Berita Viral
SEJARAH Lahir RSUD Tarutung: Pelayanan RMG di Tanah Batak Atasi Musibah Disentri dan Kolera
Perseteruan antara HKBP dan Pemkab Tapanuli Utara terkait kepemilikan sah RSUD Tarutung beum menemukan kesepakatan.
Penulis: Tommy Simatupang | Editor: Tommy Simatupang
TRIBUN-MEDAN.com - Perseteruan antara HKBP dan Pemkab Tapanuli Utara terkait kepemilikan sah RSUD Tarutung beum menemukan kesepakatan.
Perseteruan ini akan berujung pada pengadilan. Ephorus Victor Tinambunan menegaskan bahwa legalitas kepemilikan RSUD Tarutung ada di laci HKBP, sedangkan Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat atau akrab disapa JTP Hutabarat mengajak HKBP untuk melakukan pembuktian di pengadilan.
Perseteruan ini bermuara pada sejarah rumah sakit itu bisa di tagan Pemkab Taput. Pemkab Taput mengakui bahwa RSUD Tarutung adalah pemberian dari RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) sebuah lembaga zending (penginjilan) dari Jerman yang mengutus para misionaris untuk memberitakan Injil di Tanah Batak, Sumatera Utara, dan menjadi cikal bakal berdirinya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).
Namum Pemkab memiliki argumen bahwa RMG telah memberikan secara hibah, bukan pinjam pakai. Konteks ini yang menjadi perdebatan sekarang. HKBP yang mulai menata sejumlah asetnya menegaskan bahwa RMG hanya memberikan hak mengelola bukan untuk kepemilikan. Sehingga, HKBP memiliki hak menagih aset yang sudah dimiliki RMG di Tanah Batak. Padahal di balik perdebatan itu, ada pertanyaan yang lebih jauh lagi. Tanah yang dikuasai RMG (RSUD Tarutung) apakah sebelumnya milik masyarakat? Sebab, berdasarkan tanah yang didirikan RMG bukanlah kosong, tetapi bertuan. Namun ini tidak diurai dalam berita ini.
Pada artikel ini akan memberikan sedikit sejarah dari pembentukan RSUD Tarutung. Artikel ini berdasarkan kutipan akun FB Dian Purba yang melansir dari sejumlah referensi, salah satunya, dari buku Jubil Raplan Hutauruk. (2011). Lahir, Berakar, dan Bertumbuh di dalam Kristus: Sejarah 150 Tahun HKBP . Tarutung: Kantor Pusat HKBP.
Sejarah Lahir RSUD Tarutung
Pada 2 Juni 1900, RMG mendirikan rumah sakit pertama di Silindung di Pearaja Tapanuli Utara dengan dua dokter yakni dr. Julius Schreiber dan dr. Johannes Winkler.
Saat disentri menggila tahun 1909, rumah sakit ini penuh dengan pasien dari Tapanuli Raya. Tahun 1910, ada 61.108 pasien disentri yang berobat di rumah sakit ini.
Demikian juga saat kolera melanda Tanah Batak, dokter dari Pearaja mendatangi rumah penduduk dan memberi obat.
Tahun 1928, rumah sakit Pearaja dipindah ke Tarutung karena Pearaja tidak cukup lagi menampung pasien.
Pada tahun yang sama itu pula berdiri rumah sakit kedua yang dibangun RMG di Tanah Batak, RSU Balige.
Tahun 1931, jumlah pasien yang berobat di Pearaja dan Balige sebanyak 78.700 orang, lebih dari 1.000 menjalani operasi dan 600 persalinan.
Pada 1930-an, terdapat penambahan jumlah orang Kristen sekitar 5.000 hingga 10.000 setiap tahun.
Tahun 1952, atas seizin HKBP, rumah sakit HKBP Tarutung dikelola oleh pemerintah.
Sumber: Dikutip dari akun FB Dian Purba.
| Novia Sihotang Calon Manajer Kopdes Sempat Telepon Keluarga Sebelum Meninggal Saat Latihan Militer |
|
|---|
| PELAKU Perampasan Ponsel Sopir Truk di Belawan Ditangkap, Pelaku Gunakan Palu Lukai Korban |
|
|---|
| DETIK-DETIK Warga di Sergai Diseruduk Babi Hutan Ngamuk Masuk Rumah, Buka Pintu karena Penasaran |
|
|---|
| Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM Santai Usai Dilaporkan Polisi karena Dinilai Hina Prabowo |
|
|---|
| UPDATE Kasus Menantu Bunuh Mertua, Jaksa Tunggu Pelimpahan Berkas, Pelaku Terancam Hukuman Mati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/PerseteruanHKBPdanPemkabsdf.jpg)