli serabi ini, orang luar Kota Medan, seperti Tanjungmorawa, Deliserdang, Pekanbaru, atau wisatawan yang lagi berkunjung ke Medan la, kalau di bulan Ramadan. Karena, di sini juga dekat daerah perumahan kan," katanya.
Alasan serabi khas Minangkabau sering diburu saat bulan Ramadan untuk menu berbuka puasa. Karena, serabi khas Minangkabau sangat memiliki rasa yang lezat, dan memiliki tekstur yang lembut dibandingkan dengan serabi lainnya.
"Tekstur lembut serabi khas Minangkabau ini karena pakai tepung pulut. Kalau yang lain-lainkan pakai tepung beras. Lalu, dikuah serabinya khas Minangkabau ini pun pakai gula merah yang dicairkan, santan kelapa asli, dan dicampur rempah-rempah khas Minang la. Jadi, itu la yang membedakan serabi Minangkabau sama yang lain," tuturnya.
Memang setiap daerah ada memiliki penganan serabi, dan memiliki cita rasa tersendiri.
Konon kabarnya serabi atau biasa dikenal dengan surabi ini, berasal dari bahasa aksara sunda, yaitu sura yang artinya besar.
Sejak tahun 1923 makanan serabi ini sudah menjadi makanan tradisonal Indonesia.
Akan tetapi, asal-usulnya serabi masih diperdebatkan.
Hal ini tentunya karena setiap daerah memiliki khas makanan serabi, seperti Bandung, Bogor, Jakarta, Jawa Timur, Padang maupun Medan.
Kemudian, satu di antara pedagang serabi khas Minangkabau, Alda, juga menjelaskan hampir rata pedagang serabi di kawasan tersebut menjual serabi khas Minangkabau perporsi Rp 8000-an.
"Sejak tahun lalu harganya serabi memang segitu Rp 8000-an perporsi. Sementara, untuk menu yang lain seperti Roti Jala khas Melayu dan Cendol serta Kolak dingin di banderol perporsinya Rp 10 ribuan," tuturnya.
Ia juga mengatakan pedagang serabi khas Minangkabau yang ada di kawasan Kampungbaru, biasanya jualan sekitar pukul 12.00-20.00 WIB.
Namun, ada juga yang tidak sampai malam hari, sekitar pukul 18.00 WIB sudah tutup karena sudah habis dagangannya.
Seorang pembeli serabi dari Perumnas Mandala, Fitri (52) mengaku tahu serabi khas Minangkabau ada di Medan, karena ia sering melintasi jalan tersebut.
Ia juga menjelaskan, jika saat kepengin berbuka puasa dengan serabi saja, ia selalu singgah di kawasan tersebut.
"Kepengin sih makanya saya pas lewat sini yasudah beli serabi khas Minangkabau ini," kata Fitri.
"Karena tahunya ada pedagang serabi khas Minangkabau saat puasa disini, karena sering melintasi jalan disini, makanya tahu," pungkasnya.
(cr22/tribun-medan.com)