Sumut Terkini
Cerita Nelayan di Danau Toba, Tangkapan Berkurang, Bantuan Tak Kunjung Datang
Menurut dia, ikan endemik seperti Ihan Batak kini semakin jarang dijumpai di perairan Danau Toba.
Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN- Nelayan di kawasan Danau Toba, khususnya di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, menghadapi tekanan berlapis dalam beberapa tahun terakhir.
Selain penurunan hasil tangkapan, perubahan komposisi ikan dan terbatasnya dukungan pemerintah memperburuk kondisi ekonomi mereka.
Situasi tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Nelayan yang digelar di Pelabuhan Baktiraja, Desa Marbun Toruan, yang diinisiasi Hariara Institute.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah nelayan menyampaikan bahwa hasil tangkapan ikan semakin menurun, sementara jenis ikan yang tertangkap juga mengalami perubahan signifikan.
"Ikan yang dulu banyak, sekarang semakin sulit ditemukan," kata Mostar Simanullang, nelayan dari Desa Simangulampe, Rabu (15/4/2026).
Menurut dia, ikan endemik seperti Ihan Batak kini semakin jarang dijumpai di perairan Danau Toba.
Sebaliknya, ikan invasif seperti red devil justru semakin mendominasi.
Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan nelayan. Ikan lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi semakin sulit diperoleh, sementara ikan invasif tidak selalu memiliki nilai jual yang sama di pasar.
Direktur Eksekutif Hariara Institute, Barita Lumbanbatu, mengatakan penurunan populasi ikan endemik merupakan salah satu persoalan utama di Danau Toba saat ini.
"Ihan Batak bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bagian dari ekosistem dan identitas lokal. Jika terus menurun, dampaknya tidak hanya pada nelayan, tetapi juga pada keseimbangan danau," ujarnya.
Selain tekanan dari spesies invasif, perubahan kualitas air dan aktivitas budidaya juga disebut turut memengaruhi kondisi perikanan.
Di tengah kondisi tersebut, dukungan pemerintah terhadap kegiatan nelayan dinilai masih terbatas.
Dalam surat resmi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Humbang Hasundutan tertanggal 7 April 2026, disebutkan bahwa pihak dinas dapat menghadiri kegiatan Hari Nelayan, namun tidak dapat memberikan bantuan dana maupun benih ikan.
Hal itu disebabkan oleh keterbatasan dan efisiensi anggaran pemerintah daerah.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Humbang Hasundutan, Marudut Situmorang, membenarkan kondisi tersebut.
"Kami tetap mendukung kegiatan ini, tetapi memang untuk saat ini belum bisa memberikan bantuan berupa benih ikan atau dana," ujarnya.
Di sisi lain, aktivitas keramba jaring apung (KJA) masih menjadi perdebatan di Danau Toba.
Menurut Marudut, KJA memiliki peran dalam meningkatkan ekonomi masyarakat.
Namun, jika tidak dikendalikan, aktivitas ini dapat berdampak pada kualitas air dan keseimbangan ekosistem.
"KJA memberikan manfaat ekonomi, tetapi harus diatur dengan baik agar tidak merusak lingkungan," katanya.
Sejumlah kajian sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas budidaya dapat memicu penurunan kadar oksigen di perairan, yang berisiko menyebabkan kematian massal ikan.
Bagi nelayan tradisional, kondisi ini menciptakan ketimpangan. Produksi dari sektor budidaya meningkat, tetapi hasil tangkapan alami justru menurun.
Danau Toba merupakan ekosistem yang kompleks dan sensitif terhadap perubahan.
Debbie Riauni Panjaitan dari Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark menjelaskan bahwa danau ini terbentuk dari letusan supervolcano sekitar 74.000 tahun lalu.
"Ekosistem Danau Toba tidak bisa dilihat secara parsial. Perubahan kecil bisa berdampak besar karena sistemnya saling terhubung," ujarnya.
Badan pengelola geopark juga telah menandatangani kerja sama yang berfokus pada edukasi, konservasi, dan pengabdian masyarakat.
Wakil Bupati Humbang Hasundutan, Junita Rebekka Marbun, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen mendukung kesejahteraan nelayan.
"Program harus benar-benar menjawab kebutuhan nelayan, bukan hanya bersifat umum," katanya.
Dalam forum tersebut, nelayan juga menyampaikan harapan agar kebijakan yang diambil pemerintah lebih berpihak pada kondisi nyata di lapangan.
Selain itu, diperlukan langkah konkret dalam pengendalian spesies invasif, pembatasan aktivitas yang merusak ekosistem, serta pemulihan populasi ikan endemik.
Peringatan Hari Nelayan di Baktiraja juga diisi dengan lomba Solu Sasada yang diikuti empat desa serta pertunjukan budaya. Namun, di balik kegiatan tersebut, persoalan mendasar tetap belum terjawab.
Nelayan menghadapi penurunan hasil tangkapan, ekosistem danau mengalami tekanan, dan dukungan yang tersedia masih terbatas.
Bagi nelayan di Danau Toba, persoalan ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi menyangkut keberlanjutan hidup sehari-hari.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi yang memadai, maka krisis perikanan di Danau Toba berpotensi berkembang menjadi krisis sosial yang lebih luas.
(cr17/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Ketua DPRD Siantar Konfirmasi Absen pada Agenda Retreat di Akmil Magelang karena Sakit |
|
|---|
| PMBM 2026/2027 Diawasi Ketat, Kanwil Kemenag Sumut Gandeng Ombudsman Cegah Kecurangan |
|
|---|
| Kepala BNN Respon soal Gubsu Bobby Minta Pemberantasan Penggunaan Vape di Sumut |
|
|---|
| Hut ke-78 Pemprov Sumut, Bobby Nasution Minta DPRD Buatkan Perda Soal Larangan Vape di Tempat Umum |
|
|---|
| Sumut Tuan Rumah Piala AFF U-19 2026 Kantong Parkir Stadion Teladan Disorot, Begini Kata Kadisporasu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Peringatan-Hari-Nelayan-yang-digelar-di-Pelabuhan.jpg)