Sumut Terkini

Harga LPG Non Subsidi Naik, Pengamat Nilai UMKM Tertekan dan Rawan Pengoplosan

Menurutnya, konflik perang di sejumlah wilayah dunia ikut mendorong ketidakstabilan harga energi, termasuk LPG non subsidi.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Alif Al Qadri Harahap
HARGA BBM NONSUBSIDI - Bright Gas di salah satu mini market di Jalan Imambonjol Kisaran, Kabupaten Asahan habis sejak lama. Masyarakat Asahan mengaku, tidak berdampak dengan kenaikan harga LPG 5, 5 kilogram dan 12 kilogram, Rabu (22/4/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Kenaikan harga LPG non subsidi dinilai memberi tekanan bagi pelaku usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih bergantung pada gas elpiji untuk operasional harian.

Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Wahyu Ario dari Universitas Sumatra Utara, mengatakan kenaikan harga tersebut dipengaruhi kondisi geopolitik global yang masih memanas.

Menurutnya, konflik perang di sejumlah wilayah dunia ikut mendorong ketidakstabilan harga energi, termasuk LPG non subsidi.

“Kenaikan harga LPG non subsidi disebabkan kondisi geopolitik dunia yang masih memanas, khususnya akibat perang Iran dengan Israel/AS dan Ukraina dengan Rusia,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Ia menilai, dampak paling terasa akan dirasakan pelaku UMKM yang menggunakan LPG non subsidi, seperti restoran menengah hingga besar.

“Kenaikan ini jelas akan berdampak terhadap biaya produksi dan juga harga produk,” katanya.

Selain itu, Wahyu juga mengingatkan adanya potensi praktik pengoplosan gas karena selisih harga antara LPG subsidi dan non subsidi yang cukup jauh.

“Ini menjadi peluang adanya pengoplosan karena perbedaan harga yang sangat jauh. Untuk itu perlu dilakukan pengawasan ketat agar tidak terjadi penyimpangan,” ucapnya.

Sementara itu, dampak kenaikan harga gas juga dirasakan pedagang kuliner di Kota Medan.

Adi, pekerja di Warkop Senyum Ketawa Agem, mengatakan kenaikan harga gas cukup memengaruhi usaha tempatnya bekerja.

“Cukup berpengaruh lah karena kenaikan harga gas ini. Penjualan juga berkurang karena ekonomi masyarakat juga kan. Jadi ya berkurang juga,” ujarnya kepada Tribun Medan.

Warung yang dikenal dengan menu mie khas tersebut beroperasi selama 24 jam. Dalam sehari, penggunaan gas ukuran 12 kilogram mencapai 3 hingga 5 tabung.

Meski biaya operasional meningkat, pihak warung belum berencana menaikkan harga jual kepada pelanggan.

Menurut Adi, menaikkan harga justru akan semakin membebani konsumen di tengah kondisi ekonomi saat ini.

“Kasihan lah pelanggan kalau langsung naikkan harga. Jadi ya sabar-sabar dulu lah sampai normal,” pungkasnya.

(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved