Sumut Terkini

Beri Bantuan Korban Longsor, Bupati Tapsel Larang Warga Beternak di Huntara Simatohir

Gus Irawan datang ke huntara ini untuk membagikan bantuan yang diberikan Presiden Prabowo Subianto.

Penulis: Azis Husein Hasibuan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Azis Husein Hasibuan
BERI BANTUAN - Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu memberikan bantuan bagi warga Desa Panobasan Lombang korban longsor di hunian sementara Desa Simatohir, Angkola Barat, Senin (16/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN.COM, TAPSEL- Bupati Tapanuli Selatan menyerahkan bantuan untuk korban warga Desa Panobasan Lombang,  korban longsor di Kecamatan Angkola Barat, Senin (16/3/2026).

Warga korban longsor di Panobasan Lombang sudah direlokasi ke hunian sementara (huntara) yang dibangun di lahan PTPN IV Desa Simatohir.

Sudah dua pekan warga Desa Panobasan Lombang yang terdiri dari 123 kepala keluarga menempati huntara. Sebelumnya mereka tinggal di rumah saudara dan ada pula mengontrak rumah.

Gus Irawan datang ke huntara ini untuk membagikan bantuan yang diberikan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menanyakan kepada kaum ibu apa saja kebutuhan yang diperlukan selama di huntara.

"Selimut, kelambu butuh? Ini merupakan bantuan untuk para warga di Huntara Desa Simatohir yang kami bagikan menjelang Idul Fitri. Semoga bermanfaat," ucapnya.

Gus Irawan menjelaskan, huntara Simatohir akan dilanjutkan pembangunannya menjadi hunian tetap (huntap). Di tempat ini juga sudah berdiri sebuah sekolah dasar untuk kegiatan belajar anak-anak dari Desa Panobasan Lombang.

Ia juga menekankan kepada warga di huntara Simatohir agar menjaga kebersihannya. Termasuk larangan kepada warga untuk beternak jenis apapun.

"Ini sudah kesepakatan bersama PTPN IV agar warga tidak berternak di lokasi ini. Sampah juga jangan dibuang sembarangan nanti menjadi sumber penyakit. Saya mohon pengertiannya," ujarnya.

Lokasi Huntara Lebih Jauh dari Kebun Masyarakat

Dalijaro Mendrofa, warga Desa Panobasan Lombang mengatakan, lokasi huntara yang ditempatinya berada lebih jauh dari tempat mata pencaharian masyarakat. Di desa ini mayoritas warga bertani hingga beternak.

"Masalah jangka panjangnya termasuk pertanian hingga peternakan, karena nanti huntap di sini agak jauh dari kebun warga, bagaimana nanti solusinya ke depan? Sampai hari ini kami masih meraba-raba," ujarnya.

Air Bersih

Pria yang juga berpofesi sebagai pendeta ini juga mengungkap, persoalan air selama dua pekan warga menghuni huntap. 

Memang ada tanki air yang di sediakan, namun ketika keran dibuka, air sama sekali tidak mengalir.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved