TRIBUN WIKI

Profil Mian Sirait, Penyandang Disabilitas Penyumbang Medali Emas untuk Sumut

Mian Sirait adalah atlet para taekwondo asal Sumatera Utara yang sebelumnya dikenal sebagai atlet para atletik.

Tayang:
Penulis: Aprianto Tambunan | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
Atlet para taekwondo Sumut Mian Sirait saat meraih medali emas di Kejuaraan Taekwondo Pancasila Cup 2 yang memperebutkan Piala Reda Manthovani. Mian merupakan mantan atlet para atletik yang kini hijrah ke para taekwondo. 

Ia berprestasi di dua cabang olahraga berbeda.

Di para atletik, ia sudah cukup lama aktif dan dikenal sebagai atlet lari jarak menengah.

Setelah itu, ia beralih ke para taekwondo dan langsung memberi hasil penting untuk Sumut.

Keberhasilannya di Pancasila Cup 2 mempertegas bahwa Mian adalah atlet yang kompetitif dan konsisten.

Baca juga: Profil Achmad Syahri As Siddiqi, Anggota DPRD Jember yang Merokok dan Main Game saat Rapat

Ia tidak hanya mengejar medali, tetapi juga membuktikan bahwa perpindahan cabang olahraga bisa menjadi langkah maju jika dilakukan dengan tekad dan latihan yang tepat.

Makin Semangat

Mian Sirait mengaku makin bersemangat setelah ia meraih medali emas.

Mian mengatakan, medali emas yang ia peroleh di Kejuaraan Taekwondo Pancasila Cup 2 ini adalah medali emas pertamanya di cabang taekwondo.

Baca juga: Profil Adela Kanasya Adies, Dokter Muda yang Gantikan Ayahnya Jadi Anggota DPR RI dari Golkar

“Tahun lalu saya meraih medali perunggu, dan tahun ini bisa meraih medali emas. Ini menjadi medali emas pertama saya di taekwondo untuk level nasional,” ujar Mian kepada Tribun Medan, Rabu (20/5/2026).

Dalam dunia olahraga, Mian sempat fokus pada ajang atletik.

Namun, ia kemudian beralih ke taekwondo karena merasa dasar fisik yang terbentuk selama menjadi atlet lari sangat membantu saat beradaptasi dengan olahraga bela diri tersebut.

Baca juga: Profil Eileen Wang, Mantan Wali Kota di California AS yang Mengaku Jadi Mata-mata Tiongkok

“Ketika di atletik saya sudah terbentuk fisik dan otot kaki yang kuat. Saat pindah ke taekwondo, fisik itu masih bisa dikombinasikan. Jadi di taekwondo saya tinggal belajar teknik dan konsentrasi,” katanya.

Pria berusia 31 tahun itu menjelaskan, sekitar 75 persen kekuatan fisik yang dibutuhkan di atletik ternyata memiliki kesamaan dengan kebutuhan fisik di taekwondo, seperti daya tahan, kecepatan, hingga endurance.

Selain itu, faktor regenerasi di cabang atletik yang semakin ketat juga menjadi salah satu pertimbangannya untuk mencoba tantangan baru di dunia para taekwondo.

Baca juga: Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Mantan Ajudan Prabowo di Kopassus Kini Jadi Kepala BAIS

“Kalau di atletik semua klasifikasi bermain bersama, sementara di taekwondo ada pembagian kelas seperti 58 kilogram, 63 kilogram, sampai 70 kilogram. Jadi peluang bersaing juga lebih terbuka,” jelasnya.

Meski begitu, proses adaptasi dari atletik ke taekwondo tidak sepenuhnya mudah.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved