Ribuan Penyintas Banjir Terkena Ispa, Sulit Akses Air Bersih dan Padatnya Tempat Pengungsian
Dikatakannya, Ispa satu diantara penyakit yang selalu terjadi pada saat pasca bencana banjir dan longsor.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah Lisna Panjaitan mengatakan, penyakit terbanyak pasca bencana yang dialami penyintas banjir dan longsor adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa).
Dikatakannya, berdasarkan Data Dinkes Tapteng per Rabu (7/1/2026) pukul 13.00 WIB, jumlah kasus Ispa mencapai 9.729 pasien.
Menurutnya, beberapa diantara penyebabnya adalah, padatnya tempat di pengungsian dan sulitnya mendapatkan air bersih pasca bencana banjir dan longsor.
"Berdasarkan data yang saya berikan itu adalah Ispa yang terbanyak. Namun, kategorinya masih ringan, tidak ada yang sampai sesak nafas," jelasnya saat dikonfirmasi Tribun Medan, Rabu (7/1/2026).
Dikatakannya, Ispa satu diantara penyakit yang selalu terjadi pada saat pasca bencana banjir dan longsor.
"Karena lingkungan kita pada saat banjir atau sanitasinya sudah tidak normal dalam kebersihannya, begitu pun pengaruh air, sulitnya mendapat air bersih. Serta padatnya tempat pengungsian ketika awal bencana kala itu," jelasnya.
Baca juga: Komisi II DPRD Dorong Langkah Dinkes Medan Tangani ISPA Tak Sekadar Imbauan
Namun hingga saat ini, lanjutnya, posko pengungsian di Tapteng sudah sesuai standar dan lebih layak.
"Walau pun kita juga sudah bekerjasama dengan DLH mau pun tim sanitari, tetap saja tidak sepenuhnya berjalan normal pasca bencana," tuturnya.
Menurutnya, kecamatan terbanyak penyintas mengalami penyakit Ispa adalah Tukka sebanyak 3362 kasus. Hutabalang 1.408 kasus dan, Kalangan 1.127 kasus.
"Upaya kita adalah melakukan penanganan kesehatan di seluruh Posko setiap hari. Kemudian menyediakan sanitasi seperti tempat cuci tangan atau pun Disenfektan. Untuk meminimalisir penyakit Ispa," jelasnya.
Ia mengimbau agar penyintas banjir tetap menjaga kebersihannya di lingkungan sekitar tenda pengungsian.
"Minimal meminimalkan penyakit lain timbul dengan menjaga kebersihan sampah yang ada di sekitar kita. Dan mengikuti arahan-arahan dari setiap tim medis yang ada di posko," jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Dinkes Tapteng yang Tribun Medan dapatkan, selain Ispa penyakit kedua terbanyak pasca bencana adalah penyakit kulit, hipertensi, dan diare akut, influenza lika illnes (ILI) dan suspek demam tifoid.
Untuk penyakit kulit ditemukan sebanyak 4.164 kasus, hipertensi sebanyak 1.625 kasus, diare akut sebanyak 1.139 kasus, ILI sebanyak 128 kasus dan suspek demam tifoid sebanyak 102 kasus.
Untuk penyakit diare, Ispa, dan penyakit kulit didominasi oleh Kecamatan Tukka, sementara untuk penyakit ILI didominasi oleh Kecamatan Aek Raisan dan untuk suspek demam tifoid didominasi oleh Kecamatan Sibabangun.
Diketahui, Kabupaten Tapteng mengalami bencana banjir dan longsor pada 25 November 2025 lalu. Akibatnya sejumlah kecamatan mengalami kerusakan parah dan banyak memakan korban jiwa.
Berdasarkan data BPBD Sumut pukul 08.00 WIB, Rabu (7/1), jumlah korban meninggal di Tapteng capai 129 orang dan hilang 35 orang. Jumlah ini terbanyak dibanding kabupaten/kota di Sumut lainnya.
| Mi Instan dan Telur Lauk Sahur Berbuka, Suasana Bulan Ramadan di Huntara Asrama Haji Pinangsori |
|
|---|
| Penyintas Banjir Jalankan Puasa di Pengungsian, Alami Kebanjiran Tiga Kali sejak November 2025 |
|
|---|
| Kunjungan Humanis Polri ke Madrasah Sipirok, Cek Fasilitas Pengungsian dan Beri Motivasi Pelajar |
|
|---|
| Huntap Dibangun di Atas Lahan 5 Hektare, Ditargetkan Selesai Awal 2026 |
|
|---|
| DPRD Sumut: Disdik Harus Izinkan Siswa di Daerah Bencana ke Sekolah Tanpa Seragam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kondisi-suasana-posko-tempat-pengungsian-penyintas-banjir-di-Simpang-Kelurahan.jpg)