Ramadan 2026
Cerita Glenn Bakri, Atlet Panjat Tebing Sumut Jaga Kebugaran di Bulan Ramadan, Fokus Latihan Sore
Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan nuansa yang berbeda bagi setiap umat Muslim. Bagi Glenn Bakri, atlet panjat tebing andalan Sumatera Utara
Penulis: Aprianto Tambunan | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan nuansa yang berbeda bagi setiap umat Muslim. Bagi Glenn Bakri, atlet panjat tebing andalan Sumatera Utara, Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk menata ulang ritme kehidupan—menyelaraskan ibadah, kedekatan dengan keluarga, serta tanggung jawab sebagai atlet prestasi.
Nama Glenn Bakri semakin dikenal publik setelah menjadi bagian dari tim panjat tebing Sumut yang menyumbangkan medali emas pada ajang Pekan Olahraga Nasional XXI Aceh-Sumut. Ia tampil di nomor speed relay putra beregu bersama BMR Inzghi dan Rian Gordon, mengukir prestasi membanggakan di panggung olahraga nasional dan menjadi salah satu penentu keberhasilan kontingen tuan rumah bersama tersebut.
Usai euforia PON yang penuh tekanan dan sorak sorai kemenangan, Glenn kini kembali menjalani Program Pembinaan Intensif (PPI) yang digagas KONI Sumut. Program ini menjadi tahap awal dalam membangun kembali fondasi performa, memperbaiki detail teknik, serta mengembalikan kondisi fisik setelah sempat melewati masa transisi tanpa target kejuaraan besar.
Memasuki Ramadan, Glenn mengakui hari pertama puasa masih menjadi masa adaptasi. Ia menjelaskan bahwa timnya memang masih diberi waktu libur pada awal puasa, namun bukan berarti tanpa aktivitas sama sekali.
“Kalau misalnya dari saya sebagai atlet panjat tebing mungkin di hari pertama ini kami masih libur tapi mungkin ada latihan mandiri lah menjaga kondisi fisik kayak push up, pull up, sit up, squat itu dilakukan untuk menjaga kebugaran saja,” ujar Glenn kepada Tribun Medan.
Latihan ringan tersebut, menurutnya, penting untuk menjaga kebugaran dasar agar tubuh tidak terlalu kaget saat kembali menjalani sesi reguler. Ia dan rekan-rekannya berupaya mempertahankan kekuatan otot inti dan daya tahan tubuh, meski dalam intensitas minimal.
Sementara,pada hari kedua dan seterusnya, program latihan kembali berjalan, namun dengan penyesuaian. Glenn menuturkan bahwa skema latihan selama Ramadan difokuskan pada satu sesi saja.
“Di hari kedua nanti dan seterusnya sudah mulai latihan seperti biasa mungkin intensitasnya yang akan diturunkan. Biasanya kan di luar bulan puasa ada latihan pagi dan sore, tapi untuk bulan puasa ini kami fokusnya itu di latihan sore,” jelasnya.
Keputusan memusatkan latihan di sore hari diambil dengan mempertimbangkan kondisi energi atlet yang berpuasa. Selain itu, belum adanya agenda kejuaraan besar dalam waktu dekat membuat tim pelatih memilih pendekatan yang lebih konservatif, dengan penekanan pada pematangan teknik dibandingkan peningkatan fisik secara intens.
“Jadi mungkin intensitasnya rendah dan jumlah sesinya pun mungkin cuma Senin sampai Sabtu, tapi teknik semua, nggak ada fisik,” tambahnya.
Bagi Glenn, Ramadan bukan hanya soal penyesuaian jadwal latihan, tetapi juga momentum memperbaiki pola hidup. Ia mengakui bahwa dalam periode tanpa target pertandingan setelah PON, pola makan dan aktivitas di luar latihan sempat kurang terkontrol. Ramadan menjadi kesempatan untuk kembali membangun disiplin, terutama dalam menjaga berat badan dan komposisi tubuh.
“Kalau semisalnya menjalani puasa hari pertama ini sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita juga menunggu kan bulan ini karena satu sisi di bulan puasa ini kan kita juga secara tidak langsung bisa menurunkan berat badan,” katanya.
Ia menilai asupan makanan yang lebih teratur saat sahur dan berbuka membantu mengontrol berat badan, terutama ketika belum memasuki fase kompetisi. Meski demikian, adaptasi tetap terasa di awal-awal puasa.
“Tapi mungkin di hari-hari pertama ini agak terasa lah untuk adaptasinya,” ungkap Glenn.
Ia juga membandingkan Ramadan tahun ini dengan pengalaman tahun sebelumnya. Pada 2025, latihan tim cenderung tidak rutin karena tidak ada target kompetisi setelah PON. Kondisi tersebut membuat beban latihan selama bulan puasa relatif lebih ringan.
“Puasa tahun 2025 itu bisa dibilang puasa pertama kami yang latihannya tidak rutin. Karena setelah PON tidak ada lagi target dan pertandingannya juga sudah selesai, jadi mungkin puasa tahun lalu tidak terlalu berat karena latihan di bulan puasa itu mungkin tiga kali seminggu,” jelasnya.
| Selama Ramadan, Polrestabes Medan Catat Angka Kriminal Jalanan Turun 14 Persen |
|
|---|
| Sejarah Masjid Al-Ghaudiyah Medan yang Namanya Diambil dari Perkampungan di Negara Iran |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah 28 Ramadan 2026 Kota Medan: Waktu Sahur dan Buka Puasa 18 Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Sidang Isbat Menetapkan 1 Syawal Idul Fitri 1447 H, Disiarkan Langsung Kementerian Agama |
|
|---|
| Kisah Hidup Eko Sopianto, Tobat dari Dunia Hitam dan Kini Miliki Sekolah Gratis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Glenn-Bakri-saat-meraih-medali-di-Kejuarnas-Panjat-Tebing-di-Tanggerang_11.jpg)