Mutiara Ramadan

Peradaban: Memberi dan Menahan Diri

Memberi bukan persoalan jumlah, melainkan sikap batin yang membuat seseorang tidak menutup mata terhadap penderitaan di sekitarnya. 

Editor: Ayu Prasandi
IST/ilustration generated by AI
Peradaban: Memberi dan Menahan Diri 

Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si., Rektor Universitas Sumatera Utara

Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si., Rektor Universitas Sumatera Utara
Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si., Rektor Universitas Sumatera Utara

APA yang terjadi ketika rasa peduli mulai berkurang? Ketika ada yang kesulitan, tetapi orang-orang di sekitarnya memilih diam.

Ketika kekecewaan lebih cepat berubah menjadi kemarahan, dan perbedaan mudah menjadi permusuhan.

Keadaan seperti itu mungkin tampak kecil, namun jika dibiarkan, secara perlahan menggerogoti kehidupan bersama dan berpotensi melemahkan sebuah bangsa.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana membangun kemajuan, tetapi bagaimana menjaga agar kehidupan bersama tetap utuh.

Apa yang sesungguhnya menyelamatkan sebuah peradaban? Al-Qur’an memberikan jawaban yang sederhana sekaligus mendasar.

Surah Ali Imran ayat 134 disebutkan: “yunfiquna fis-sarra’i wad-darra’, wal-kadziminal ghaizha, wal-‘afina ‘anin nas.” Mereka yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan sesama manusia.

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kesalehan pribadi, tetapi tentang karakter yang menjaga tatanan sosial. Tiga karakter ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan fondasi sosial.

Pertama, yunfiquna fis-sarra’i wad-darra’, mereka yang gemar memberi dalam keadaan lapang maupun sempit.

Memberi bukan persoalan jumlah, melainkan sikap batin yang membuat seseorang tidak menutup mata terhadap penderitaan di sekitarnya. 

Jangan sampai di suatu lingkungan masih ada keluarga yang kesulitan makan, tetangga yang kelaparan, atau masyarakat yang terabaikan. Al-Qur’an menempatkan kepedulian sebagai karakter, bukan sebagai hasil dari kelimpahan.

Peradaban yang sehat bukanlah peradaban tanpa kesenjangan, tetapi peradaban yang warganya tidak membiarkan sesamanya terpuruk sendirian. Stabilitas sosial akan selalu terjaga jika kepedulian sederhana dijadikan sebagai sikap bersama.

Kemajuan peradaban tidak hanya diuji oleh ketimpangan ekonomi, tetapi juga diuji oleh kematangan emosional.

Kehidupan bersama selalu diwarnai perbedaan pandangan, persaingan kepentingan, dan kekecewaan.

Pesan kedua ini menjadi sangat relevan: wal-kadziminal ghaizha, mereka yang mampu menahan amarah.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved