Gunakan Gas Melon dan Kayu Bakar, Rumah Makan Khas Batak Belum Terdampak Harga LPG Nonsubsidi
sejak awal lebih menghemat biaya untuk memenuhi permintaan katering makanan dalam jumlah besar
Penulis: Alija Magribi | Editor: Eti Wahyuni
Pemilik usaha asal Siantar Marihat ini mengatakan bukan hanya kenaikan LPG non-subsidi yang membuat mereka sulit, tetapi kenaikan harga MinyaKita dan plastik kemasan ikut mempengaruhi modal usaha mereka.
"Yang penting sehat-sehat lah kita, Dek," ucap Lili dengan senyum pahit mengingat kondisi sulit yang ia hadapi saat ini.
Dikatakan Lili, harga MinyaKita saat ini sudah menyentuh eceran tertinggi, yakni Rp 18.000 bahkan lebih. Begitu juga dengan harga plastik kemasan dan plastik asoy yang rata-rata naik di angka 30-40 persen untuk semua jenis ukuran.
"Plastik asoy misalnya. Dari yang harganya Rp 8.000 sekarang sudah Rp 14.000 per pack. Ya kayak mana lah kalau begini, semua-semua naik harganya," kata Lili.
Ia belum berencana menaikkan harga kue basah kepada pelanggan yang biasanya mengorder dalam satuan kotak/box. Namun ia mempertimbangkan untuk menyesuaikan bentuk ukuran kue yang dibuat saat ini.
"Ya bayangkan lah, dek. Anggota saya ada 10 orang juga kan. Kita juga memikirkan kelangsungan teman-teman yang bekerja. Untuk harga kue kotak nggak akan saya naikkan. Masih tetap segitu," kata Lili.
Ia pun berharap agar pemerintah segera mencari solusi untuk mengembalikan harga seperti semula. Sebab kenaikan yang terjadi di segala lini ini mengakibatkan potensi kenaikan pada seluruh jenis kebutuhan pokok di pasaran.
“Saya rasa pelaku usaha kue lain, sama seperti kami kami ini," pungkas Lili.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Penjualan-Gas-LPG-3-kg.jpg)