News Video
Semengerikan Inikah Anak Gunung Krakatau, Ternyata Aktivitas Vulkanik Sudah Terjadi Sejak 1928
sebuah kapal wisata sempat hampir ditabrak oleh 'bom lava' Anak Gunung Krakatau yang meletus, seperti diwartakan South China Morning Post.
"Sebagian besar, letusan relatif kecil pada skala letusan eksplosif, dan juga menghasilkan aliran lava," tambah profesor Ray Cas.
Pulau di sekitaran Anak Krakatau ini telah menjadi kawasan terlarang untuk di tinggali tetapi menjadi kawasan populer bagi peneliti dan ahli vulkanologi.
Ketika Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883, ia menembakkan hujan abu hingga lebih dari 20 kilometer ke udara.
Dalam serangkaian ledakan yang terdengar hingga 4.500 kilometer mencapai Australia.
Selain itu, secara geografis, Indonesia berada di persimpangan tiga lempeng benua yang berdesakan, di bawah tekanan besar.
Hal itu membuatnya sangat rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Saat ini, Indonesia memiliki hampir 130 gunung aktif yang membentuk sebagian besar dari 'Cincin api' pasifik.
Busur aktivitas seismik yang kuat yang membentang dari Jepang yang rawan gempa melalui Asia Tenggara dan melintasi lembah Pasifik.
MISTERI Suara Dentuman hingga Abu Tebal seperti Hujan, Jadi Bagian Erupsi Gunung Anak Krakatau
Sumber suara dentuman pada Sabtu (11/4/2020) dini hari yang terdengar bersamaan erupsi Gunung Anak Krakatau di wilayah Lampung Selatan, masih menyimpan misteri.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG) Kementerian ESDM menjelaskan, suara tersebut bukan berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (10/4/2020) malam atau pun aktivitas kegempaan.
"Saya sudah konfirmasi petugas pos pengamatan," kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Hendra Gunawan saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.
"Mereka tidak mendengar karena letusannya juga kecil," sambungnya.
Menurut Hendra, tipe letusan Gunung Anak Krakatau tersebut tidak eksplosif, hanya semburan.
Di tipe ini, kata Hendra, suara yang terdengar biasanya hanya mendesis.