Banjir dan Longsor di Tapteng

Tangis Monalisa di Pengungsian Tapteng, Hamil Tua, Gendong Anaknya Lari dari Banjir

Korban banjir yang hamil tua di Tapteng  sempat menangis menanti persalinan di tenda pengungsian dengan cemas.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Tria Rizki

Korban Banjir yang Hamil Tua di Tapteng  Sempat Menangis Menanti Persalinan di Tenda Pengungsian Dengan Cemas


TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN - Seorang ibu hamil yang sedang menanti kelahiran buah hatinya terlihat murung dan melamun di tempat pengungsian Gor Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Senin (15/12/2025). 

Dari kejauhan, ia berkali-kali mengelus lembut perutnya yang sudah membesar dengan menatap arah pintu gor. Sesekali anak perempuannya mendekati dirinya hanya sekedar untuk menyapa sang ibu. 

Saat putrinya yang masih balita menyapa, tatapannya yang tadinya murung kembali tersenyum dalam waktu sesaat.

Perempuan berbaju daster merah ini bernama Monalisa (26).  Ia  bersama anaknya yang balita serta anaknya yang masih dalam kandungan sudah 10 hari berada di Gor Pandan, Tapteng. 

Secara perlahan Monalisa bercerita, ia sempat menangis, saat  tim kesehatan Gor Pandan bilang,  ia  diprediksi akan melahirkan tanggal 20 Desember 2025 mendatang.   

"Sempat stres nangis mengadu ke suami dari telpon. Karena mau lahiran ini. Suami saya gak bisa pulang dari laut karena badai saat itu. Kalau bisa kan lahiran di rumah. Tapi enggak taulah ini. Mudah-mudahan suami bisa pulang, jadi lahiran di rumah," ucapnya sambil menahan tangis. 

Diceritakannya, saat banjir datang menerjang rumahnya, Mona mengatakan, saat itu air banjir sudah tinggi. Namun, saat itu mereka masih mengungsi ke rumah mertuanya.

"Gimana dibilang, bangun tidur udah tinggi air selutut. Kami pikir  enggak terlalu besar. Banjir kedua, air udah mulai naik air. Di rumah belum masuk saat itu.  Jadi kami Beres barang.   rupanya  gak berapa lama air sudah sepinggang masuk rumah kami," ucapnya.

Mengetahui air tinggi, awalnya ikut tetangga mengungsi. Ia pun sudah berkali-kali pindah ke tempat pengungsian.

"Ikut orang kemana mengungsi di situlah mengungsi. Sambil jalan kaki dan gendong anak saya ini. Karena  Suami di laut. Ada memang keluarga  tapi jauh. Awalnya mengungsi di SD dekat rumah, lalu ke tempat mertua.  Tapi karena mertua juga sakit-sakit. Jadi saya memutuskan untuk di tempat pengungsian,"ucapnya.

Dikatakannya, ia memilih di tempat pengungsian, karena ada tim medis yang bisa memantau kondisi mereka.

"Sedihnya itulah saya bersama anak saya di sini bertiga. Suami enggak ada. Kalau bisa melahirkan di rumah. Dann enggak terulang lagi kejadian seperti ini," ucapnya.

Untuk  kondisi janin beserta anak balitanya, kata Mona semua dalam keadaan sehat. Hanya saja, diakuinya ia sempat mengalami sakit pinggang dang sesak di area perutnya.

*pengecekan bayi bagus semua. Sakit pinggang, menyesak di perut di sinilah nangis saya. Saya telpon suami. Tapi untuk persiapan lahiran alhamdulillah banyak bantuan semua. Jadi aman. Tinggal inilah mudah-mudahan bisa lahiran di rumah,"Ucapnya.

Menurutnya  rumahnya hanya terendam banjir dan lumpur. Tetapi, ia tak bisa membersihkan rumahnya dalam keadaan hamil tua.

"Rumah utuh masih ada. Cuman semua barang rusaklah motor, kulkas rusak semua.  Trauma juga kalau malam hari tidur dirumah. Karena belakang rumah kami sungai. Makanya sampai suami datang,  kami akan menunggu di sini," tutupnya.

(Cr5/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved