TRIBUN WIKI

Hari Bumi 22 April 2026 dan Kemunculan Masalah Sosial Green Fatigue

Hari Bumi kerap diperingati tiap tanggal 22 April. Namun peringatan Hari Bumi sering memunculkan masalah sosiak green fatigue.

Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/DOK
Sejumlah aktivis lingkungan melakukan long march saat aksi memperingati Hari Bumi di kawasan Lapangan Merdeka, Kota Medan, Senin (22/4/2024). Aksi long march dan teatrikal tersebut dalam rangka memperingati Hari Bumi setiap 22 April. 
Ringkasan Berita:
  • 22 April merupakan peringatan Hari Bumi yang diadakan dengan berbagai kegiatan, seperti menanam pohon dan edukasi lingkungan
  • Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pelestarian lingkungan hidup dan planet Bumi
  • Di tengah peringatan Hari Bumi, muncul masalah sosial green fatigue, kondisi ketika seseorang merasa lelah, jenuh, bahkan kehilangan motivasi untuk peduli terhadap isu lingkungan

 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Hari Bumi kerap diperingati tiap tanggal 22 April.

Pada tahun 2026, tema yang diusung pada Hari Bumi adalah "Our Power, Our Planet" (Kekuatan Kita, Planet Kita).

Tema ini menekankan peran kolektif masyarakat, aksi nyata individu, dan komunitas dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, serta berfokus pada percepatan transisi ke energi bersih dan peningkatan akuntabilitas kerusakan lingkungan.

Baca juga: Apa Itu SnapBoost, Aplikasi yang Viral Disebut Investasi Bodong?

Aksi dari Konservasi Indonesia dalam memperingati hari bumi 2024, di Pantai Labu Pesisir Sumatera Utara, Sabtu (27/4/2024).
Aksi dari Konservasi Indonesia dalam memperingati hari bumi 2024, di Pantai Labu Pesisir Sumatera Utara, Sabtu (27/4/2024). (HO)

Namun, di saat yang lain melakukan peringatan Hari Bumi, muncul masalah sosial yang namanya green fatigue.

Apa itu green fatigue?

Green fatigue adalah masalah sosial dan psikologis, yang menggambarkan kelelahan emosional yang dirasakan individu atau masyarakat akibat paparan berulang kampanye lingkungan, berita krisis iklim, atau tuntutan gaya hidup "hijau" yang terasa overwhelming dan kurang impactful.

Baca juga: Apa Itu Bobibos? Apa Kandungannya dan Amankah untuk Mesin?

Sebagai masalah, green fatigue menghambat partisipasi publik dalam aksi berkelanjutan karena memicu apatis, sinisme, dan regresi ke kebiasaan tidak ramah lingkungan, mirip efek digital fatigue atau ESG fatigue di Indonesia. 

Penyebab Green Fatigue

Penyebab green fatigue cukup beragam.

Salah satunya adalah pendekatan kampanye yang terlalu menekankan ancaman dan bencana tanpa memberikan solusi yang praktis.

Baca juga: Apa Itu Siklon Narelle dan Dampaknya Terhadap Indonesia yang Picu Fenomena Langit Merah di Australia

Selain itu, tuntutan untuk selalu hidup “sempurna” dalam gaya hidup ramah lingkungan juga bisa terasa membebani.

Tidak semua orang mampu langsung beralih ke pola hidup tanpa sampah atau sepenuhnya berkelanjutan.

Ketika ekspektasi terlalu tinggi, masyarakat justru merasa usaha kecil mereka tidak berarti.

Agar masyarakat tidak jenuh dan tetap mau menjaga lingkungan, pendekatan kampanye perlu diubah menjadi lebih realistis dan inklusif.

Sejumlah aktivis lingkungan melakukan long march saat aksi memperingati Hari Bumi di kawasan Lapangan Merdeka, Kota Medan, Senin (22/4/2024). Aksi long march dan teatrikal tersebut dalam rangka memperingati Hari Bumi setiap 22 April.
Sejumlah aktivis lingkungan melakukan long march saat aksi memperingati Hari Bumi di kawasan Lapangan Merdeka, Kota Medan, Senin (22/4/2024). Aksi long march dan teatrikal tersebut dalam rangka memperingati Hari Bumi setiap 22 April. (TRIBUN MEDAN/DOK)

Baca juga: Apa Itu PT ATIC Tbk? Ignasius Jonan Mundur dari Jabatan Presiden Komisaris

Pesan yang disampaikan sebaiknya menekankan bahwa perubahan kecil tetap memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten.

Misalnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, atau mematikan listrik saat tidak digunakan.

Dengan cara ini, masyarakat merasa bahwa mereka mampu berkontribusi tanpa tekanan berlebihan.

Selain itu, penting untuk menghadirkan narasi yang lebih positif dan inspiratif.

Baca juga: Apa Itu Rukyatul Hilal? Ini 96 Titik Pemantauan Hilal di Indonesia, 2 Ada di Sumut

Daripada hanya menyoroti kerusakan lingkungan, kampanye bisa menampilkan kisah sukses individu atau komunitas yang berhasil membawa perubahan.

Peran media sosial juga bisa dimaksimalkan untuk menyebarkan konten yang ringan, kreatif, dan mudah dipahami, sehingga pesan lingkungan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak membosankan.

Pada akhirnya, mengatasi green fatigue bukan hanya tentang mengubah cara komunikasi, tetapi juga membangun kebiasaan yang berkelanjutan.

Baca juga: Apa Itu Epstein Files Library Hingga Bikin Murka Donald Trump ke Wartawan? Simak Penjelasannya

Masyarakat perlu diajak untuk melihat bahwa menjaga bumi bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari gaya hidup yang bisa dijalani dengan cara yang menyenangkan.

Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan fleksibel, semangat menjaga lingkungan dapat terus tumbuh tanpa rasa jenuh, sehingga makna Hari Bumi tetap relevan dan berdampak nyata.

Apa Itu Hari Bumi

Hari Bumi adalah peringatan global tahunan yang diadakan setiap 22 April untuk meningkatkan kesadaran tentang pelestarian lingkungan hidup dan planet Bumi.

Baca juga: Apa Itu Saham Gorengan? Ini Alasan Kenapa Investor Pemula Harus Waspada

Peringatan ini menjadi momen penting bagi jutaan orang di lebih dari 190 negara untuk merefleksikan hubungan manusia dengan alam serta mendorong aksi nyata melawan kerusakan lingkungan.

Hari Bumi pertama kali digagas oleh Senator AS Gaylord Nelson pada 22 April 1970 sebagai respons terhadap kekhawatiran polusi dan kerusakan ekosistem, yang memicu demonstrasi jutaan warga Amerika.

Baca juga: Apa Itu Red Notice Interpol untuk Riza Chalid? Simak Penjelasannya

Pada 2009, PBB secara resmi menetapkannya sebagai Hari Bumi Internasional untuk melindungi ekosistem bersama umat manusia dari perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Di Indonesia, peringatan ini sering melibatkan kampanye daur ulang, penanaman pohon, dan edukasi lingkungan.(ray/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved