Banjir dan Longsor di Taput
Rayakan Natal dan Tahun Baru Tanpa Ayah dan Adik, Korban Bencana Alam di Taput Tasya: Hampa
Tasya saat itu sedang bersama neneknya pada sebuah acara adat sehingga ia tidak tidur bersama orang tua dan adiknya.
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG- Kesedihan dan ketakutan masih terlihat di wajah Tasya Boru Sitompul (17), korban bencana alam di Dusun I Hutaharambir, Desa Adiankoting, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput pada tanggal 25 November 2025 lalu.
Ayahnya yang bernama Bangun Sitompul (47) dan adiknya yang masih berumur 10 bulan tertimpa material longsoran hingga meninggal dunia.
Pada saat kejadian, ayah, ibunya dan adiknya tengah tidur pulas di kamar. Hitungan detik, material longsoran hantam rumah mereka hingga ketiganya terjebak.
Tasya saat itu sedang bersama neneknya pada sebuah acara adat sehingga ia tidak tidur bersama orang tua dan adiknya.
Ibunya yang bernama Betty boru Hutabarat juga ikut menjadi korban namun masih bisa diselamatkan warga sekitar.
Sementara ayahnya dan adiknya adalah korban meninggal dunia dalam peristiwa nahas tersebut. Hingga kini, ibunya juga masih rutin berobat ke dokter dan pengobatan tradisional.
Tasya bersama ibunya kini tinggal di rumah neneknya sembari jalani hidup. Tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan ibunya untuk menyambung hidup. Sebelumnya, ayahnya adalah seorang petani dan juga tukang bangunan.
Kini, ibunya harus bekerja keras walau seluruh lahan pertanian mereka tertimpa longsor.
Ia tetap ikut dalam kegiatan memeriahkan acara Natal, namun tak seperti sediakala lagi.
"Tak ada kegembiraan Natal bisa kunikmati, seperti terasa hampa. Biasanya, aku ikut kegiatan Natal. Saat ini, aku tak bisa merasakan kegembiraan," ujar Tasya boru Sitompul (17) saat ditemui di rumah neneknya yang beralamat di Dusun I Hutaharambir, Desa Adiankoting, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput, Minggu (4/1/2026).
Suasana Tahun Baru 2026 juga baginya terasa hampa. Ingatan akan kepergian dua orang yang ia kasihi masih membekas. Ayah dan adiknya sudah tiada.
Remaja yang bercita-cita menjadi desainer ini pun sepertinya tak memiliki harapan lagi.
"Kayaknya, aku harus kubur cita-citaku itu. Ayah adalah tulang punggung dalam keluarga. Kalau cuman ibu yang kerja, mungkin tak sanggup," lanjutnya.
Ia kisahkan, dirinya tetap semangat melanjutkan pendidikannya namun tak mungkin meraih cita-citanya.
Tak hanya dia yang merasakan sepinya tahun baru kali ini. Masyarakat sekitar juga terlihat tidak melakukan banyak aktivitas di luar rumah.
(cr3/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Dedi Mulyadi Bantu Relokasi 58 Rumah Korban Bencana di Tapanuli Utara |
|
|---|
| Tinjau Pembangunan Jembatan Pascabencana di Purbatua, Bupati Taput Jonius Hutabarat Sampaikan Ini |
|
|---|
| Didukung Anggaran Rp 200 Miliar, Bupati: Pemulihan Sungai Pascabencana di Tapanuli Utara Dipercepat |
|
|---|
| Masa Tanggap Darurat Berakhir, Bupati Humbahas Oloan Nababan Siapkan SK Transisi Tanggap Darurat |
|
|---|
| Pascabencana, Bupati Humbahas Oloan Nababan: 134 KK Akan Direlokasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Tasya-Boru-Sitompul-17-korban-bencana-alam-di-Dusun-I-Hutaharambir.jpg)