Banjir dan Longsor di Tapteng

Terpisah dari Ibu, Johanes Bertahan 1,5 Jam di Atas Ranting Melawan Banjir di Hutanabolon Tapteng

Keberanian dan semangat Hidup Johanes (16) melawan banjir dan longsor di Hutanabolon, Tapteng berbuah manis. 

|
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Yohanes (16) saat diwawancarai di posko pengungsian Simpang kelurahan Sipange- Hutanabolon, Senin (15/12/2025). Yohanes selamat dari banjir setelah bertahan selama 1,5 jam di atas ranting. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Keberanian dan semangat Hidup Johanes (16) melawan banjir dan longsor di Hutanabolon, Tapteng berbuah manis. 

Sebab, ia akhirnya selamat dari banjir dan longsor yang melanda kampungnya dengan cara bertahan di atas ranting pohon yang juga menyeretnya selama 1,5 jam.    

Meski selamat, rasa duka bencana itu tak kunjung padam, sebab sang ibu beserta neneknya tak selamat dari bencana ini. 

Saat didatangi Tribun Medan ke Posko Pengungsian Simpang Kelurahan Hutanabolon-Sipange, Kecamatan Tukka Kabupaten Tapteng, Johanes enggan bermain dengan teman-temannya yang lain. 

Ia hanya duduk di tenda sampai kedua kakaknya yang sedang di rantauan tiba ke kampungnya. 

Ketika didekati, Johanes bercerita, awalnya ia bersama sang ibu dan neneknya bertahan di rumahnya karena ibunya percaya ini hanya banjir biasa. 

Namun, tak berapa lama, banjir mulai memasuki rumahnya. Ia bersama ibu dan neneknya bergegas naik ke atas atap. 

Namun dalam hitungan detik, rumah mereka tenggelam di sapu banjir. Sehingga sang nenek hanyut terbawa banjir.

"Ternyata banjir semakin tinggi. Rumah kami roboh kami naik ke atas genteng. Ternyata air semakin deras. Akhirnya hanyutlah nenek," ucapnya. 

Selang beberapa nenek hanyut, kata Johanes, atap yang kami duduki juga mulai terbawa arus, akhirnya ia bersama sang ibu pun hanyut.

Namun, saat itu, kata Johanes, ia masih berpegangan tangan dengan sang ibu. Sampai akhirnya, ada pusaran air yang cukup deras dan kayu besar yang menghantam, mereka pun terpisah.

"Gak lama hanyutlah kami. Itu masih sama tapi ada pusaran air deras ditambah ada kayu disitulah aku sama mamak terpisah," ucapnya dengan nada pelan sambil mengenang kejadian. 

Saat kejadian yang cukup mencekam itu, Johanes pun berusaha tetap tenang. Dari matanya sudah terlihat kayu-kayu yang mengalir di banjir itu. Tak ada satu orang pun yang ia lihat.

"Saya bertahan di atas ranting-ranting pohon dan kayu itu. Tapi memang badan kaki udah lukalah dengan kayu. Saya lihat gak ada orang takutlah. Tapi ada sekitar 1,5 jam saya bertahan, saya lihat ada orang yang masih bertahan di atas genteng, menepi sekuat tenaga dibantu mereka biar naik ke atas genteng itu," ucapnya.

Dikatakannya, ada 3 jam mereka menunggu air itu surut. Setelah surut, barulah mereka turun untuk mencari bantuan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved