Ramadan 2026
Tinggalkan Profesi Guru, Ini Cerita Ismail Sigalingging Jalani Puasa sebagai Barista di Arab Saudi
Bekerja jauh dari kampung halaman bukan perkara mudah, terlebih ketika harus menjalani Ramadan dan Lebaran tanpa keluarga.
Penulis: Istiqomah Kaloko | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com - Bekerja jauh dari kampung halaman bukan perkara mudah, terlebih ketika harus menjalani Ramadan dan Lebaran tanpa keluarga.
Itulah yang dirasakan Ismail Sigalingging, 26 tahun, pria asal Subulussalam, Aceh, yang kini menetap di Najran, Arab Saudi.
Sudah satu tahun empat bulan ia merantau dan bekerja sebagai barista di 1K Coffee, sebuah kedai kopi di kota tersebut.
Mail, begitu ia biasa disapa, merupakan lulusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samudra.
Sebelum berangkat ke Arab Saudi pada Oktober 2024, ia sempat mengajar selama lebih dari dua tahun, baik sebagai guru sejarah maupun guru bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare.
“Terdengar absurd memang, lulusan pendidikan sejarah mengajar bahasa Inggris. Tapi faktanya saya lebih menikmati mengajar bahasa Inggris,” ujarnya.
Namun realitas ekonomi menjadi pertimbangan besar. Menurutnya, menjadi guru di Indonesia secara finansial cukup berat, apalagi sebagai laki-laki yang merasa memiliki tanggung jawab lebih, termasuk membantu orang tua dan dua adik yang masih kuliah.
Keputusan bekerja di luar negeri menjadi langkah realistis untuk meringankan beban keluarga.
Mengapa jadi barista? Jawabannya sederhana: ia anak petani kopi Sidikalang yang tentunya sudah akrab dengan biji-biji kopi.
Ramadan pertamanya di Arab Saudi memberi pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan di Indonesia. Di Najran, khususnya pada sektor food and beverage, jam kerja berubah total. Selama Ramadan, kafe tempatnya bekerja hanya buka pada malam hari.
“Seluruh pekerjaan saya dimulai setelah berbuka puasa hingga sahur. Setelah sahur sampai menjelang berbuka, waktunya istirahat,” jelasnya.
Shift malam penuh itu membuatnya sulit mengikuti salat tarawih berjamaah atau membaca Al-Qur’an bersama seperti kebiasaannya di Indonesia.
Ia mengakui, suasana Ramadan di Arab Saudi memang berbeda, tetapi bukan berarti membuat ia jadi sosok yang lebih religius.
“Kalau dibilang lebih religius, tidak juga. Karena bekerja, saya tidak melaksanakan tarawih berjamaah seperti di Indonesia,” ungkapnya jujur.
Di siang hari, hampir semua toko kelontong, restoran, dan warung makan tutup. Aktivitas baru menggeliat menjelang waktu berbuka. Tidak ada tradisi membangunkan sahur keliling seperti di kampung halamannya.
| Selama Ramadan, Polrestabes Medan Catat Angka Kriminal Jalanan Turun 14 Persen |
|
|---|
| Sejarah Masjid Al-Ghaudiyah Medan yang Namanya Diambil dari Perkampungan di Negara Iran |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah 28 Ramadan 2026 Kota Medan: Waktu Sahur dan Buka Puasa 18 Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Sidang Isbat Menetapkan 1 Syawal Idul Fitri 1447 H, Disiarkan Langsung Kementerian Agama |
|
|---|
| Kisah Hidup Eko Sopianto, Tobat dari Dunia Hitam dan Kini Miliki Sekolah Gratis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Ismail-Sigalingging-WNI-yang-tinggalkan-profesi-guru-di-Indonesia.jpg)