Warga di Parsingkaman Trauma Tiap Hujan Datang

Puluhan titik longsor ia lewati sejak berangkat dari Desa Bonandolok menuju Desa Parsingkaman.

|
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
Kondisi jalan di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara pada hari ini, Kamis (4/12/2025). Warga kembali takut karena hujan deras guyur kawasan tersebut. 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG -  Warga Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting lumpuh total. Masyarakat masih sibuk membersihkan material longsor dan luapan lumpur yang masuk rumah warga. Kemarin, kawasan tersebut diguyur hujan deras. Masyarakat  kembali merasa trauma.

Terlihat, sebagian warga memilih berada di rumah masing-masing. Namun sebagian masyarakat masih berada di posko pengungsian. Termasuk para sopir lintas yang terjebak karena sejumlah titik di Kecamatan Adiankoting mengalami longsor. Mereka siaga sambil menunggu informasi pembersihan material longsor.

"Sudah 10 hari, aku terjebak di sini. Belum ada informasi terbaru soal penanganan bencana ini. Akses menuju perbatasan Tapteng belum bisa dilalui," ujar seorang sopir bermarga Panggabean yang tengah duduk di warung di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kamis (4/12/2025).

Hal sama juga disampaikan seorang pelintas dari Desa Bonandolok, Masgito Siregar (32). Puluhan titik longsor ia lewati sejak berangkat dari Desa Bonandolok menuju Desa Parsingkaman. Ia bersama rekannya menempun perjalanan selama 8 jam dari Bonandolok menuju Parsingkaman. Mereka berjalan melewati jalur jalan utama.

"Rasanya takut sekali ketika hujan datang. Kami berangkat dari Bonandolok menuju Desa Parsingkaman ini memakan waktu lebih dari 8 jam. Pasalnya, kami berangkat pukul 8.00 WIB dan kami tiba di Parsingkaman ini pukul 16.00 WIB," ujar Masgito Siregar.

Baca juga: Kisah Pengemudi Bus Terjebak Longsor Berhari-hari di Kecamatan Adiankoting Tapanuli Utara

Ia bersama rekannya berangkat dari Bonandolok ke Parsingkaman untuk kembali bekerja. Mereka terlihat menggunakan tongkat di tangan. Selama perjalanan, mereka membawa bekal seadanya sebagai persiapan manakala haus dan lapar selama perjalanan.

Sepanjang jalan, mereka menemukan beberapa posko dan beristirahat sembari menunggu hujan reda. Walau menggunakan mantel hujan, mereka kedinginan.

"Apa pun yang terjadi, kami harus tetap jalan," sambungnya.

Ia pergi ke Bonandolok untuk melihat kondisi istri dan keempat anaknya. Lalu, ia kembali bekerja ke Parsingkaman. 

Akibat hujan deras, jalan sepanjang Kecamatan Adiankoting menjadi licin. Tanah yang sudah digeser alat berat di pinggir jalan dibawa hujan dan menyebabkan lumpur. Dengan demikian, kendaraan yang melintas harus mengurangi kecepatan agar tidak tergelincir saat melintas.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved