Mutiara Ramadan
Menjaga Lisan
Ramadan mengajarkan banyak hal, dan satu di antaranya adalah bagaimana kita bisa menjadikan bulan ini sebagai madrasah
Dr. H. Abdul Hafiz Harahap, M.I.Kom, Ketua PD Al Washliyah Kota Medan
Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. Ramadan tidak hanya mengajarkan kepada kita tentang bagaimana menahan lapar dan dahaga.
Ramadan mengajarkan banyak hal, dan satu di antaranya adalah bagaimana kita bisa menjadikan bulan ini sebagai madrasah untuk kita belajar mengunci dan menjaga lisan.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa pada satu waktu terdapat dua perempuan yang sedang berpuasa, yang sedang dalam keadaan kehausan. Kemudian ada sahabat datang kepada Rasulullah, mengisahkan, memberitahukan bahwa ada dua perempuan sedang kehausan. Atas kisah ini, Rasulullah ternyata diam saja.
Rasulullah terkesan tak menggubris kisah yang disampaikan sahabat tersebut. Lalu, untuk kali kedua sahabat itu menyampaikan kisah serupa, menambahkannya dengan penekanan betapa kedua perempuan itu nyaris mati lantaran begitu kehausannya.
Rasullulah bertanya apa gerangan yang membuat mereka begitu hausnya, dan sahabat mengatakan keduanya sedang berpuasa. Rasulullah kemudian meminta kepada sahabat untuk membawa kedua perempuan it uke kehadapannya.
Segera setelah kedua perempuan berdiri di hadapannya, Rasulullah menyodorkan kepada mereka satu bejana besar dan memerintahkan kepada keduanya untuk memuntahkan isi perut mereka.
Apa yang terjadi kemudian? Kedua perempuan itu memuntahkan darah, nanah dan potongan-potongan daging.
Kemudian Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam, melontar tanya,” kalian tahu kenapa? Sesungguhnya kalian sahur dengan sesuatu yang halal, tapi kemudian berbuka dengan sesuatu yang haram’.
Bukan makanan []haram] yang mereka santap, melainkan lebih kepada perbuatan. Mereka menggunjingkan saudara-saudaranya sendiri.
Tribunners di mana pun berada. Dari kisah ini dapat kita temukan pelajaran bahwa orang yang berpuasa tidak hanya menahan lapar dan haus belaka, tetapi juga bagaimana mereka mampu menahan lisan, mampu menahan bibir mereka, untuk tidak melakukan gunjingan-gunjingan kepada saudara-saudaranya, kepada rekan-rekannya, khususnya sesama umat Islam.
Hal ini juga ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Hujurat ayat 12, di mana Allah melarang kepada orang-orang yang beriman untuk berprasangka buruk kepada saudara-saudaranya Dalam surat ini Allah juga melarang orang-orang yang beriman untuk menggunjingkan saudara-saudaranya, melarang kepada orang-orang yang beriman untuk mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya.
Karena ini semua, melakukan qibah, sama halnya dengan memakan daging bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Oleh sebab itu, di Ramadan yang penuh berkah dan maghfirah ini, marilah kita kembali kepada ajaran-ajaran Islam, kepada perintah-perintah Allah.
Mari kita jauhi perilaku bergunjing. Kita jauhi sifat-sifat kita yang selama ini selalu berqibah, selalu membicarakan keburukan-keburukan orang lain dengan iri dengki. Jadikan Ramadan tahun ini lebih dari sekadar menahan rasa lapar dan dahaga.
Apabila kita mampu menjaga lisan kita, menjaga bibir kita, menjaga ucapan dan menjaga hati kita hingga akhir Ramadan nanti dan bulan-bulan seterusnya, In shaa Allah kita digolongkan oleh Allah SWT sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(*)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Ilustrasi-Menjaga-Lisan.jpg)