Masjid Dongsi, 670 Tahun Mengawal Kemaslahatan Umat Islam di Beijing
Sebenarnya, ada enam masjid di wilayah Distrik Dongcheng. Usia Masjid Dongsi saat ini mencapai 670 tahun
Penulis: iin sholihin | Editor: iin sholihin
Pintu keedua terdiri dari lima ruang, dengan serambi depan dan belakang. Serambi depan dibangun dari bata dengan lengkungan khas Barat, menampilkan gaya arsitektur "perpaduan Timur-Barat" yang khas pada masa modern.
Terakhir bangunan utama atau ruangan salat. Lokasinya berada di halaman ketiga. Posisinya menghadap barat dengan atap bergenteng abu-abu (wu dian ding), lebar lima ruang, dilengkapi serambi depan. Ruang utama salat dapat menampung lebih dari 500 orang sekaligus.
Masjid Dongsi juga menyimpan banyak peninggalan berharga seperti Alquran bertuliskan tangan dari Dinasti Yuan. Ada pula Prasasti Qingzhen Faming Baizi Shenghao yang didirikan pada tahun ke-7 masa Wanli (1579 M).
Tingginya 91 cm dan lebar 67 cm. Bagian depan prasasti menggunakan aksara Han yang menceritakan kisah Nabi Muhammad. Bagian belakang prasasti mengukir empat aksara Han "Li Ben Wu Ji" (Hukum Dasarnya Tanpa Batas) bersama tulisan Arab.
Masjid Dongsi pernah mengalaami renovasi pada 1952 dan 1974. Renovasi pada 1974 yang didanai oleh negara menjadikan masjid ini lebih khidmat dan tenang. Pada 1984, Masjid Dongsi ditetapkan sebagai unit pelestarian budaya tingkat kota. Kini masjid ini menjadi tempat Asosiasi Islam Beijing dan merupakan lokasi ibadah penting bagi umat Islam.
Eksistensi Masjid Dongsi selama ratusan tahun disampaikan Kepala Kantor Urusan Etnis dan Agama Distrik Dongcheng Beijing, Guan Bo.
"Islam memiliki sejarah panjang di Dongcheng dan terus berkembang dengan baik di masa ini. Masjid Dongsi berada di kawasan ramai. Masjid ini berusia 670 tahun dengan kekayaan budaya. Setiap tahun masjid ini melayani kebutuhan ibadah umat Islam," papar Guan Bo.
Guan Bo menjelaskan, Kantor Urusan Etnis dan Agama Distrik Dongcheng bertugas mengurus urusan etnis dan agama
"Kami mengelola dan melayani 14 tempat ibadah. Tiga gereja katolik, tiga gereja kristen, dua vihara dan enam masjid," paparnya.
Tugas pokok Kantor Urusan Etnis dan Agama Distrik Dongcheng adalah menjalankan serta mengkomunikasikan kebijakan negara tentang kebebasan beragama. Kondisi ini menyesuaikan dengan kondisi Tiongkok.
Pihaknya juga melakukan pengelolaan dan pengawasan terhadap urusan keagamaan sesuai hukum, termasuk pengelolaan eksteranal dan sistem secara mandiri.
"Kami semua selalu berpegang pada kebijakan partai dan pemerintah tentang agama. Membimbing para pemuka agama dan umat untuk tetap mencintai partai, tanah air dan agama. Mencintai budaya Tionghoa serta menjalakan kegiatan keagamaan," jelasnya.
Guan Bo menyatakan, Masjid Dongsi menjadi jembatan penting dalam mempersatukan dan menarik umat Islam, menyebarkan semangat patriotisme serta menjalankan kebijakan negara tentang agama.
"Setiap tahun pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha pemerintah beserta instansi terkait mengunjungi enam masjid ini untuk menyampaikan salam kepada para imam dan jamaah," katanya.
Saat Idul Fitri maupun Idul Adha, jumlah jamaah akan membludak. Kantor Urusan Etnis dan Agama Distrik Dongcheng yang bertugas menjamin keselamatan dan menjaga ketertiban jamaah selama beribadah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Imam-Dongsi.jpg)