Gunakan Gas Melon dan Kayu Bakar, Rumah Makan Khas Batak Belum Terdampak Harga LPG Nonsubsidi
sejak awal lebih menghemat biaya untuk memenuhi permintaan katering makanan dalam jumlah besar
Penulis: Alija Magribi | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Sejumlah pengusaha rumah makan dan katering makanan khas Batak di Kota Pematangsiantar mengaku masih wait and see terkait kenaikan harga gas LPG non-subsidi yang dimulai pada 18 April 2026 kemarin. Seperti diketahui, kenaikan LPG non-subsidi berlaku untuk tabung 5,5 kg dan 12 kg.
Sahat Pardede, pemilik usaha RM Batak di Kampung Kristen, Kota Pematangsiantar menyebut bahwa sebagai pengusaha F&B kecil, ia masih bisa memakai gas 3 kg. Sehingga tak terpengaruh atas kenaikan LPG non-subsidi.
"Kami kan pemilik rumah makan masih bisa pakai gas 3 kg. Jadi nggak terpengaruh dengan kenaikan harga gas LPG non-subsidi tersebut ya. Harga gas LPG 3 kg di pasaran pun masih normal, belum ada kenaikan," kata Sahat saat dikonfirmasi Rabu (22/4/2026).
Dengan masih dibolehkannya penggunaan LPG 3 kg, ujar Sahat, tentu mereka tak punya niatan untuk melakukan penyesuaian harga pada menu makanan khas Batak yang didagangkan.
"Belum ada ke arah sana. Karena kita pakai gas 3 kg masih bisa. Pengusaha mikro masih bisa," kata Sahat.
Sementara itu, Jani Apohan, salah satu pengusaha katering makanan khas Batak juga menyebutkan bahwa ia dan teman-teman lain masih memakai kayu untuk memasak makanan orderan untuk kebutuhan pesta pernikahan mau pun kematian.
Baca juga: Harga Gas LPG Nonsubsidi Naik, Pedagang di Medan Makin Tercekik dan Keuntungan Tipis
Memasak dengan kayu, ujar Jani Apohan, sejak awal lebih menghemat biaya untuk memenuhi permintaan katering makanan dalam jumlah besar ketimbang memakai tabung LPG 12 kg.
"Kita dari awal buka usaha pakai kayu bakar karena jumlah permintaan kan besar. Jadi nggak terpengaruh juga dengan kenaikan gas non-subsidi. Justru kita naikkan harga kalau harga sembako yang naik, bukan gas," kata Jani Apohan.
Berdasarkan amatan Tribun Medan, kenaikan harga gas LPG non-subsidi yang berlangsung sejak empat hari lalu belum mempengaruhi gejolak daya beli masyarakat. Hal ini terpantau dari aktivitas kuliner yang ada di Simpang 4 Jalan Gereja yang terkenal dengan makanan mi pansit B2 dan kondisi serupa dengan Chinese Food yang diperdagangkan di Jalan Cipto Kota Pematangsiantar.
Kepala Bagian Ekonomi Setdako Pematangsiantar, Sari DR Damanik SSTP menyebutkan bahwa berdasarkan Permen ESDM No 28 tahun 2021 menyebutkan bahwa pengusaha mikro diperbolehkan menggunakan gas LPG 3 kg bersubsidi, termasuk untuk nelayan dan petani sasaran.
Namun begitu, persyaratan usaha mikro yang dibolehkan menggunakan LPG 3 kg wajib terdaftar dalam program subsidi tepat dengan NIB (Nomor Induk Berusaha) untuk memastikan penggunaan tepat sasaran.
"Kalau untuk UMKM dan rumah tangga ya boleh pakai LPG gas melon dengan memperhatikan kuota dan syarat-syarat dari pangkalan," kata Sari.
Terjepit Harga MinyaKita dan Plastik
Lili, pelaku usaha kue basah di Kota Pematangsiantar mengaku terjepit dengan kenaikan sejumlah kebutuhan bahan pokok dan plastik kemasan.
Pemilik usaha kue bernama ‘Dian Catering’ ini menyebut, kondisi pasar saat ini tak menentu di tengah daya beli masyarakat yang rendah.
Pemilik usaha asal Siantar Marihat ini mengatakan bukan hanya kenaikan LPG non-subsidi yang membuat mereka sulit, tetapi kenaikan harga MinyaKita dan plastik kemasan ikut mempengaruhi modal usaha mereka.
"Yang penting sehat-sehat lah kita, Dek," ucap Lili dengan senyum pahit mengingat kondisi sulit yang ia hadapi saat ini.
Dikatakan Lili, harga MinyaKita saat ini sudah menyentuh eceran tertinggi, yakni Rp 18.000 bahkan lebih. Begitu juga dengan harga plastik kemasan dan plastik asoy yang rata-rata naik di angka 30-40 persen untuk semua jenis ukuran.
"Plastik asoy misalnya. Dari yang harganya Rp 8.000 sekarang sudah Rp 14.000 per pack. Ya kayak mana lah kalau begini, semua-semua naik harganya," kata Lili.
Ia belum berencana menaikkan harga kue basah kepada pelanggan yang biasanya mengorder dalam satuan kotak/box. Namun ia mempertimbangkan untuk menyesuaikan bentuk ukuran kue yang dibuat saat ini.
"Ya bayangkan lah, dek. Anggota saya ada 10 orang juga kan. Kita juga memikirkan kelangsungan teman-teman yang bekerja. Untuk harga kue kotak nggak akan saya naikkan. Masih tetap segitu," kata Lili.
Ia pun berharap agar pemerintah segera mencari solusi untuk mengembalikan harga seperti semula. Sebab kenaikan yang terjadi di segala lini ini mengakibatkan potensi kenaikan pada seluruh jenis kebutuhan pokok di pasaran.
“Saya rasa pelaku usaha kue lain, sama seperti kami kami ini," pungkas Lili.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Penjualan-Gas-LPG-3-kg.jpg)