Banjir dan Longsor di Sumut
Duka Mendalam di Kelurahan Hutanabolon Tukka Tapteng, Satu Kampung Hampir Rata dengan Tanah
Perkampungan yang awalnya dihuni warga untuk melangsungkan hidup seolah-olah sirna ditelan bumi.
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bencana banjir bandang yang terjadi di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa 25 November lalu begitu mengerikan.
Duka yang mendalam pun dirasakan masyarakat yang tinggal di area perbukitan ini.
Satu kampung di Kelurahan tersebut, tepatnya di Lorong 3 dan 4 hampir musnah.
Perkampungan yang awalnya dihuni warga untuk melangsungkan hidup seolah-olah sirna ditelan bumi.
Rumah-rumah masyarakat Desa tertimbun tanah tak terlihat lagi.
Kalaupun ada, kondisinya rusak parah dan hampir tertutup tanah liat yang terbawa air banjir.
Kayu gelondongan dan batu-batu gunung berukuran besar yang terbawa longsor maupun banjir terlihat menumpuk di pemukiman.
Sepanjang perjalanan menuju ke Hutanabolon, tepatnya di Lorong 3 dan 4, hampir semua rumah warga tinggal lantainya saja.
Beberapa terlihat sisa-sisa pondasinya saja, dan bagian tembok, maupun atapnya sudah tersapu air atau tertimbun longsor.
Untuk menuju kemari pun butuh persiapan ekstra seperti mobil double cabin, atau motor trail.
Sebab, masih ada jalan masih banjir setinggi betis orang dewasa.
Ditambah, lumpur masih tinggi dan sisa-sisa lumpur masih berada di kanan kiri jalan.
Untuk bertahan hidup, masyarakat betul-betul mengandalkan pemerintah ataupun bantuan.
Sejumlah warga yang masih bertahan terlihat memasak air menggunakan kayu bakar, dan makan seadanya.
Babinsa Kecamatan Tukka, Koptu Holmes Padang mengatakan, di Kelurahan Hutanabolon sebanyak 20 orang meninggal dunia.
Sekitar 9 diantaranya sudah ditemukan dan 11 orang lagi masih hilang.
"Kalau korban jiwa di Kelurahan hutan nabolon
korban jiwa 20 orang. Kemudian yang sudah ditemukan 9 orang,"kata Koptu Holmes Padang, di lokasi, Sabtu (6/12/2025).
Kelurahan Hutanabolon kurang lebih dihuni 874 kepala keluarga, dengan jumlah warga sekitar 2.927 orang.
Akibat bencana ini, warga mulai meninggalkan kampung mereka entah kemana.
Namun sebagian ada yang mengungsi di posko darurat.
Untuk total rumah, Koptu Holmes mengatakan sebanyak 301 rumah rusak berat seperti hilang, tinggal atap atau tinggal lantai 2 saja.
Kemudian yang rusak sedang sebanyak 54, dan rusak ringan 66 rumah.
Sebagai wilayah terparah, warga Kelurahan Hutanabolon sempat terisolasi akibat jalan putus, dan dipenuhi lumpur sepinggang orang dewasa.
Mereka nyaris mati kelaparan lantaran selama berhari-hari tak makan, maupun minum.
Kalaupun ada, cuma sekadarnya karena tak sempat menyelamatkan harta benda, maupun makanan.
Mereka sempat menerima bantuan logistik dari pemerintah menggunakan helikopter.
"Untuk distribusi bantuan kendalanya itu kemarin air masih tinggi dan sempat dikirim menggunakan helikopter."
(Cr25/Tribun-medan.com)
| Derita Warga Garoga Puasa Sahur Makan Mi Instan |
|
|---|
| Kunjungi Tapteng, Titiek Soeharto dan Kapolri Bawa Bantuan 16 Truk: Semoga Bisa Bermanfaat |
|
|---|
| 33 Korban Banjir dan Longsor Tapanuli Tengah Masih Belum Ditemukan, Begini Kata Basarnas |
|
|---|
| Kepastian Akan Ada Tersangka Banjir Bandang Garoga, Kejagung Terus Dalami Keterlibatan PT TBS |
|
|---|
| Dana Bansos dari Kemensos Tak Kunjung Cair, Warga Hutanabolon Tapteng Masih Tunggu Janji Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kondisi-di-lorong-3-dan-4-Kelurahan-Hutanabolon-Kecamatan-Tukka.jpg)