Mutiara Ramadan

Imunitas Batin Sebagai Energi Keimanan

Orang suntuk biasanya suka membuat orang lain suntuk juga. Kelihatan banyak masalah, padahal masalahnya tak sebanyak yang dia bayangkan.

Editor: Ayu Prasandi
IST/ilustration generated by AI
Imunitas Batin Sebagai Energi Keimanan 

Prof. Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, M.A, Guru Besar UIN Sumut
 

Prof. Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, M.A, Guru Besar UIN Sumut
Prof. Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, M.A, Guru Besar UIN Sumut (IST)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tribunners  yang  dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala. Di bulan Ramadan ini, jangan suntuk sebab ini penyakit hati yang mematikan.

Orang suntuk biasanya suka membuat orang lain suntuk juga. Kelihatan banyak masalah, padahal masalahnya tak sebanyak yang dia bayangkan.
 
Hati-hati, ya. Hidup kita ini, kalau tidak kita yang mengatur, maka tidak ada yang bisa mengatur. Manusia itu lebih paham dengan dirinya dibanding orang lain kepada dirinya.
 
Ini ada dalam Al-Quran. Nabi Musa diperintahkan menghadapi Fir’aun. Kalau bicara tentang rasionalitas, tidak mungkin Nabi Musa bisa menghadapi Fir'aun.

Kenapa? Fir’aun raja yang sangat berkuasa. Pengawalnya berlapis-lapis.  Sementara Nabi Musa hanya seorang penggembala.
 
Harusnya, tatkala diperintahkan Allah menghadapi Fir’an, secara rasional, Nabi Musa itu dalam doanya memintanya kepada Allah supaya dibuat jadi tangguh, tidak bisa dilukai, tidak bisa dibunuh.

Harusnya demikian. Namun Nabi Musa tidak memintanya. Nabi Musa justru meminta untuk diringankan hatinya, diteguhkan keyakinannya agar tidak ragu, tidak takut.
 
Ini salah satu masalah terbesar kita. Rasa ragu, khawatir bahkan takut berlebihan terhadao sesuatu yang belum terjadi. Maka Nabi Musa, atas perintah Allah untuk menghadapi Fir’aun, tahu betul apa yang ia butuhkan.

Allah memberikan persoalan-persoalan dalam perjalanan hidup manusia dan Allah juga memberikan kuasa kepada manusia untuk menerjemahkan langkah apa yang diambilnya untuk menyelesaikan masalah-masalah itu.
 
Pemirsa tribuners yang dirahmati Allah. Kekuatan batin seperti ini penting sebagai energi selama bulan Ramadan.

Kenapa bisa begitu? Karena memang kita ini kadang-kadang dihadapkan pada dua keadaan yang berjalan seperti berseiringan. Di bulan Ramadan, misalnya, kita butuh penguatan keimanan terhadap puasanya; ibadah secara ritual, tapi di lain sisi juga butuh energi untuk dunianya.

Sebutlah persiapan untuk berbuka puasa atau bahkan persiapan hari raya dan seterusnya. Ini fitrah saja, sebenarnya, dan oleh sebab itu keduanya seharusnya tidak berbenturan –walau mestinya kita juga harus pandai menimbang-nimbang untuk lebih memprioritaskan sesuatu yang primer dalam tujuan-tujuan ibadah selama Ramadan.
 
Tribunners yang dirahmati Allah. Saya mau ajak kita merubah attitude dan etik. Dari Al-Baqarah 268, kita diberitahu salah satu godaan terbesar bagi kita adalah syaiton (setan/iblis).

Disebutkan, ‘Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.’
 
Jadi Allah menerjemahkan tupoksinya syaiton yang akan terus mengganggu manusia, agar manusia takut jadi orang miskin, jadi orang fakir. Kenapa? Karena yang dia rusak itu adalah filantropi; bagaimana caranya supaya manusia jadi tidak suka bersedekah, tidak suka berbagi, tidak suka memudahkan orang lain.

Sebab memang bersedekah itu, berbagi itu, menjadi semacam –azas hukum– lex specialis: amal yang mudah dicita-citakan tapi tidak mudah direalisasikan Makanya, ada idiom, sekiranya ingin bersedekah, ingin berbagi, segera dilakukan. Jangan ditunda-tunda.

Ada niat hari itu segera lakukan di hari itu, sebab jika tidak, akan datang godaan syaiton, hingga akan berpeluang untuk berkurang jumlahnya, berkurang ritmenya, bahkan tidak jadi.
 
Syaiton juga kerap membangun logika-logika kalkulatif dalam pikiran manusia. Ini sangat berbahaya.

Misalnya, ini narasa yang umum mengemuka di tengah masyarakat kita. Untuk apa berbuat baik, toh juga feedback-nya tidak jelas Aku tiap hari ke masjid, salat berjamaah di masjid, hidupku begini-begini saja. Kadang-kadang sendalku malah hilang. Itu tetangga, tidak pernah ke masjid, hidupnya, kok, asyik sekali.
 
Hati-hati! Inilah mujahadah-nya seorang mukmin. Bila seorang mukmin pandai bertahan, atau bahasa Islamnya, istiqomah, manusia seperti ini akan masuk ke dalam golongan yang tidak disukai oleh syaiton.

Keistiqomahan mahal harganya. Istiqomah akan mengarahkan manusia menjadi mukhlasin, orang yang sudah ditolong Allah menjadi orang ikhlas, orang yang berdamai dengan kebaikannya. Allah membuat dia hanya fokus pada kebaikan-kebaikannya karena Allah, bukan karena mengharapkan feedback.
 
Tribunners. Jadi begitulah, imunitas batiniah akan terpelihara apabila kebaikan-kebaikan yang diperintah oleh agama, bisa diamalkan dengan sempurna.

Kadang-kadang kita terlalu fokus menjaga imunitas fisik, supaya sehat, supaya tidak sakit, tapi kita lupa bahwa imunitas fisik ini tidak akan pernah sempurna rnerginya jika tidak ditopang imunitas batiniah.
 
Maka selama bulan Ramadan ini, akselerasi yang kita bangun adalah akselerasi yang tingkat energi usahanya ingin terus mengikuti perintah Allah.

Pandai-pandailah menikmati apapun kebaikan yang ada di diri kita, dan pandai-pandai pulalah menghindari apa pun kejahatan yang berpotensi ada di diri kita.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(*)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved