Ramadan 2026

Tradisi Tadarus Melingkar Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Cara Santri Khatam Al-Quran di Ramadan

Suasana khusyuk terasa di lingkungan Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudlatul Hasanah Medan selama bulan suci Ramadan.

TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
KEGIATAN RAMADAN - Ribuan santri Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan mengikuti kegiatan tadarus Al-Quran dengan formasi melingkar selama bulan Ramadan, Sabtu (21/2/2026). Tradisi tahunan ini diikuti 1.700 santri putra dan 1.700 santri putri sebagai bagian dari pembinaan spiritual di lingkungan pesantren. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Suasana khusyuk terasa di lingkungan Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudlatul Hasanah Medan selama bulan suci Ramadan.

Sejak dini hari hingga menjelang berbuka puasa, ribuan santri menjalani rangkaian ibadah dan kegiatan belajar yang tersusun rapi, salah satunya tradisi tadarus Al-Quran dengan formasi melingkar yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.

Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar bersahut-sahutan dari berbagai sudut pesantren usai salat Zuhur berjamaah. Para santri duduk membentuk lingkaran kecil, masing-masing memegang mushaf, membaca secara bergantian sambil disimak teman satu kelompok.

Tahun ini, kegiatan Ramadan di pesantren tersebut diikuti sekitar 3.400 santri, terdiri dari 1.700 santri putra dan 1.700 santri putri yang menetap di lingkungan pesantren.

Ustaz bagian konseling putra Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Azmi Rauf Hasibuan, mengatakan aktivitas Ramadan berjalan sebagaimana rutinitas pesantren, namun dengan penyesuaian agar santri tetap fokus beribadah selama berpuasa.

“Dimulai dari sahur bersama, lalu salat Subuh berjamaah dan tetap masuk kelas seperti biasa. Hanya durasi belajar yang diperpendek agar anak-anak tetap menjaga stamina selama puasa,” ujarnya, saat diwawancarai, Sabtu (21/2/2026).

Setelah kegiatan belajar pagi, para santri melaksanakan salat Zuhur berjamaah yang dilanjutkan dengan tadarus Al-Quran sesuai kelompok masing-masing.

Sementara menjelang waktu berbuka, santri diberikan waktu lebih fleksibel untuk beristirahat, berolahraga ringan, atau mempersiapkan kebutuhan berbuka puasa bersama.

Salah satu ciri khas Ramadan di pesantren ini adalah sistem tadarus berkelompok dalam formasi lingkaran kecil. Setiap kelompok terdiri dari lima hingga tujuh santri dari berbagai tingkatan kelas sehingga suasana belajar menjadi heterogen.

Menurut Azmi, metode tersebut dipilih karena dinilai efektif membangun interaksi belajar antarsantri.

“Anak-anak membaca Al-Quran satu per satu, saling mendengarkan bacaan kawannya dan langsung memperbaiki jika ada kesalahan. Dalam kelompok juga biasanya ada santri penghafal Al-Quran yang membantu teman-temannya,” jelasnya.

Jumlah bacaan setiap santri tidak ditentukan secara kaku. Sebagian santri memilih mengejar target khatam lebih cepat, sementara lainnya fokus memperbaiki tajwid atau menyimak hafalan Al-Quran.

Metode tadarus melingkar ini telah diterapkan lebih dari sepuluh tahun dan terus dipertahankan hingga sekarang.

Pihak pesantren menilai pendekatan tersebut mampu menumbuhkan kebersamaan sekaligus meningkatkan kualitas bacaan Al-Quran para santri.

“Metode lama yang baik tetap kami pertahankan. Tapi kalau ada metode baru yang lebih baik tentu akan kami ikuti,” katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved