News Video

Serabi Khas Minangkabau Made In Kampung Baru, Takjil Favorit dan Terbaik Menemani Berbuka Puasa

Di kawasan tersebut ada sekitar 15 sampai 20 tenant pedagang serabi khas Minangkabau dengan menggunakan gerobak sorong.

Editor: M.Andimaz Kahfi

Serabi Khas Minangkabau Made In Kampung Baru, Takjil Favorit dan Terbaik Menemani Berbuka Puasa

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Berbukalah dengan yang manis-manis, kalimat tersebut kerap sekali terdengar saat bulan suci Ramadan tiba.

Mengingat kalimat tersebut, di Kota Medan banyak ditemui kuliner berbuka puasa dengan cita rasa yang manis-manis saat Ramadan.

Kuliner tersebut biasanya banyak ditemui saat sore hari, menjelang berbuka puasa.

Satu di antaranya kuliner Serabi Khas Minangkabau, yang dijual di kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan.

Di kawasan tersebut ada sekitar 15 sampai 20 tenant pedagang serabi khas Minangkabau dengan menggunakan gerobak sorong.

Salah satu pedagang serabi dengan nama Serabi Barokah, Ibu Silva mengatakan, setiap bulan Ramadan mereka selalu berjulan serabi khas Minangkabau.

"Tak setiap Ramadan saja kami berjualan serabi, di hari biasa juga jualan. Hanya saja pada bulan Ramadan banyak yang membeli serabi khas Minangkabau, sebagai menu utama berbuka puasa la dan memang menjadi menu favorit. Maka, kalau bulan Ramadan agak banyak jual serabinya, sampai 60 porsi serabi," ujarnya.

Sambungnya, tak hanya serabi saja, Roti Jala khas Melayu juga diburu oleh pembeli.

Pedagang serabi khas Minangkabau dengan menggunakan gerobak sorong dan becak berderet di sepanjang trotar kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020).
Pedagang serabi khas Minangkabau dengan menggunakan gerobak sorong dan becak berderet di sepanjang trotar kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020). (Tribun Medan)

Namun, yang menjadi incaran utama ialah serabi khas Minangkabau.

Karena, sebagian warga Medan sudah mengetahui bahwa di Kampungbaru banyak yang pedagang serabi.

Ia juga menuturkan, sudah sejak tahun 2000-an pedagang serabi khas Minangkabau ada di kawasan tersebut.

"Sudah ada sejak tahun 2000-an la, tetapi saya mulai berdagang serabi sejak tahun 2008 dengan nama Serabi Barokah. Namun, di sekitar saya ini ada yang baru 4 tahun, 3 tahun berjualan serabi," ucapnya.

Salah satu pedagang serabi khas Minangkabau, Ibu Ipah sedang menunjukan serabi khas Minangkabau  di kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020).
Salah satu pedagang serabi khas Minangkabau, Ibu Ipah sedang menunjukan serabi khas Minangkabau di kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020). (Tribun Medan)

Selanjutnya, Ibu Silva yang akrap dipanggil ibu Ipah menuturkan biasanya para pembeli serabi khas Minangkabau ini adalah orang pendatang dari luar daerah Kota Medan.

Baik itu para pekerja yang asaknya dari luar Kota Medan, maupun para wisatawan kota Medan.

Serabi tersebut acap kali ramai dengan pembeli, sekitar pukul 16.00 WIB.

"Memang banyak yang beli serabi ini, orang luar Kota Medan, seperti Tanjungmorawa, Deliserdang, Pekanbaru, atau wisatawan yang lagi berkunjung ke Medan la, kalau di bulan Ramadan. Karena, di sini juga dekat daerah perumahan kan," katanya.

Serabi khas Minangkabau yang dipajang di steling gerobak sorong dan becak di kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020)
Serabi khas Minangkabau yang dipajang di steling gerobak sorong dan becak di kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020) (Tribun Medan)

Alasan serabi khas Minangkabau sering diburu saat bulan Ramadan untuk menu berbuka puasa. Karena, serabi khas Minangkabau sangat memiliki rasa yang lezat, dan memiliki tekstur yang lembut dibandingkan dengan serabi lainnya.

"Tekstur lembut serabi khas Minangkabau ini karena pakai tepung pulut. Kalau yang lain-lainkan pakai tepung beras. Lalu, dikuah serabinya khas Minangkabau ini pun pakai gula merah yang dicairkan, santan kelapa asli, dan dicampur rempah-rempah khas Minang la. Jadi, itu la yang membedakan serabi Minangkabau sama yang lain," tuturnya.

Memang setiap daerah ada memiliki penganan serabi, dan memiliki cita rasa tersendiri.

Konon kabarnya serabi atau biasa dikenal dengan surabi ini, berasal dari bahasa aksara sunda, yaitu sura yang artinya besar.

Sejak tahun 1923 makanan serabi ini sudah menjadi makanan tradisonal Indonesia.

Salah satu pedagang serabi khas Minangkabau sedang menjual serabi kepada pembeli di kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020).
Salah satu pedagang serabi khas Minangkabau sedang menjual serabi kepada pembeli di kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020). (Tribun Medan)

Akan tetapi, asal-usulnya serabi masih diperdebatkan.

Hal ini tentunya karena setiap daerah memiliki khas makanan serabi, seperti Bandung, Bogor, Jakarta, Jawa Timur, Padang maupun Medan.

Kemudian, satu di antara pedagang serabi khas Minangkabau, Alda, juga menjelaskan hampir rata pedagang serabi di kawasan tersebut menjual serabi khas Minangkabau perporsi Rp 8000-an.

"Sejak tahun lalu harganya serabi memang segitu Rp 8000-an perporsi. Sementara, untuk menu yang lain seperti Roti Jala khas Melayu dan Cendol serta Kolak dingin di banderol perporsinya Rp 10 ribuan," tuturnya.

Ia juga mengatakan pedagang serabi khas Minangkabau yang ada di kawasan Kampungbaru, biasanya jualan sekitar pukul 12.00-20.00 WIB.

Pedagang serabi khas Minangkabau dengan menggunakan gerobak sorong dan becak berderet di sepanjang trotar kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020).
Pedagang serabi khas Minangkabau dengan menggunakan gerobak sorong dan becak berderet di sepanjang trotar kawasan Kampung Baru, Jalan Brigjen Katamso, tepat di sebalah Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan, Sabtu (2/5/2020). (Tribun Medan)

Namun, ada juga yang tidak sampai malam hari, sekitar pukul 18.00 WIB sudah tutup karena sudah habis dagangannya.

Seorang pembeli serabi dari Perumnas Mandala, Fitri (52) mengaku tahu serabi khas Minangkabau ada di Medan, karena ia sering melintasi jalan tersebut.

Ia juga menjelaskan, jika saat kepengin berbuka puasa dengan serabi saja, ia selalu singgah di kawasan tersebut.

"Kepengin sih makanya saya pas lewat sini yasudah beli serabi khas Minangkabau ini," kata Fitri.

"Karena tahunya ada pedagang serabi khas Minangkabau saat puasa disini, karena sering melintasi jalan disini, makanya tahu," pungkasnya.

(cr22/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved