Banjir dan Longsor di Taput

Cek Lokasi Pembersihan Material Longsor, Pangdam: Kita Tetap Bergerak Sembari Salurkan Bantuan

Kunjungan tersebut sekaligus melihat kondisi prajuritnya yang tengah berjuang membuka akses jalan dari Taput menuju Tapteng. 

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Maurits Pardosi
Pangdam I BB Mayjen TNI Rio Firdianto sambangi Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara kemarin, Kamis (4/12/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG- Pangdam I BB Mayjen TNI Rio Firdianto sambangi lokasi bencana alam di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara kemarin, Kamis (4/12/2025) malam.

Kunjungan tersebut sekaligus melihat kondisi prajuritnya yang tengah berjuang membuka akses jalan dari Taput menuju Tapteng. 

Pembersihan material masih berlangsung hari ini, Jumat (5/12/2025).

Dalam pembersihan tersebut, satu jasad korban ditemukan yang berada pada areal yang dipenuhi truk di desa tersebut.

"Hari ini saya datang untuk mengecek keselamatan dan kesehatan seluruh prajurit saya bersama satgas gabungan yang ada di sini," ujar Pangdam I BB Mayjen TNI Rio Firdianto, Kamis (4/12/2025) malam.

Pembersihan material berlangsung sementara warga dari desa yang lain berupaya mendapatkan sembako dari bantuan yang terkumpul.

Hingga saat ini, akses jalan masih berada di Desa Sibalanga tepatnya di KM 38. 

Selain itu, masyarakat Desa Sibalanga juga sudah bisa mengakses internet pada malam hari menggunakan starlink.

Walau masih tergolong lambat, jaringan tersebut tentunya sudah membantu masyarakat memberi kabar kepada keluarganya yang lain yang berada di luar Kabupaten Taput.

"Kita sudah sampai ke titik yang ke-39. Memang 36 kilometer ini dapat ditempuh selama 7 hari. Artinya setiap harinya, material longsoran yang bisa dibersihkan sepanjang 3 hingga 5 kilometer per hari," sambungnya.

Sekitar 500 meter dari desa tersebut, timbunan longsor juga akan ditemukan dan menjadi posko bagi para pelintas.

Mereka mengonsumsi makanan yang ada sembari bertahan hidup. Sesekali mereka pergi ke desa terdekat guna mendapatkan bantuan pangan.

"Setelah tiba di Desa Sibalanga ini, jalan yang bisa dikerjakan diperkirakan hanya sebatas 300 hingga 500 meter," sambungnya. 

Ia juga menyoal berbagai tantangan yang ditemukan selama proses eveakuasi dan pembersihan material longsor.

"Setibanya di titik ini, kita tidak bisa bergerak maju karena timbunan longsor yang sangat banyak dan tempat pembuangan juga tidak ada. Selanjutnya, sumber air atau mata air banyak kita temukan sehingga material lumpur dari bagian atas," sambungnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved