Mutiara Ramadan

Ramadan Jalan Meningkatkan Kesalehan Sosial

Dalam Al Quran, konteks ibadah puasa disebutkan setidaknya sampai 13 kali dengan penjelasan paling lengkap pada Al Baqarah 183-187.

Editor: Ayu Prasandi
IST/Generator by AI
Ramadan Jalan Meningkatkan Kesalehan Sosial 

H. Gus Irawan Pasaribu, SE.Ak., MM., CA., Bupati Tapanuli Selatan

H. Gus Irawan Pasaribu, SE.Ak., MM., CA., Bupati Tapanuli Selatan
H. Gus Irawan Pasaribu, SE.Ak., MM., CA., Bupati Tapanuli Selatan


 ALLAH Subhabnahu Wa Ta’ala memanggil umatnya yang beriman melalui surah Al Baqarah ayat 183 untuk melaksanakan ibadah puasa dengan target jangka panjang menjadi orang yang bertakwa.

Dalam Al Quran, konteks ibadah puasa disebutkan setidaknya sampai 13 kali dengan penjelasan paling lengkap pada Al Baqarah 183-187.
 
Hakikat puasa (shaum) yang kita jalankan dalam Ramadan ini bukan saja sekadar menahan lapar dan haus tapi memiliki tujuan spritual, moral dan sosial yang sangat dalam. Karena landasan ayat Al Quran tadi tujuannya adalah mencapai takwa.
 
Bulan puasa merupakan bulan pengendalian diri. Puasa mengajarkan kita mengendalikan keinginan dasar seperti makan, minum, dan dari segala yang membatalkan puasa.

Puasa juga mendidik kita membersihkan jiwa.
 
Ada hubungan vertikal antara manusia dengan Rabb-nya. Saat kita mengerjakan salat, maka kita sedang berhubungan vertikal dengan Allah.

Semua ibadah, apakah itu wajib maupun sunnah yang kita kerjakan, adalah hubungan vertikal dengan Allah. Tujuannya agar kita lebih dekat kepada-Nya.

Dengan kata lain, semua muara ibadah pasti menuju pada Sang Khaliq. Seberapa khusuk pun kita mengadu di sepertiga malam, seberapa banyak salat sunnah kita kerjakan sepanjang hari muaranya pasti hubungan vertikal dengan Allah.

Ibadah vertikal adalah pengakuan kita mengimani Islam. Namun semua ibadah vertikal itu kebaikannya merupakan kewajiban sebagai hamba, sebagai umat dan sebagai pribadi.

Padahal Islam juga mengajarkan sebaik-baik orang yang beramal saleh adalah yang bermanfaat untuk sesamanya. 
 
Ibadah puasa Ramadan punya dimensi lain. Benar bahwa puasa termasuk ibadah vertikal juga karena memang sesuai syariat pada rukun Islam –dan Allah mewajibkan hambanya yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa.

Namun ibadah puasa Ramadan bukan tentang hubungan dengan Allah saja. Bukan tentang komunikasi vertikal dengan Allah SWT saja.

Ibadah puasa Ramadan memberikan kita banyak kesempatan untuk menjalankan ibadah yang hubungannya horizontal.

Jika salat dan bermunajat adalah jalan vertikal menuju Allah, maka puasa adalah ibadah horizontal yang memupuk diri memunculkan empati, menumbuhkan kepekaan sosial.
 
Artinya, selain memupuk dan mengerjakan amal ibadah dan menggapai hubungan vertikal dengan Allah, sebaik-baiknya hamba tentu juga harus bermanfaat bagi manusia lainnya.
 
Ada jalan yang memberi kita kesempatan untuk lebih paripurna dalam kesalehan. Ada yang lebih baik andai kemudian kesalehan pribadi itu diiringi kesalehan sosial, yakni ketika seorang hamba sudah dekat dengan Rabb-nya dengan semua amal ibadahnya, dia juga bermanfaat untuk orang lain.
 
Ibadah yang kita kerjakan tentu perlu diiringi dengan berbagi sebanyak-banyaknya kepada manusia lain.

Maka ibadah puasa adalah bulan kita belajar, mengerti dan memahami untuk meningkatkan kesholehan sosial. Bulan menambah empati kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.
 
Saya punya analogi begini, tiap hari kita berpuasa, tiap hari kita merasakan haus dan lapar sejak imsak hingga waktu berbuka.

Sepanjang hari kita turut merasakan haus dan lapar kaum miskin. Namun semua itu pupus setelah berbuka dan kewajiban kita selesai ditunaikan hari itu juga.

Padahal ada kebaikan lebih besar jika kemudian di bulan penuh berkah ini kita menambah kepedulian sosial dengan banyak memberi semampu yang kita bisa bantu kepada masyarakat kelompok miskin dan membutuhkan.
 
Puasa mengajarkan itu. Ramadan bukan hanya dimensi ibadah, tapi juga bulan yang menambah dimensi spritual dan kemanusiaan.

Kalau saya mengistilahkan Ramadan merupakan jalan meningkatkan kesalehan sosial. Lebih peduli dengan sesama, lebih memperhatikan warga tak mampu, lebih ikhlas memberi kepada yang tak berpunya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved