Hadirkan Ruang Belajar Kelautan, Pojok Konservasi Laut Perkuat Literasi Pengelolaan Berkelanjutan
Kepala DisKP Sumatera Utara, Supryanto, mengatakan, pengelolaan laut saat ini membutuhkan pemahaman lintas pihak.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem laut, Provinsi Sumatera Utara kini memiliki pusat edukasi kelautan pertama yang diharapkan mampu memperkuat literasi masyarakat, khususnya generasi muda, terkait pengelolaan laut berkelanjutan.
Dengan garis pantai lebih dari 2.300 kilometer dan wilayah laut hampir 4 juta hektare, Sumatera Utara dikenal memiliki kekayaan sumber daya laut yang besar. Wilayah perairannya mencakup ekosistem mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang, serta menjadi habitat satwa laut seperti penyu dan lumba-lumba.
Namun, potensi tersebut dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari penangkapan ikan berlebih, alih fungsi kawasan pesisir, hingga masih terbatasnya pemahaman publik mengenai pengelolaan laut berkelanjutan.
Merespons kondisi tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DisKP) Provinsi Sumatera Utara bersama Konservasi Indonesia meluncurkan Pojok Konservasi Laut, ruang edukasi kelautan pertama di provinsi ini yang dirancang sebagai pusat pembelajaran berbasis sains.
Baca juga: Perkuat Transformasi Kelautan & Perikanan, Bupati Usulkan Pengembangan KNMP
Kepala DisKP Sumatera Utara, Supryanto, mengatakan, pengelolaan laut saat ini membutuhkan pemahaman lintas pihak.
“Laut Sumatera Utara adalah sumber kehidupan dan ekonomi bagi banyak masyarakat pesisir. Namun tanpa pemahaman tentang keberlanjutan, aktivitas di laut berisiko merusak ekosistem dan mengancam sumber penghidupan masyarakat pesisir dalam jangka panjang. Pojok Konservasi Laut kami hadirkan sebagai ruang belajar bersama agar kebijakan dan praktik di lapangan semakin berbasis pengetahuan,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Pojok Konservasi Laut berlokasi di Kantor DisKP Provinsi Sumatera Utara. Ruang ini dirancang sebagai mini learning center yang menjembatani data ilmiah, kebijakan, serta praktik pengelolaan laut di lapangan.
Melalui pendekatan visual dan materi ringkas, pengunjung dapat mempelajari kondisi laut Sumatera Utara, tantangan yang dihadapi, hingga berbagai solusi pengelolaan berkelanjutan yang sedang dikembangkan.
Ruang edukasi ini menyajikan berbagai topik utama, mulai dari target pemerintah dalam MPA Vision 30x45, wilayah Pengelolaan Perikanan 571 dan 572, kawasan konservasi perairan, hingga ekosistem kunci seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang.
Selain itu, ditampilkan pula praktik perikanan dan budi daya berkelanjutan yang berkembang di Sumatera Utara. Salah satu daya tarik utama adalah kurasi informasi mengenai megafauna laut di perairan barat Sumatera Utara berdasarkan hasil ekspedisi OceanX bersama BRIN dan Konservasi Indonesia.
Sundaland Program Director Konservasi Indonesia, Jeri Imansyah, menyebut penyebarluasan informasi ilmiah melalui ruang ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman publik terhadap pengelolaan laut.
“Informasi kelautan yang akurat penting untuk perencanaan dan kebijakan. Tetapi dampaknya akan jauh lebih besar ketika informasi itu juga dipahami publik. Generasi muda perlu mengenal lautnya sendiri agar tumbuh kepedulian jangka panjang. Pojok Konservasi Laut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan praktik pengelolaan berkelanjutan,” jelasnya.
Keterlibatan Generasi Muda jadi Fokus Utama
Peresmian Pojok Konservasi Laut dirangkaikan dengan talkshow yang melibatkan komunitas, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, serta mahasiswa. Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu fokus utama karena dinilai akan berperan besar dalam menentukan arah pengelolaan laut pada masa depan.
Salah satu mahasiswa, Justin Gibrant Sinaga, menilai ruang ini memberi pengalaman belajar yang lebih kontekstual.
“Setelah berkunjung ke Pojok Konservasi Laut, saya bisa melihat data dan kondisi nyata laut Sumatera Utara. Keberadaan ruangan ini penting bagi kami sebagai mahasiswa untuk lebih memahami kenapa kebijakan dan konservasi itu penting,” ujarnya.
Ke depan, Pojok Konservasi Laut diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas pihak dalam meningkatkan literasi kelautan di Sumatera Utara. Inisiatif ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga laut tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada pemahaman dan partisipasi publik.
Konservasi Indonesia menilai, di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem laut di berbagai wilayah Indonesia, pendekatan edukasi berbasis sains menjadi fondasi penting dalam memastikan keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang.
| PENAMPAKAN Serpihan Pesawat ATR 42-500 di Sulsel, Pendaki Gunung Temukan Potongan Baju Berlogo KKP |
|
|---|
| TERNYATA Kades Kohod yang Siap Bayar Denda Rp 48 Miliar ke KKP Terkait Pagar Laut Tangerang |
|
|---|
| 16 Warga Myanmar Curi Ikan di Perairan Indonesia Naik 3 Kapal Malaysia, Beraksi Pakai Pukat Harimau |
|
|---|
| KKP Tangkap Pelaku Illegal Fishing, 3 Kapal Berbendera Malaysia Diamankan, Ini Penjelasannya |
|
|---|
| 16 WARGA MYANMAR DIAMANKAN Dalam 3 Kapal Bendera Malaysia yang Mencuri Ikan di Perairan Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/KONSERVASI-LAUT-Mahasiswa-mengikuti-sesi-edukasi.jpg)